Banyak Pelecehan di Medsos, Bos Twitter: Ini Kegagalan Besar

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jack Dorsey. REUTERS

    Jack Dorsey. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Twitter Inc Jack Dorsey, mengakui, perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley, termasuk Twitter, belum melakukan upaya yang cukup untuk melindungi korban pelecehan daring.

    Baca juga: Mau Nyaman Menggunakan Media Sosial? Pahami Dulu 7 Kuncinya

    Dorsey juga menyebut hal itu sebagai "kegagalan besar." Dalam wawancara melalui Twitter dengan Kara Swisher, Dorsey berkicau bahwa dia akan memberi perusahaannya nilai "C" sebagai tanggapan atas pertanyaan Swisher terkait "tanggung jawab teknologi".

    Swisher adalah salah satu pendiri laman berita teknologi Recode.

    "Kami membuat kemajuan, tapi tidak terfokus, dan masih belum cukup," tulisnya sebagai tanggapan atas pertanyaan Swisher, Selasa, 13 Februari 2018.

    "Mengubah pengalaman masih belum bermakna. Dan kami masih menempatkan sebagian besar beban kepada para korban pelecehan (itu kesalahan besar)," tulisnya.

    Twitter dan jejaring media sosial Facebook Inc. telah menuai kritikan atas pesan-pesan pelecehan, akun palsu, dan pemberitaan yang tidak akurat di layanan mereka.

    Twitter telah melakukan investasi besar untuk memperbaiki hal yang Dorsey gambarkan sebagai "kesehatan bersama" Twitter.

    Pada Selasa, Dorsey mengatakan bahwa ia tidak menyukai cara Twitter, yang cenderung memicu kemarahan, menghadirkan pola pikir jangka pendek, menjadi ruang yang menggemakan, dan memotong-motong pembicaraan. Selain itu, menurut Dorsey, kurangnya keragaman di Twitter Inc. juga tidak menyelesaikan permasalahan itu.

    Menurut dia, upaya Twitter untuk bekerja melawan "otomatisasi dan kampanye terkoordinasi", bekerja sama dengan sejumlah lembaga pemerintah membuat perusahaan itu berada di posisi yang lebih baik dalam memerangi ancaman kesalahan informasi dalam pemilu Presiden AS 2020 mendatang.

    Sejumlah badan intelijen AS sebelumnya melaporkan bahwa Rusia "menggunakan media sosial untuk membuat bingung para pemilih". Moskow, di sisi lain, membantah tuduhan itu.

    Berita lain seputar Twitter dan medsos bisa Anda simak di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.