Terungkap, Pasukan Nazi dan Sekutu dalam PD II Gunakan Doping

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kereta Nazi Jerman [Twitter @historybytez via NDTV]

    Kereta Nazi Jerman [Twitter @historybytez via NDTV]

    TEMPO.CO, Jakarta - PD II atau Perang Dunia II yang berlangsung cukup panjang dan sengit di 1940-an antara pasukan Nazi dan Sekutu memunculkan satu pemenang: amfetamin Benzedrine.

    Baca juga: Di PD II, Nazi Jerman Memiliki Teknologi Piring Terbang UFO?

    Baik tentara Nazi Jerman maupun Sekutu, didoping obat penambah stamina itu. Akibatnya, kedua pasukan bisa siaga penuh selama berhari-hari.

     Petugas medis di kedua kubu membagikan stimulan ini - dan yang lain, seperti kokain - untuk dikonsumsi tentara selama berhari-hari agar pasukan bisa bertempur lebih lama, tahan saat menjalani siksaan saat tertangkap musuh atau mengatasi stres pasaca-trauma (PTSD).

    Hal ini terungkap dalam film dokumenter berjudul Secrets of the Dead: World War Speed", yang diputar di jaringan siaran televisi publik Amerika PBS, pada Selasa, 25 Juni 2019, demikian ditulis laman Livescience.

     Benzedrine dalam bentuk inhaler dan tablet. (Credit: Thirteen Productions LLC/Livescience)

    Ketika "perlombaan senjata farmasi" dimulai, para prajurit yang memakai obat-obatan ini didorong melampaui batas kemampuan normal mereka. Dampak jangka panjang dari penggunaan narkoba diabaikan oleh pejabat medis militer, kata perwakilan PBS dalam sebuah pernyataan.

    Amfetamin, termasuk stimulan yang mencakup metamfetamin, berdampak pada sistem saraf pusat, menurut National Institutes of Health (NIH). Obata-obatan ini menimbulkan rasa euforia, meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi nafsu makan, National Institute on Drug Abuse (NIDA) melaporkan.

    Metamfetamin, lebih dahsyat dibandingkan dengan amfetamin lainnya, karena bisa memberikan efek lebih tahan lama dan lebih kuat untuk sistem saraf pusat, menurut NIDA.

    Metamfetamin Pervitin produksi Jerman pada awalnya dipasarkan pada 1930-an untuk peningkat stamina dan banyak dipakai pelajar atau mahasiswa begadang mempersiapkan ujian, kata sejarawan Perang Dunia II dan konsultan film dokumenter James Holland.

    Pada 1940, Pervitin didistribusikan secara luas di antara pilot di Luftwaffe (angkatan udara Nazi) untuk meningkatkan stamina mereka dalam menghadapi kerasnya misi yang panjang, untuk melawan kelelahan dan kelaparan, kata Holland kepada Live Science

    "Nazi tanpa henti dan melakukan serangan bom terhadap Inggris," kata Holland.

    Catatan dari Kantor Perang Inggris diperkirakan bahwa selama tiga bulan serangan Blitz - dari April hingga Juni 1940 - sekitar 35 juta tablet Pervitin dikirim ke 3 juta tentara, angkatan laut dan pilot Jerman. Hal ini diungkapkan Nicolas Rasmussen, profesor di Universitas New South Wales di Australia, dalam The Journal of Interdisciplinary History, 2011.

    Berbekal doping obat-obatan ini, tentara Jerman bertempur selama 10 hari berturut-turut, menjebak dan mengalahkan tentara Inggris di Dunkirk dalam kemenangan militer yang menentukan.

    Di Inggris, muncul kabar kehebatan pilot pembom Nazi karena didukung obat-obatan, dan media Inggris menggambarkan pasukan payung Jerman yang tidak kenal takut, kata Rasmussen. 

    Setelah agen intelijen Inggris menemukan tablet Pervtinin dalam sebuah pesawat Jerman yang jatuh, muncul ide melakukan hal serupa pada Pasukan Sekutu. Obat yang dipakai adalah amfetamin dalam benzena berbentuk tablet dan inhaler.  Angkatan Udara Kerajaan Inggris secara resmi menyetujui penggunaannya pada tahun 1941, kata Holland.Pervitin, obat-obatan yang dipasok ke pasukan NAZI dalam PD II. (Credit: Thirteen Productions LLC/Livescience)

    Meskipun  Benzedrine tidak berbahaya seperti Pervitin, obat itu masih mengandung risiko, Holland menambahkan.

    "Ini mencegahmu tidur, tetapi itu tidak menghentikanmu dari merasa lelah. Tubuhmu tidak memiliki kesempatan untuk pulih dari kelelahan yang dideritanya, jadi ada titik di mana kamu keluar dari obat dan kamu hanya jatuh, kamu bisa tak berdaya," katanya.

    Tentara Inggris dan Amerika menggunakan amfetamin meskipun pada saat itu, obat ini belum terbukti meningkatkan kinerja melawan kelelahan, Rasmussen menulis dalam penelitian 2011. Sebaliknya, Sekutu mengadopsi obat tersebut karena kemampuannya mengubah suasana hati; itu meningkatkan agresi dan kepercayaan diri, dan memberikan dorongan semangat, kata Rasmussen.

    Ketika tentara Amerika mendarat di Afrika Utara pada tahun 1942, mereka juga beroperasi di bawah pengaruh stimulan. Setengah juta tablet dipasok atas perintah Jenderal Dwight D. Eisenhower, menurut PBS. Juga ditampilkan dalam film dokumenter PBS adalah memo 1942 dari seorang komandan Inggris, tentang pasukan Brigade 24 Tank Lapis Baja Britania menerima 20 miligram Benzedrine per hari, sebelum pertempuran di  Mesir. Sebagai perbandingan, dosis yang disarankan untuk pilot di Angkatan Udara Kerajaan pada saat itu hanya 10 miligram.

    Amfetamin saat ini diakui sebagai risiko tinggi terhadap kecanduan dan penyalahgunaan. Namun, pada 1940-an, para ahli menolak gagasan ini dalam literatur ilmiah, demikian ditulis di Journal of Psychopharmacology, 2013.

    "Pada akhir Perang Dunia II, Anda melihat peningkatan pengetahuan tentang efek samping dari obat-obatan ini. Yang tidak Anda lihat adalah apa yang harus dilakukan terhadap mereka yang terlanjur ketagihan - itu adalah sesuatu yang harus dipelajari dengan cara yang sulit di tahun-tahun berikutnya," kata Holland.

    LIVESCIENCE | PBS.ORG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.