Gempa Maluku Utara, Bali, dan Ambon Satu Tipe, tapi Tak Berkaitan

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berada di luar rumah yang temboknya retak akibat gempa 5,0 SR di Desa Musi, Buleleng, Bali, Kamis, 14 November 2019. Gempa yang terjadi pada pukul 18.21 Wita tersebut tidak menimbulkan korban jiwa tapi sejumlah bangunan mengalami kerusakan dan masih dalam pendataan petugas terkait. ANTARA/Bpbd Bali

    Warga berada di luar rumah yang temboknya retak akibat gempa 5,0 SR di Desa Musi, Buleleng, Bali, Kamis, 14 November 2019. Gempa yang terjadi pada pukul 18.21 Wita tersebut tidak menimbulkan korban jiwa tapi sejumlah bangunan mengalami kerusakan dan masih dalam pendataan petugas terkait. ANTARA/Bpbd Bali

    TEMPO.CO, Badung - Tiga gempa kuat terjadi dalam waktu berdekatan di  Maluku Utara, Bali dan Ambon. Badan Meteorologi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membantah ketiga gempa itu saling berkaitan.

    Gempa Maluku bermagnitudo 7,1 dan Gempa Bali Utara bermagnitudo 5,0 pada 14 November 2019 serta Gempa Ambon bermagnitudo 6,5 pada 26 September lalu memiliki kesamaan dalam tipe gempa.

    Menurut Kapala Bidang Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, ketiga gempa itu memiliki tipe yang diawali oleh aktivitas gempa pendahuluan (foreshock), selanjutnya terjadi gempa utama (mainshock) dan kemudian diikuti oleh serangkaian gempa susulan (aftershocks).

    Hasil pemutakhiran hingga Sabtu 16 November 2019 pukul 18.00 WIB, tercatat Gempa Maluku Utara diikuti sebanyak 185 gempa susulan, Gempa Bali Utara diikuti 100 gempa susulan, dan Gempa Ambon diikuti 2.345 gempa susulan.

    "Meskipun ketiga gempa tersebut memiliki tipe yang sama, akan tetapi memiliki perbedaan dalam hal sumber gempa dan mekanisme sumbernya," kata Daryono lewat keterangan tertulis Sabtu malam, 16 November 2019.

    Gempa Maluku Utara menurutnya dipicu oleh deformasi batuan dalam lempeng Laut Maluku (gempa intraslab). Gempa Bali Utara dibangkitkan oleh sumber gempa struktur Sesar Naik di Utara Bali, dan Gempa Ambon terjadi akibat aktivitas sesar aktif yang belum terpetakan sebelumnya.

    Selain berbeda soal sumber gempa, ketiga gempa tersebut juga berbeda dalam mekanisme sumbernya. Gempa Maluku Utara memiliki mekanisme sumber sesar naik (thrust fault), Gempa Bali memiliki mekanisme sumber kombinasi pergerakan dalam arah mendatar dan naik (oblique thrust), dan Gempa Ambon memiliki mekanisme sesar geser (strike slip).

    Apakah ketiga gempa tersebut saling berkaitan dan saling picu? "Tentu saja tidak berkaitan dan gempa tidak menjalar kesana kemari," ujarnya.

    Banyaknya aktivitas gempa bumi di Indonesia kata Daryono bukan disebabkan oleh adanya saling picu. Tingginya frekuensi aktivitas gempa bumi disebabkan karena di Indonesia banyak terdapat sumber gempa.

    Indonesia memiliki enam sumber gempa tumbukan lempeng yang jika dirinci menjadi 13 zona sumber gempa megathrust. Selain itu ada sumber gempa sesar aktif lebih dari 295 segmen. "Sehingga wajar jika di Indonesia sering terjadi gempa bumi," kata dia.

    Setiap sumber gempa memiliki proses akumulasi medan tegangan, fase matang sendiri-sendiri, dan selanjutnya mengalami rilis energi dalam bentuk gempa bumi masing-masing. Banyaknya kejadian gempa bukan karena gempa saling menjalar ke sana kemari.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.