Covid-19 di Padang, Siswa Tak Diizinkan Divaksin Diusulkan Tetap Sekolah Daring

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelajar SMP Negeri 10 Padang mengikuti tes usap Covid-19 di sekolahnya, Februari 2021. Tes dilakukan setelah dua guru diketahui terinfeksi Covid-19 hingga menghentikan pembelajaran tatap muka yang sudah bergulir. (Antara/Istimewa)

    Pelajar SMP Negeri 10 Padang mengikuti tes usap Covid-19 di sekolahnya, Februari 2021. Tes dilakukan setelah dua guru diketahui terinfeksi Covid-19 hingga menghentikan pembelajaran tatap muka yang sudah bergulir. (Antara/Istimewa)

    TEMPO.CO, Padang - Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Ferimulyani Hamid mengingatkan masyarakat setempat tidak membandingkan kondisi saat ini di dalam dan luar negeri. Dia menunjuk kondisi beberapa negara yang dinilai sudah mulai memulihkan aktivitasnya di tengah pandemi Covid-19.

    Alasannya, capaian vaksinasi penduduknya yang tidak sebanding. "Jangan berharap akan seperti di luar negeri sana yang orang beraktivitas sudah tidak pakai masker, sudah ada pertandingan sepak bola, di sana penduduk yang divaksinasi sudah hampir 100 persen," kata Ferimulyani di Padang, Rabu 15 September 2021.

    Menurutnya, dalam situasi pandemi seperti ini butuh setidaknya 70 persen penduduk di suatu daerah untuk divaksinasi untuk dapat dicapai kekebalan kelompok alias herd immunity dari Covid-19. Jika proporsi penduduk divaksin itu tak tercapai, dia menambahkan, masyarakat akan terus-menerus memakai masker dan akan semakin lama pandemi berakhir.

    "Divaksinasi tidak mau tapi ingin meniru aktivitas masyarakat yang ada di luar negeri pula," katanya.

    Ferimulyani mengatakan Pemerintah Kota Padang tengah mengusulkan kebijakan agar pelajar yang belum divaksinasi tidak diperbolehkan mengikuti pembelajaran tatap muka. Para siswa itu diarahkan untuk mengikuti pembelajaran dalam jaringan atau online

    Menurut dia, kekhawatiran orang tua hingga tidak mengizinkan anaknya menjalani vaksinasi Covid-19--seperti yang dihadapinya saat ini--akan menyebabkan pandemi semakin panjang. "Karena itu butuh kesadaran orang tua dan jangan lebih mendengarkan hoax soal vaksin, sebab ini namanya kemunduran," kata dia.

    Feri mengamati, dalam 1,5 tahun terakhir ketika anak mengikuti pembelajaran daring terlihat perbedaan sikap, perilaku, pengetahuan dan kecerdasan. Ia juga melihat sebagian orang tua juga mulai jenuh dengan belajar daring karena harus mendampingi dan menjadi guru bagi anak.

    "Di sekolah tidak hanya belajar berhitung dan membaca namun juga belajar budi pekerti, bersosialisasi hingga mengaktualisasikan diri yang selama ini tidak didapat saat belajar daring," ujarnya berusaha meyakinkan.

    Oleh sebab itu para orang tua diharapnya meyakini vaksinasi adalah salah satu upaya untuk bisa keluar dari pandemi. Ia menyebutkan saat ini pencapaian vaksinasi di Padang tahap 1 baru mencapai 33 persen dan tahap 2 baru 20 persen. Di antara yang sudah menerima vaksinasi Covid-19 itu adalah 24.500 pelajar SMP dan SMA.

    Baca juga:
    Menteri Nadiem Izinkan Sekolah di Yogya Pembelajaran Tatap Muka, Sultan: yang Sudah Vaksin Dulu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.