Virus Corona Rusak Otak dan Sistem Saraf Sepertiga Pasien Wuhan

Reporter

Editor

Erwin Prima

Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah studi pada pasien dengan COVID-19 di kota Wuhan, Cina, telah menemukan bahwa virus corona merusak otak dan sistem saraf setengah dari pasien yang sakit parah.

Dampak seperti itu - yang muncul pada sepertiga pasien secara keseluruhan - menyebabkan gejala termasuk sakit kepala, tersandung, bicara tidak jelas, nyeri saraf dan kejang. Temuan lengkap dari penelitian ini diterbitkan dalam jurnal JAMA Neurology.

Studi ini - yang pertama kali mengkarakterisasi masalah otak yang terkait dengan infeksi virus corona - menunjukkan bahwa gejala-gejala ini dapat menunjukkan pasien dengan risiko yang lebih tinggi, sebagaimana dilaporkan Daily Mail, 10 April 2020.

Dalam studi tersebut, ahli saraf Bo Hu dari Universitas Sains dan Teknologi Huazhong dan rekannya menganalisis 214 pasien COVID-19 dari Wuhan, Cina, kota tempat wabah itu muncul, antara pertengahan Januari dan pertengahan Februari.

Semua pasien dirawat di salah satu dari tiga pusat perawatan khusus di Rumah Sakit Union universitas itu.

Para ahli memilah gejala neurologis ke dalam satu dari tiga kategori, yang pertama adalah manifestasi sistem saraf pusat - termasuk pusing, sakit kepala, gangguan kesadaran, penyakit serebrovaskular akut, ataksia dan kejang.

Kategori lainnya adalah manifestasi sistem saraf tepi (gangguan rasa, gangguan bau, gangguan penglihatan dan nyeri saraf) dan manifestasi cedera otot rangka.

"Secara keseluruhan, 78 pasien (36,4 persen) memiliki manifestasi neurologis," tulis para peneliti dalam makalah mereka.

"Dibandingkan dengan pasien dengan infeksi non-parah, pasien dengan infeksi parah adalah lebih tua, memiliki lebih banyak gangguan mendasar, terutama hipertensi, dan menunjukkan lebih sedikit gejala khas COVID-19, seperti demam dan batuk," tambah mereka.

"Pasien dengan infeksi yang lebih parah memiliki manifestasi neurologis, seperti penyakit serebrovaskular akut, penurunan kesadaran dan cedera otot rangka."

"Selama periode epidemi COVID-19, ketika melihat pasien dengan manifestasi neurologis, dokter harus mencurigai infeksi sindroma pernapasan akut virus corona 2 sebagai diagnosis banding," kata para peneliti.

Ini, mereka menambahkan, akan menghindari diagnosis yang tertunda atau kesalahan diagnosis dan kehilangan kesempatan untuk merawat pasien dan mencegah penularan lebih lanjut.

Temuan itu ditanggapi ahli virologi. “Pengamatan komplikasi neurologis pada subset pasien COVID-19 yang positif patut dicatat, tetapi tidak boleh mengalihkan perhatian dari fokus pada patologi utama gangguan pernapasan," komentar ahli virologi Ian Jones dari University of Reading.

"Hampir setengah dari pasien yang dijelaskan di sini memiliki masalah kesehatan yang mendasarinya dan tidak ada data langsung yang diberikan tentang keberadaan virus di situs neurologis," tambahnya.

Viraemia, keberadaan virus dalam aliran darah, dari mana ia dapat mengakses jaringan saraf, dideskripsikan untuk SARS, tetapi tidak pada semua pasien dan hanya sementara. Itu terjadi, tetapi umumnya bukan apa yang dilakukan virus corona.

“Saat ini komplikasi neurologis lebih baik dianggap sebagai konsekuensi dari keparahan penyakit COVID-19 daripada masalah baru yang berbeda,” ujar Jones.

