Obat Malaria Diberikan ke Pasien Virus Corona, Ini Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi virus Corona. REUTERS/Dado Ruvic

    Ilustrasi virus Corona. REUTERS/Dado Ruvic

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengobatan yang dilakukan terhadap para pasien infeksi virus corona COVID-19 menggunakan di antaranya obat antimalaria Chloroquine phosphate. Dalam uji di laboratorium terhadap sel-sel yang terinfeksi virus asal Wuhan, Cina, itu, antivirus di obat antimalaria termasuk yang paling efektif.

    Menurut ahli mikrobiologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra, Chloroquine phosphate biasa digunakan untuk mengobati malaria, penyakit yang disebabkan oleh protozoa dan menular ke manusia lewat gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi.

    Tapi chloroquine juga dipelajari untuk pengobatan HIV. Itu sebabnya tidak aneh obat yang sama juga digunakan untuk pasien virus corona karena keduanya disebabkan virus RNA. Ini juga sama seperti virus corona dan juga beberapa virus mematikan lainnya seperti SARS, Ebola, Rabies, dan Hepatitis C. 

    "Secara umum bisa dianalogikan memang bisa digunakan. Karena dari penelitian sebelumnya zat itu bisa digunakan untuk anti-HIV di mana HIV memang disebabkan virus RNA, sama seperti corona," kata Sugiyono ketika dihubungi dari Jakarta, Sabtu 22 Februari 2020.

    Pemerintah Cina diwartakan sedang menguji penggunaan obat antimalaria tersebut untuk pasien COVID-19 di lebih dari 10 rumah sakit di Beijing serta rumah sakit di Provinsi Guangdong dan Provinsi Hunan. Hasilnya dinyatakan efektif.

    Menurut Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional Cina yang berada di bawah Kementerian Sains dan Teknologi, Chloroquine phosphate memiliki efek penyembuhan tertentu pada pasien yang terserang penyakit pernapasan akibat infeksi virus corona baru.

    Virus corona baru mewabah sejak akhir 2019. Menurut data WHO, hingga 21 Februari 2020, COVID-19 telah menginfeksi 76.769 orang di 26 negara dengan kasus terbanyak di daratan Cina dengan 75.569 kasus. Virus itu telah menyebabkan 2.239 orang di Cina dan delapan orang di luar Cina meninggal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.