Air Laut Terpisah Suramadu Juga Pernah Terjadi di Selat Gibraltar

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fenomena pertemuan antara air dari Samudera Atlantik dan Laut Mediterania di Selat Gibraltar. (Hidabrut.com)

    Fenomena pertemuan antara air dari Samudera Atlantik dan Laut Mediterania di Selat Gibraltar. (Hidabrut.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Fenomena air laut terpisah di Selat Madura di bawah Jembatan Suramadu ramai diperbincangkan. Namun, peristiwa itu bukan yang pertama, pasalnya sudah terjadi sebelumnya di Selat Gibraltar, yang menghubungkan antara Laut Mediterania dan Samudera Atlantik serta memisahkan Spanyol dan Maroko.

    Fenomena Air Laut Terpisah di Suramadu Akibat 2 Massa Berbeda

    "Di Gibraltar memang pernah ada fenomena seperti air yang tidak bisa bercampur, hal ini karena densitas, akibat salinitas atau kadar garam. Kedua massa air itu berbeda sehingga tidak serta merta bisa langsung tercampur ini terjadinya juga tidak sepanjang waktu," ujar Peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nugroho Dwi Hananto, kepada Tempo, Rabu malam, 20 Maret 2019.

    Nugroho melanjutkan bahwa peristiwa itu bergantung pada banyak hal, terutama musim dan cuaca. Kalau di Selat Madura itu, kata Nugroho, diperkirakan akibat adanya air tawar dari muara sungai dengan jumlah yang sangat besar yang masuk ke laut.

    "Sehingga dia tidak bisa secara serta merta tercampur karena perbedaan salinitas yang tinggi, kelihatan seperti terpisah begitu," tutur Nugroho. "Air tawar ini kan tidak asin ya, kemudian warnanya cenderung cokelat karena banyak membawa sedimen dari hulu. Nah ini kalau bertemu air laut tidak mudah bercampur, boleh jadi menjadi seperti terbelah".

    Fenomena tersebut viral setelah sebuah video yang diunggah oleh akun Facebook bernama Mohammad Fahrizal. Dalam video tersebut memperlihatkan air laut di bawah jembatan Suramadu, tepatnya di Selat Madura terpisah menjadi dua. Sebelah kiri air terlihat keruh kehitaman, sedangkan sebelah kanan tidak keruh.

    Nugroho melanjutkan, fenomena itu bisa juga terjadi karena pertemuan air laut dan air tawar yang belum sepenuhnya tercampur. "Meski menarik fenomena ini sebenarnya fenomena biasa," ujar Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian Puslit Oseanografi itu.

    Sampai berita ini ditayangkan video fenomena di bawah Jembatan Suramadu tersebut sudah dibagikan lebih dari 13.000 kali dan mendapat komentar lebih dari 1000. "Pertanda apakah ini #SURAMADU," tertulis pada keterangan video yang diunggah pada 19 Maret 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Harley Davidson dan Brompton dalam Daftar 5 Noda Garuda Indonesia

    Garuda Indonesia tercoreng berbagai noda, dari masalah tata kelola hingga pelanggaran hukum. Erick Thohir diharapkan akan membenahi kekacauan ini.