Ilmuwan Kanada Sebut Hibrida Babi-Monyet Tidak Etis

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak babi yang di tubuhnya mengandung sel monyet atau hibrida babi-monyet hasil percobaan ilmuwan Cina, Desember 2019. (thesun.co.uk)

    Anak babi yang di tubuhnya mengandung sel monyet atau hibrida babi-monyet hasil percobaan ilmuwan Cina, Desember 2019. (thesun.co.uk)

    TEMPO.CO, Jakarta - Percobaan melahirkan hibrida babi-monyet menarik banyak perhatian. Beberapa ilmuwan dan kelompok sains menyebutnya tidak etis dan memperingatkan laboratorium agar tidak menciptakan chimera. 

    "Bagi kita untuk mulai memanipulasi fungsi kehidupan dengan cara seperti ini tanpa sepenuhnya tahu cara mematikannya, atau menghentikannya jika terjadi kesalahan, benar-benar membuat saya takut," ujar pakar ilmu saraf Douglas Munoz dari Queen's University di Kingston, Kanada, seperti dikutip laman Times Now News, Ahad, 8 Desember 2019.

    Ilmuwan asal Cina berhasil melahirkan hibrida babi-monyepertama di dunia. Dua anak babi chimera yang mengandung DNA monyet telah lahir di sebuah laboratorium di Cina. Meskipun kedua anak babi itu tampak normal, mereka  mati dalam waktu seminggu. Istilah chimera dari bahasa Yunani yang berarti percampuran spesies yang berbeda.

    Menurut laporan, hewan-hewan itu memiliki bahan genetik dari monyet cynomolgus di jantung, hati, limpa, kulit, dan paru-paru mereka. Para ilmuwan yang terlibat dalam percobaan mengatakan mereka menggunakan lebih dari 4.000 embrio untuk membuat dua anak babi, dengan tujuan menemukan cara untuk menumbuhkan organ manusia pada hewan untuk transplantasi.

    Embrio babi memiliki sel induk monyet yang disuntikkan ke dalamnya, yang disesuaikan untuk menghasilkan protein fluoresen. Ini memungkinkan para peneliti  menemukan di mana sel-sel itu berakhir.

    "Ini adalah laporan pertama chimera kera-babi jangka penuh," kata Tang Hai, dari Laboratorium Sel Induk dan Biologi Reproduksi di Beijing kepada New Scientist.

    Para ilmuwan berpikir ada masalah dengan proses IVF karena dua anak babi chimera meninggal dalam waktu seminggu. IVF merupakan proses pembuahan dengan mengekstraksi telur, mengambil sampel sperma, kemudian menggabungkan telur dan sperma secara manual pada wadah kaca di laboraturium. Itu kemungkinan yang membuatnya mati.

    Terlepas dari reaksi komunitas ilmiah, percobaan di Cina terus berlanjut. Pada Juli lalu, ilmuwan Cina mengusulkan untuk mencangkokkan sel dari otak manusia ke monyet untuk mempelajari penyakit seperti Alzheimer.

    Namun, Cina bukan satu-satunya negara tempat hibrida dibuat. Embrio hibrida manusia-babi diciptakan di Salk Institute di San Diego pada Januari 2017. Namun, embrio itu mati hanya 28 hari kemudian.

    TIMES NOW NEWS | NEW SCIENTIST


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.