Remaja Indonesia Buat Penelitian Nanopartikel di AS, Ini Hasilnya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alicia Chan dan Aileen Bactiar, siswi kelas 11 Jakarta Intercultural School (JIS) yang mengerjakan penelitian teknologi nanopartikel setelah presentasi di @amerika, Pasific Place, Jakarta Selatan, Sabtu, 8 Februari 2020. TEMPO/Khory

    Alicia Chan dan Aileen Bactiar, siswi kelas 11 Jakarta Intercultural School (JIS) yang mengerjakan penelitian teknologi nanopartikel setelah presentasi di @amerika, Pasific Place, Jakarta Selatan, Sabtu, 8 Februari 2020. TEMPO/Khory

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua remaja Indonesia, Alicia Chan (15) dan Aileen Bachtiar (16), melakukan penelitian teknologi nanopartikel ketika mengikuti sekolah musim panas, masing-masing, di Columbia University dan University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Kedua siswi kelas 11 dari Jakarta Intercultular School (JIS) itu menghasilkan dua produk yaitu material anti air dan bahan alternatif pengawet makanan.

    Keduanya dihadirkan di @america, Pacific Place, Jakarta Selatan, Sabtu 7 Februari 2020. Masing-masing lalu mengisahkan pengalaman selama tiga pekan menjalani sekolah musim panasnya dan produk penelitian yang dihasilkan.

    Dimulai dari Alicia yang mengungkap ketertarikannya terhadap penelitian superhydrophobicity atau membuat sebuah benda agar permukaannya anti air. Alicia membuat cairan spray superhydrophobicity. “Jika disemprotkan ke suatu benda, maka akan memiliki tekstur nano seperti daun lotus, anti air,” ujarnya.

    Alicia menjelaskan, menggunakan teknik biomimicry di mana karakteristik organisme ditiru untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. Cairan spray superhydrophobocity yang dihasilkannya pun dapat diaplikasikan ke segala permukaan apapun. "Contohnya ke atap rumah biar anti bocor," katanya. 

    Dengan menggunakan konsep penelitian self-assembling monolayer, Alicia berujar, permukaan bisa dibuat sangat anti air. Sehingga, setetes air yang jatuh ke atasnya bisa menggumpal seperti bola dan tergelincir dengan mudah, "Sama seperti permukaan teflon."

    Alicia berharap, penelitian yang dilakukannya dapat membantu masyarakat kurang mampu yang atap rumahnya bocor. “Selain praktis dan efektif, teknologi ini bisa bertahan sangat lama," kata Alicia.

    Alicia Chan dan Aileen Bactiar, siswi kelas 11 Jakarta Intercultural School (JIS) yang mengerjakan penelitian teknologi nanopartikel masing-masing di Columbia University dan University of Pennsylvania, AS. Keduanya presentasi di @amerika, Pasific Place, Jakarta Selatan, Sabtu, 8 Februari 2020. TEMPO/Khory

    Rekannya, Aileen berbeda. Remaja ini memanfaatkan teknologi nano di University of Pennsylvania untuk menemukan pengawet makanan alternatif. Dia membuatnya dari partikel nano perak dalam proses pembuatan minuman anggur. 

    Aileen mengaku telah banyak melakukan penelitian, tapi akhirnya dia berhasil menemukan pengawet untuk minuman anggur yang difermentasi. “Sulfit yang saat ini banyak digunakan untuk pengawet anggur memiliki efek jangka panjang yang berbahaya bagi kesehatan, seperti hipotensi dan bronkospasme,” katanya menuturkan.

    Menurut Aileen, tujuan penelitian yang dilakukannya adalah menemukan bentuk alternatif pengawet yang efektif sebagai pengganti sulfit, sehingga dapat mengurangi efek berbahaya bagi kesehatan. Adapun partikel nano perak disebutnya mempunyai sifat anti bakteri untuk membunuh kuman pada proses fermentasi anggur.

    Menurutnya, solusi dari partikel juga bisa diterapkan pada proses pembuatan makanan atau minuman lainnya. Aplikasi pada kemasan makanan, juga bisa meningkatkan umur simpan makanan. Sedang pada obat, memungkinkan penyerapan oleh tubuh manusia menjadi lebih maksimal. “Dari sebuah riset, terbukti bahwa nanopartikel perak aman dikonsumsi,” katanya meyakinkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Sukses yang Harus Diadopsi Pengusaha di Masa Pandemi Covid-19

    Banyak bisnis menderita di 2020 akibat pandemi Covid-19.