Pakar: UTBK Kurangi Spekulasi Mahasiswa dalam Ikuti SBMPTN

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan UGM Djagal Wiseso Marseno meninjau pelaksanaan UTBK Gelombang Pertama di Kampus UGM, Sabtu (13/4/2019). (ANTARA/Luqman Hakim)

    Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan UGM Djagal Wiseso Marseno meninjau pelaksanaan UTBK Gelombang Pertama di Kampus UGM, Sabtu (13/4/2019). (ANTARA/Luqman Hakim)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Pengamat pendidikan, Prof Dr Arismunandar, menilai pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang mendahului proses Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dipastikan bakal mengurangi spekulasi oleh calon mahasiswa.

    Baca juga: Mayoritas Nilai UTBK SBMPTN 2019 Sesi Awal Berkisar 400-600

    "Tahun-tahun sebelumnya, pola SBMPTN itu memilih prodi dulu lalu dilaksanakan tes sehingga calon mahasiswa sering berspekulasi karena tidak mengetahui kemampuannya," ungkap Guru Besar Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (UNM) ini di Makassar, Sabtu, 18 Mei 2019.

    SBMPTN 2019 merupakan seleksi penerimaan mahasiswa baru dengan menggunakan hasil UTBK saja atau hasil UTBK dan kriteria lain yang ditetapkan bersama oleh PTN.  

    Menurutnya, sistem UTBK yang tengah berlangsung pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) punya banyak kelebihan karena calon mahasiswa terlebih dulu mempunyai skor kemudian memilih prodi yang cocok sesuai nilainya, sehingga sistem ini dianggap mengurangi spekulasi.

    Meski demikian, mantan Rektor UNM dua periode ini menyampaikan, sulit memastikan tidak adanya kecurangan pada sistem ini lantaran tempat pelaksanaan UTBK menggunakan beberapa tempat sehingga memerlukan kontrol yang cukup.

    "Soal kecurangan pada ujian ini sulit dipastikan, karena ada potensi calon mahasiswa menggunakan joki, apalagi tempat tes yang terpisah-pisah," ungkapnya.

    Ketua Dewan Pendidikan Sulsel, Dr H Adi Suryadi Culla, mengatakan, sistem UTBK ini menunjukkan pentingnya akuntabilitas, integritas dan transparansi yang bisa lebih menjamin penerimaan calon mahasiswa baru.

    "Insiden adanya kecurangan harusnya bisa lebih ditekan dengan mekanisme penerimaan calon mahasiswa PTN yang lebih efisien ini," katanya.

    Menurut dia, sistem ini membuka kemungkinan mahasiswa mengukur kemampuan yang mereka miliki, karena ini mempengaruhi psikologi calon mahasiswa termasuk orang tua yang turut andil dalam penentuan pilihan jurusan anak-anaknya.

    "Kita berharap dengan sistem yang lebih efisien pada mekanisme maupun biaya ini bisa menunjukkan integritas dan transparansi untuk ujian penerimaan calon mahasiswa baru yang lebih baik dan bermartabat," katanya.

    Berita lain terkait UTBK  bisa Anda ikuti di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.