DAILY MAIL






MRT Jakarta Catat Jumlah Penumpang Capai 61,2 Juta Selama 2019-2022

17 jam lalu

MRT Jakarta Catat Jumlah Penumpang Capai 61,2 Juta Selama 2019-2022

Dirut MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan jumlah pengguna atau ridership pada 24 Maret 2019 - 31 Desember 2022 sebanyak 61.292.496 orang. Rinciannya, pada 2019 dengan target 65.000 penumpang, realisasinya 86.270 penumpang. Pada 2020 dengan target 26.065 penumpang, realisasinya 27.122 penumpang.


Walikota New York Cabut Aturan Wajib Vaksin Covid-19

20 jam lalu

Walikota New York Cabut Aturan Wajib Vaksin Covid-19

Kota New York tak lagi mewajibkan warganya untuk mendapatkan vaksin Covid-19.


BPS Sebut Kunjungan Wisatawan Asing Melonjak 384 Persen Sepanjang 2022

1 hari lalu

BPS Sebut Kunjungan Wisatawan Asing Melonjak 384 Persen Sepanjang 2022

BPS menyebut jumlah kunjungan wisawatan asing melonjak sebesar 384,12 persen secara yoy dan secara kumulatif meningkat 251,28 persen.


Para Ahli Khawatir Flu Burung Akan Menular ke Manusia Setelah Mulai Menginfeksi Hewan Mamalia

4 hari lalu

Para Ahli Khawatir Flu Burung Akan Menular ke Manusia Setelah Mulai Menginfeksi Hewan Mamalia

Kasus virus flu burung yang menginfeksi hewan mamalia di Inggris dan Spanyol membuat para ahli khawatir selanjutnya bisa menular ke manusia.


Wisma Atlet Disebut Jadi Tempat Kuntilanak, Pengamat Tata Kota: Jangan Diubah Jadi Rusun

4 hari lalu

Wisma Atlet Disebut Jadi Tempat Kuntilanak, Pengamat Tata Kota: Jangan Diubah Jadi Rusun

Pengamat tata kota Nirwono Joga menyatakan Wisma Atlet Kemayoran dibangun untuk kepentingan event olahraga internasional. Bisa untuk olimpiade.


Heru Budi Manut Pemerintah Pusat Soal Nasib Wisma Atlet Biar Tak Jadi Sarang Kuntilanak

4 hari lalu

Heru Budi Manut Pemerintah Pusat Soal Nasib Wisma Atlet Biar Tak Jadi Sarang Kuntilanak

Heru Budi mengatakan pengelolaan Wisma Atlet jadi kewenangan Pusat. DPRD DKI minta jangan dibiarkan kosong agar tak banyak kuntilanak.


Menkes Beri Penghargaan Kontribusi Penanganan Covid-19 kepada AMSI

5 hari lalu

Menkes Beri Penghargaan Kontribusi Penanganan Covid-19 kepada AMSI

AMSI dinilai telah memberikan kontribusi penting khususnya dalam penyebaran informasi tentang Covid-19 dan pencegahan hoaks selama pandemi.


Jokowi Cerita Kebingungannya di Awal Pandemi Covid-19 hingga Tolak Lockdown

6 hari lalu

Jokowi Cerita Kebingungannya di Awal Pandemi Covid-19 hingga Tolak Lockdown

Jokowi menyebut akibat kegagapan menangani pandemi, terjadi turbulensi ekonomi dan membuat pertumbuhan ekonomi jatuh.


Jepang Akan Anggap Covid-19 Sebagai Flu Biasa Musim Semi Ini, Apa Dampaknya?

6 hari lalu

Jepang Akan Anggap Covid-19 Sebagai Flu Biasa Musim Semi Ini, Apa Dampaknya?

Sebelumnya, Jepang bahkan mengumumkan akan mempertimbangkan untuk melonggarkan rekomendasi penggunaan masker.


Tetap Lakukan Karantina Kesehatan meski Pandemi Covid-19 Terkendali

7 hari lalu

Tetap Lakukan Karantina Kesehatan meski Pandemi Covid-19 Terkendali

Pakar mengatakan karantina kesehatan tetap perlu dilakukan meskipun pandemi COVID-19 telah terkendali secara penuh.