BJ Habibie Mau Direkrut Presiden Marcos, sebelum Ditarik Soeharto

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pelajar melintas di depan mural mantan Presiden RI Soeharto dan BJ Habibie di Sukun, Malang, Jawa Timur, Senin 12 Agustus 2019. Mural presiden dan mantan presiden tersebut digambar warga setempat untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI Ke-74. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

    Seorang pelajar melintas di depan mural mantan Presiden RI Soeharto dan BJ Habibie di Sukun, Malang, Jawa Timur, Senin 12 Agustus 2019. Mural presiden dan mantan presiden tersebut digambar warga setempat untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI Ke-74. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

    Esoknya, Habibie pergi ke Dusseldorf. Pertemuan itu terjadi di Presidential Suite Hotel Hilton. Baru saja masuk ruangan, dia dimaki-maki Ibnu Sutowo dengan bahasa Belanda. ”Saudara Rudy, jij moet shaamen, als Indonesier! Saudara Rudy, Anda harus malu kepada diri sendiri sebagai orang Indonesia. Kenapa Anda membangun negara lain?” kata Ibnu Sutowo.

    "Saya terdiam karena ucapannya pedas tapi tepat sekali. Saya malu," kata Habibie.

    Hari itu juga Ibnu Sutowo meminta Habibie pulang ke Jakarta. Habibie pun diangkat  sebagai penasihat Direktur Utama Pertamina. Sebelumnya, sekitar 1970, di Jerman, Soeharto pernah meminta Habibie pulang sewaktu-waktu jikalau diperlukan.

    "Saya bersedia pulang setelah menyelesaikan urusan pekerjaan di Blohm dan mendapat restu Ludwig Bolkow. Saya memboyong keluarga pulang ke Tanah Air pada Maret 1974, hanya dua bulan setelah pertemuan dengan Marcos," katanya.

    Setahun kemudian, Presiden Soeharto dan Ibnu Sutowo membentuk Divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan Pertamina. Divisi ini adalah cikal-bakal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio, yang kemudian menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Industri ini resmi beroperasi pada 26 April 1976. Pada 1989, Soeharto memberikan kepercayaan untuk memimpin industri-industri strategis seperti Pindad, PAL, dan IPTN.

    "Program teknologi Pak Harto sebetulnya hanya melanjutkan idealisme Sukarno. Indonesia harus melek dan mandiri teknologi. Pengalaman kerja di Blohm membuat saya memilih berfokus pada pesawat angkut komersial. Saya memang tidak berminat membuat pesawat tempur. Saya yakin bangsa ini lebih membutuhkan pesawat komersial. Saya butuh waktu satu tahun untuk menyiapkan industri pesawat terbang Indonesia," katanya.

    BJ Habibie lalu menggandeng CASA Spanyol membuat NC-212 Aviocar twin turboprop (Aviocar berbaling-baling ganda) dan CN-235 Tetuko. "Saya juga menggandeng MBB—kantor lama saya—membuat helikopter BO-105 dan Aerospatiale di Prancis untuk membuat helikopter Super Puma berkapasitas 20 orang," katanya.  

    MAJALAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.