Top 3 Tekno Berita Kemarin: Covid-19 Indonesia dan Malaysia, Nadiem dan Sultan

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno Berita Kemarin, Rabu 15 September 2021, dipuncaki artikel 'Guru Besar FKUI Sebut Turunnya Kasus Covid-19 Indonesia Bukan Karena Kekebalan'. Seperti diketahui kekebalan kelompok atau herd immunity bisa dicapai secara alamiah maupun karena vaksinasi.

    Berita terpopuler kedua adalah Malaysia yang kini menggantikan posisi Indonesia di dasbor data real-time penambahan kasus Covid-19 global yang dibuat Johns Hopkins University, Amerika Serikat. Malaysia tercatat sebagai negara penyumbang jumlah kasus terbesar dari kawasan Asia Tenggara.

    Berita ketiga datang dari Yogyakarta, yakni lagi-lagi perihal rencana pembelajaran tatap muka selepas daerah itu menyandang status PPKM level tiga atau lebih longgar daripada sebelumnya. Saling berbalas pernyataan dilakukan Menteri Nadiem Makarim dan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X.

    Berikut Top 3 Tekno Berita Kemarin selengkapnya,

    1. Guru Besar FKUI Sebut Turunnya Kasus Covid-19 Indonesia Bukan Karena Kekebalan

    Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melaporkan bahwa kasus harian di Indonesia per Selasa, 14 September 2021, hanya bertambah 4.128. Angka ini cukup jauh dari puncak tertinggi penambahan harian yang tercatat sebanyak 54 ribu kasus pada 16 Juni lalu.

    Namun, benarkah sekarang orang Indonesia mendapatkan kekebalan alamiah bukan kekebalan karena vaksin sehingga kasus menurun? Menurut Guru Besar di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Tjandra Yoga Aditama, penurunan kasus terjadi karena upaya pembatasan sosial yang sangat ketat.

    “Tentu saja kekebalan bisa didapat secara alamiah atau akibat vaksin, tapi pembatasan sosial ketat yang menurunkan jumlah kasus, itu sudah terjadi di berbagai tempat di dunia,” ujar dia dalam acara virtual Kuliah Pakar Magister Sains Biomedis, Universitas YARSI, Jakarta, Rabu, 15 September 2021.

    2. Covid-19 Global: Malaysia Kini Gantikan Posisi Indonesia Sumbang Kasus Terbanyak

    Malaysia menggantikan posisi Indonesia di dasbor data real-time penambahan kasus Covid-19 global yang dibuat Johns Hopkins University, Amerika Serikat. Malaysia kini tercatat sebagai negara penyumbang jumlah kasus terbesar dari kawasan Asia Tenggara.

    Johns Hopkins University menghitung penambahan jumlah kasus baru per 28 hari ke belakang. Berdasarkan perhitungan itu, Malaysia berada di peringkat tujuh dunia dengan 571.132 kasus baru. Malaysia berada di bawah Amerika Serikat, India, Inggris, Iran, Brasil dan Turki yang melaporkan penambahan 4,3 juta sampai 580 ribu kasus baru di negara masing-masing dalam periode yang sama dihitung per hari ini, Rabu 15 September 2021.

    Dari Asia Tenggara, Filipina hanya terpaut dua anak tangga dari Malaysia dengan data kasus baru Covid-19 yang dilaporkannya sebanyak 492.225. Keduanya dipisahkan oleh Rusia. Turun dua anak tangga lagi, atau melewati Jepang, ada Thailand dengan catatan 466.422 kasus baru dalam periode penghitungan yang sama.

    3. Nadiem Izinkan Semua Sekolah Yogya Tatap Muka, Sultan: Yang Sudah Vaksin Dulu

    Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X akan mempersiapkan pembukaan sekolah tatap muka setelah mendapat lampu hijau secara langsung dari kunjungan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar ke Yogyakarta Selasa, 14 September 2021.

    Namun, Sultan menyatakan dia hanya akan mengizinkan sekolah yang siswanya sebagian besar sudah divaksin yang bisa tatap muka, meski kawasan DIY kini berstatus PPKM Level 3. Level itu memungkinkan semua sekolah di Yogya menggelar tatap muka.

    "Untuk sekolah tatap muka, sekolah yang kami persiapkan yang siswanya sudah divaksinasi, wong di Yogya juga tinggal sedikit lagi kok (siswa yang perlu divaksin dosis pertama)," kata Sultan usai bertemu Nadiem.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Biarkan Satu Teman Yang Toxic Mempengaruhi Anda

    Berikut 5 tanda persahabatan yang beracun atau Toxic friendship, perlu evaluasi apakah harus tetap berteman atau cukup sampai di sini.