Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Inisiasi Dana Riset

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bruce Albert dari US National Academic of Science, Sangkot Marzuki dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Jos van der Meer dari Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen dalam perayaan ulang tahun Akademi ke-25 di Jakarta Pusat, 25 Mei 2015. TEMPO/Amri Mahbub

    Bruce Albert dari US National Academic of Science, Sangkot Marzuki dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Jos van der Meer dari Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen dalam perayaan ulang tahun Akademi ke-25 di Jakarta Pusat, 25 Mei 2015. TEMPO/Amri Mahbub

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam perayaan ulang tahun ke-25, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia menginisiasi program Indonesian Science Fund. Tujuannya, kata Ketua Akademi Sangkot Marzuki, guna mengumpulkan dana penelitian di Indonesia. "Yang sifat pendapatan dan pengelolaannya independen," ujarnya dalam perayaan yang digelar di Hotel Aryaduta, di bilangan Jakarta Pusat, Senin, 25 Mei 2015. Dia berharap, dana ini akan menjadi dana abadi untuk ilmu pengetahuan berbasis riset.

    Karena itu, Akademi menggandeng tiga lembaga ilmu pengetahuan independen internasional, yakni US National Academy of Sciences, Australian Academy of Sciences dan Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen. "Biar mereka dapat berbagi pengalaman mereka dalam pengembangan ilmu dan teknologi," kata Sangkot.

    Di tempat yang sama, Bruce Alberts, perwakilan dari US National, berbagi saran mengenai pengalamannya membangun ilmu pengetahuan berbasis riset di negaranya. Menurut dia, ada empat strategi yang harus dilakukan. Yakni, pertama berfokus kepada ilmuwan dan teknisi muda. "Merekalah tonggak pengembangan," ujar pria yang juga kepala bidang biokimia dan biofisika di University of California, San Fransisco.

    Albert mengatakan, banyak ilmuwan muda yang menawan di Indonesia dalam segala sektor ilmu pengetahuan. Itu artinya, banyak potensi yang bisa dikembangkan. "Terlebih jika para ilmuwan bisa multidisiplin."

    Strategi kedua, kata Albert, menginisiasi dalam pengumpulan dana untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak hanya berbasiskan dari dana negara. Artinya, ada unsur independensi guna kemurnian ilmu pengetahuan. Nantinya, dia menjelaskan, dana ini harus dikelola secara berbasis kompetensi riset.

    Mengutip artikel penelitian yang pernah diterbitkan Royal Society, lembaga ilmu pengetahuan dari Inggris, Albert merasa miris dengan dana riset yang diberikan pemerintah Indonesia kepada peneliti. "Semakin tahun semakin turun," ujarnya. Dia pun menampilkan statistik urutan dana riset di Asia Tenggara. Dalam statistik tersebut, Indonesia menempati urutan paling bawah terkait dana riset ilmu pengetahuan se-Asia Tenggara.

    Ketiga, yakni mengembangkan Akademi sebagai bentuk lembaga ilmu pengetahuan independen. Menurut Albert, sebuah lembaga ilmu yang independen sangat dibutuhkan  dalam pembangunan suatu negara. "Pembangunan idealnya berbasis riset guna mencari jati diri bangsa dan potensi yang ada," katanya.

    Strategi terakhir adalah melebarkan sayap Akademi. "Bekerja sama dengan lembaga ilmu pengetahuan dapat dijadikan salah satu cara," ujarnya. Selain itu, memang diperlukan improvisasi basis penelitian di semua level.

    Sedangkan Jenny Graves, wakil dari Australian Academy menekankan mengenai pentingnya ilmu pengetahuan dalam pengembangan negara, khususnya ekonomi dan sosial-masyarakat. Dia menyadari bahwa sains harus diemban oleh para ilmuwan muda berpotensi. "Karena itu kami tertarik untuk bekerjasama dengan Akademi," ujar Graves, yang juga profesor biologi molekuler di La Trobe Institute for Molecular Sciences, Melbourne.

    Jos van der Meer, delegasi dari Koninklijke Nederlandse, optimistis kerja sama riset akan mengungkap hal-hal baru dan membuat inovasi penting dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Terlebih, ujarnya, ada Bruce Albert yang telah berpengalaman dalam mengembangkan riset di Amerika.

    Program Indonesian Science Fund ini akan diluncurkan pada Rabu, 27 Mei 2015 di Hotel Aryaduta. Selain program dana ini, Akademi juga akan meluncurkan Agenda Ilmu Pengetahuan 2045 dan Young Scientist.

    Sangkot beranggapan, selama ini Indonesia sibuk dengan isu ekonomi dan politik yang cukup membuat genting negara, tanpa ada penyeimbang dari para ilmuwan. Momentum 25 tahun Akademi, ujarnya, menjadi saat yang tepat menggaungkan kembali tradisi ilmu pengetahuan di Indonesia.

    Rangkaian perayaan "Silver Jubilee" Akademi ini diawali dengan pelantikan 10 anggota baru di kediaman Bacharuddin Jusuf Habibie, salah satu pendiri Akademi. Kemudian mendengar pidato dari Habibie.

    Rangkaian perayaan juga diisi dengan seminar bertema Indonesia Sebagai Tapak Ilmiah Dunia Mengikuti Jejak Alfred Russel Wallace. Seminar membahas tentang empat penemuan akbar dunia yang terinspirasi dari Indonesia. Seminar diisi oleh Herawati Sudoyo dari Eijkman Institute for Molecular Biology, Josephine Joordens dari Leiden University, Thomas Sutikna dan Truman Simanjuntak dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dan Harry Widianto dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    AMRI MAHBUB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.