Terungkap, Data Nasabah BRI Life Bocor via Komputer Karyawan

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi peretasan situs dan data. (Shutterstock)

    Ilustrasi peretasan situs dan data. (Shutterstock)

    TEMPO.CO, Jakarta - Data nasabah asuransi BRI Life diduga bocor dan dijual secara online. Dugaan tersebut muncul setelah sebuah akun Twitter @UnderTheBreach mengunggah gambar dan video tiga puluh detik sebagai bukti kebocoran tersebut.

    “Pelanggaran besar, pelaku peretasan menjual data sensitif dari BRI Life, sebanyak 2 juta data nasabah dan 463 ribu dokumen,” cuit akun tersebut Selasa, 27 Juli 2021.

    Menurut perusahaan keamanan siber Hudson Rock, kebocoran data tersebut disebabkan komputer milik karyawan BRI dan BRI Life disusupi. Mereka mengaku telah mengidentifikasi beberapa komputer yang dimaksud di dua perusahaan tersebut.

    "Kami mengidentifikasi beberapa komputer karyawan BRI Life dan BRI yang mungkin telah membantu peretas mendapatkan akses awal ke perusahaan," cuit pihak Hudson Rock, dengan tangkapan layar hasil identifikasi, Selasa.

    Dalam cuitan @UnderTheBreach, data nasabah dijual seharga US$ 7 ribu (Rp 101 juta). Selain itu, dalam video disebutkan bahwa data yang diperoleh peretas secara keseluruhan sebesar 250 GB, berupa kartu tanda pengenal atau KTP nasabah dan dokumen lainnya.

    Saat ini, BRI Life sedang melakukan investigasi terkait kebocoran data tersebut. "Kami sedang melakukan pengecekan dan akan memberikan update segera setelah investigasi selesai," kata Direktur Utama BRI Life Iwan Pasila, Selasa.

    Penyelidikan BRI Life dilakukan bersama dengan tim independen khusus keamanan siber. Mereka akan melakukan penelusuran digital dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan perlindungan data bagi pemegang polis. 

    Ade Nasution, Sekretaris Perusahaan BRI Life, menerangkan, perusahaan berupaya maksimal untuk melindungi data nasabahnya. “Perusahaan tidak pernah memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak bertanggung jawab,” katanya menegaskan. 

    Baca juga:
    Apa Itu Spyware Pegasus dan Bagaimana Ponsel Anda Bisa Diretas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.