Di Estonia, 44 Persen Pemilih di Pemilu Memilih dengan e-Voting

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi e-Voting (trulioo.com)

    Ilustrasi e-Voting (trulioo.com)

    TEMPO.CO, Jakarta- Estonia tidak sering dijadikan berita utama media internasional, tapi pemilihan parlemen negara kecil di Eropa utara itu pada Maret 2019 sudah menggunakan sistem elektronik atau e-voting.

    Menariknya, menurut laman timeofindia baru-baru ini, separuh lebih penduduk Estonia telah menggunakan e-voting.

    E-Voting,  BPPT: Ini Hitungan Anggaran yang Bisa Dihemat

    Dalam pemilihan parlemen Estonia, 44 persen pemilih memberikan suara mereka secara online. Partai yang menang, Partai Reformasi mengambil 40 persen suara elektronik dan hampir 30 persen total suara.

    Sistem online juga dapat diakses secara luas di semua kelompok umur. Sebanyak 25 persen suara elektronik diberikan oleh orang yang berusia di atas 55 tahun, sementara 20 persen diberikan kepada orang yang berusia antara 45-54 tahun.

    Warga Estonia dapat memberikan suara online kapan saja dalam tujuh hari sebelum hari pemilihan. Voting online tidak diperbolehkan pada hari pemilihan. Pemilih membutuhkan komputer dengan koneksi internet dan kartu ID nasional atau ID seluler khusus, untuk melakukan pemilihan.

    Caranya adalah, dari situs web pemilihan nasional, pemilih harus mengunduh aplikasi pemilihan. Kartu ID harus dimasukkan ke dalam pembaca kartu sehingga kelayakan dan  pemilih dapat diverifikasi. Pemilih kemudian harus mengisi surat suara digital, tanda tangani dan kirim.

    Untuk memastikan proses pemilihan bebas gangguan, Estonia mengizinkan pemilih menggunakan telepon mereka untuk memeriksa apakah suara mereka dicatat. Setiap suara dienkripsi dan cap waktu sebelum dikirim ke server pemilihan. Pemilih dapat menggunakan sistem online untuk mengubah pilihan mereka hingga hari pemilihan.

    Selain itu, Swiss juga dikabarkan akan menggunakan e-voting untuk pemungutan suara nasional pada 19 Mei 2019 nanti. Namun, menurut laman swisspost, kabarnya Swiss masih memiliki kendala untuk menerapkan sistem e-voting secara keseluruhan.

    Cara e-voting yang digunakan Estonia dan Swiss berbeda dengan pemilu yang berlangsung di Indonesia. Hari ini, Rabu, 17 April 2019 masyarakat Indonesia berbondong-bondong menuju ke tempat pemungutan suara untuk memilih calon presiden dan wakilnya, juga pemilihan calon legislator.  

    TIMESOFINDIA | SWISSPOST


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Depresi Atas Gagal Nyaleg

    Dalam pemilu 2019, menang atau kalah adalah hal yang lumrah. Tetapi, banyak caleg yang sekarang mengalami depresi karena kegagalannya.