BJ Habibie, Bapak Teknologi Indonesia

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Presiden, BJ Habibie memerlihatkan medali Edward Warner Award usai upacara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, (10/8). Medali Edward Warner Award merupakan bukti Habibie terpilih sebagai ilmuwan dirgantara yang berjasa dalam pengembangan dan desain pesawat. ANTARA/Agus Bebeng

    Mantan Presiden, BJ Habibie memerlihatkan medali Edward Warner Award usai upacara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, (10/8). Medali Edward Warner Award merupakan bukti Habibie terpilih sebagai ilmuwan dirgantara yang berjasa dalam pengembangan dan desain pesawat. ANTARA/Agus Bebeng

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Indonesia ke-3, Baharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia, Rabu, 11 September 2019. Kabar meninggalnya BJ Habibie ini disampaikan cucu keponakannya, Melanie Subono lewat akun instagramnya.

    BJ Habibie, dalam buku biografi yang berjudul The True Life of B.J. Habibie disebut sebagai Bapak Teknologi Indonesia. A. Makmur Makka menuliskan bahwa pemikiran-pemikiran Habibie yang high-tech mendapatkan respon baik dari Presiden ke-2 Soeharto.

    Bisa dikatakan bahwa Soeharto mengagumi pemikiran Habibie, sehingga pemikirannya dengan mudah disetujui pak Harto. Pada 26 April 1976, Habibie mendirikan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan menjadi industri pesawat terbang pertama di Kawasan Asia Tenggara. Nurtanio merupakan Bapak Perintis Industri Pesawat Indonesia.

    Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985, sebelum direstrukturisasi menjadi PT Dirgantara Indonesia  pada Agustus 2000.

    BJ Habibie kemudian menjadi Menteri Riset dan Teknologi selama tiga periode dari 1983-1998, sebelum menjadi Wakil Presiden pada 1998 sampai terjadi Reformasi yang melengserkan Soeharto sebagai presiden. Habibie kemudian menggantikan sebagai Presiden sampai Pemilu 1999.

    Atas prakarsa Habibie, dibentuk PT Industri Strategis yang menjadi induk sejumlah persero termasuk IPTN,  PT PAL dan PT PINDAD.

    Sejak pendirian industri-industri statregis negara, setiap tahun pada saat pemerintah Soeharto menganggarkan dana APBN yang cukup besar untuk mengembangkan industri teknologi tinggi. Anggaran yang sangat besar dikeluarkan sejak 1989 saat Habibie memimpin industri-industri strategis.

    Namun, Habibie memiliki alasan logis untuk memulai industri berteknologi tinggi, yang membutuhkan investasi besar dengan jangka panjang. Hasilnya tidak mungkin dirasakan langsung. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun industri strategis Habibie belum menunjukkan hasil dan akibatnya negara terus membiayai operasi industri-industri strategis yang besar.

    Industri-industri strategis Habibie (IPTN, Pindad, PAL) pada akhirnya memberikan hasil seperti pesawat terbang, helikopter, senjata, kapal, dan kemampuan pelatihan. Serta jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat, amunisi, kapal, tank, panser, senapan kaliber, water canon, kendaraan RPP-M, kendaraan combat dan masih banyak lagi baik untuk keperluan sipil maupun militer.

    Untuk skala internasional, BJ Habibie terlibat berbagai proyek desain dan konstruksi pesawat terbang seperti Fokker F 28, Transall C-130 (militer), Hansa Jet 320 (jet eksekutif), Air Bus A-300, pesawat transport DO-31 (pesawat berteknologi mendarat dan lepas landas secara vertikal), CN-235, dan CN-250 (pesawat dengan teknologi fly-by-wire). Selain itu, suami Ainun ini secara tidak langsung ikut terlibat proyek perhitungan dan desain Helikopter Jenis BO-105, pesawat tempur multi function, beberapa peluru kendali dan satelit.

    Karena pemikirannya itu, Habibie dianggap sebagai bapak teknologi Indonesia, terlepas dari seberapa besar kesuksesan industri strategis Habibie. Pada 1992, IMF menginstruksikan Soeharto agar tidak memberikan dana operasi kepada IPTN, sehingga mulai memasuki kondisi kritis.

    Kabarnya, hal ini dikarenakan rencana Habibie membuat satelit sendiri. Pada 1970-an Indonesia merupakan negara terbesar ke-2 pemakaian satelit, pesawat sendiri, serta peralatan militer sendiri. Hal ini didukung dengan 40 orang tenaga ahli Indonesia yang memiliki pengalaman kerja di perusahaan pembuat satelit Hughes Amerika akan ditarik pulang ke Indonesia untuk mengembangkan industri teknologi tinggi di Indonesia.

    BJ Habibie meninggal dalam usia 83 tahun. Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936, ini meninggalkan dua anak, yakni Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Dalam beberapa hari terakhir Habibie menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

    THE TRUE LIFE BJ HABIBIE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.