IAIS Diresmikan, Bikin Road Map Kecerdasan Buatan Indonesia

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum APIC Suhono Harso Supangkat, Ketua IAIS Lukas, Kepala BPPT Hammam Riza bersama jajaran IAIS lainnya dalam acara peresmian IAIS di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat 25 Oktober 2019. TEMPO/ Galuh Putri Riyanto

    Ketua Umum APIC Suhono Harso Supangkat, Ketua IAIS Lukas, Kepala BPPT Hammam Riza bersama jajaran IAIS lainnya dalam acara peresmian IAIS di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat 25 Oktober 2019. TEMPO/ Galuh Putri Riyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi kecerdasan buatan Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS) meresmikan pendiriannya di bawah Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas (APIC). Diketuai oleh Lukas, IAIS memiliki visi untuk menciptakan penemuan-penemuan baru melalui inovasi dan kecerdasan buatan di Indonesia.

    Lukas mengungkapkan bahwa IAIS dibangun dengan dua misi utama, yakni untuk membuat road map kecerdasan buatan untuk negara ini. "Misi lainnya ialah untuk membangun kompetensi AI lokal dan kepemimpinan teknologi dalam fokus untuk bidang akademik, bisnis, dan pemerintahan," lanjut Lukas saat peresmian IAIS di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat 25 Oktober 2019.

    Lukas mengungkapkan untuk mencapai visi dan misinya, IAIS dibangun dengan tiga pondasi utama, yakni departemen riset, teknologi, dan inovasi. "Tiga departemen itu merupakan pondasi yang akhirnya untuk mencapai kepentingan Indonesia," imbuh Lukas.

    Dengan demikian, ia menegaskan bahwa IAIS ini merupakan komunitas yang dibangun di Indonesia untuk kedaulatan Indonesia juga.

    Lebih lauh lagi, Lukas menceritakan bahwa komunitas yang berawal dari obrolan di grup WhatsApp ini, sekarang sudah memiliki sekitar 200 anggota dari berbagai kalangan.

    "IAIS sebenarnya sudah berdiri dari 24 Januari 2019, namun ini baru peresmiannya. Sekarang anggota kita sudah ada dari kalangan akademisi, periset, korporasi, bahkan individu," lanjutnya.

    Selain mengukuhkan pendirian, IAIS juga sekaligus meluncurkan situs web atas nama indonesiaai.org untuk kepentingan publikasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

    "Situs ini berperan sebagai portal berita seluruh kegiatan IAIS. Selain itu, juga open untuk keanggotaan baru yang memiliki semangat yang sama dengan kami, tinggal registrasi saja," ungkap Director Technology IAIS, Adnan Batara pada kesempatan yang sama.

    Selain untuk portal berita, Adnan mengungkapkan situs ini juga dapat dimanfaatkan untuk menciptakan crowd journalism. "Kami akan mendorong anggota untuk membuat konten tentang ide atau inovasi apa yang sedang mereka kerjakan di bidang AI ini. Kalau terkualifikasi, nanti akan kami jadikan artikel," lanjutnya.

    Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Indonesia (BPPT) menyambut baik pengukuhan pendirian IAIS ini. "AI akan sangat berguna bagi negara yang ingin maju atau menjadi super power. AI juga berperan di segala lini SDG yang ingin dicapai pemerintah. Oleh karena itu, kami turut senang dengan adanya komunitas ini," ungkap Kepala BPPT Hammam Riza pada kesempatan yang sama.

    Lukas dan Hammam sependapat bahwa teknologi kecerdasan buatan ini harus dikerjakan secara kolaborasi baik bersama pihak korporasi, akademisi, pemerintah, serta individu penggiat AI. "Indonesia itu bisa dibilang sudah ketinggalan dalam penerapan AI, makanya kita perlu kolaborasi dan mengejar ketertinggalan itu," kata Hammam.

    GALUH PUTRI RIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.