WHO: Penelitian Vaksin dan Obat Virus Corona Dipercepat

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Reuters

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa penelitian pengembangan vaksin dan obat untuk melawan virus corona telah dipercepat.

Menurutnya, lebih dari 70 negara bergabung dengan WHO untuk uji coba penelitian perawatan efektif dan 20 lembaga mengembangkan vaksin.

"Genom virus dipetakan pada awal Januari dan dibagikan secara global yang memungkinkan tes dikembangkan dan penelitian vaksin dimulai," kata Tedros di kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss, seperti dikutip laman CNBC, Senin, 6 April 2020.

Tedros mengatakan WHO akan segera mengumumkan sebuah inisiatif untuk percepatan pengembangan dan distribusi vaksin yang adil. Dia berujar, akan menyusun mekanisme dan menunjuk orang-orang senior dari utara dan selatan yang merinci bagaimana mereka dapat mempercepat produksi.

"Tetapi pada saat yang sama bagaimana mereka dapat memastikan distribusinya yang adil," kata Tedros. "Ketika vaksin atau obat siap, kita harus dapat mengirimkannya ke seluruh dunia. Seharusnya tidak ada kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin." 

Sementara itu, negara bagian New York bulan lalu memulai uji klinis skala besar pertama pada hydroxychloroquine sebagai pengobatan yang memungkinkan untuk virus corona. Pengujian dilakukan setelah badan obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) memberikan proses persetujuan yang cepat.

Presiden Amerika Donald Trump mengatakan chloroquine dan hydroxychloroquine dapat menjadi 'game-changer', meskipun belum melalui uji klinis yang ketat untuk melawan COVID-19. Trump bulan lalu mengarahkan FDA untuk memeriksa apakah obat itu dapat digunakan untuk mencegah atau mengobati virus corona.

Chloroquine telah mendapatkan banyak perhatian setelah penelitian kecil terhadap 36 pasien COVID-19 yang diterbitkan pada 17 Maret di Prancis menemukan sebagian besar pasien yang memakai obat itu mengatasi virus corona jauh lebih cepat daripada kelompok yang tidak.

Pekan lalu, WHO mengatakan penelitian awal menunjukkan bahwa beberapa obat mungkin memiliki dampak dalam melawan virus corona. Tapi data itu sangat awal dan penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menentukan apakah pengobatan itu dapat melawan COVID-19.

Menurut Mike Ryan, direktur eksekutif WHO, ada beberapa data awal dari studi nonrandomized, studi observasional, yang menunjukkan beberapa obat dan koktail obat yang mungkin memiliki dampak. Ryan menerangkan, obat tersebut dapat mempengaruhi lama penyakit, beberapa mungkin berdampak pada tingkat keparahan penyakit dan dosis obat.

"Kami tidak pernah memiliki kelompok pembanding di mana kami memiliki pendekatan acak untuk pengobatan dengan obat atau tidak dengan obat," tutur Ryan. Sambil menambahkan, "Agar kami jelas, karena tidak ada terapi atau obat yang terbukti efektif melawan COVID-19."

CNBC | WHO






Airlangga Hartarto: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Menunjukkan Prospek Cerah

2 jam lalu

Airlangga Hartarto: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Menunjukkan Prospek Cerah

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan prospek cerah.


BREAKING NEWS: WNI Asal Bali, Suami dan Bayinya Jadi Korban Gempa Turki

18 jam lalu

BREAKING NEWS: WNI Asal Bali, Suami dan Bayinya Jadi Korban Gempa Turki

KBRI Ankara mengkonfirmasi WNI asal Bali atas nama Nia Marlinda meninggal dunia dampak dari Gempa Turki.


WHO: 23 Juta Warga Terdampak Gempa Turki-Suriah

1 hari lalu

WHO: 23 Juta Warga Terdampak Gempa Turki-Suriah

WHO memperingatkan bahwa hingga 23 juta orang terdampak gempa Turki-Suriah.


Top 3 Dunia: Mulai dari Penyebab Gempa Bumi Turki dan Suriah hingga Potensi Jumlah Korban Menurut WHO

1 hari lalu

Top 3 Dunia: Mulai dari Penyebab Gempa Bumi Turki dan Suriah hingga Potensi Jumlah Korban Menurut WHO

Top 3 Dunia dikuasai oleh berita-berita tentang gempa bumi di Turki dan Suriah.


Menguak Penyebab Gempa Turki yang Masif Merusak

1 hari lalu

Menguak Penyebab Gempa Turki yang Masif Merusak

Elders mengungkapkan gempa Turki amat dahsyat dan menghancurkan karena kedalamannya hanya 18 km dari permukaan bumi atau termasuk dangkal.


WHO: Suriah Krisis, Butuh Bantuan dalam Jumlah Sangat Besar

1 hari lalu

WHO: Suriah Krisis, Butuh Bantuan dalam Jumlah Sangat Besar

Dirjen WHO mengatakan sekarang adalah perlombaan melawan waktu untuk menemukan orang-orang yang selamat.


5 Fakta Gempa Turki dan Suriah: Perkiraan Korban Tewas hingga Episentrum Gempa

1 hari lalu

5 Fakta Gempa Turki dan Suriah: Perkiraan Korban Tewas hingga Episentrum Gempa

WHO memperkirakan jumlah korban gempa Turki bisa naik 8 kali lipat dari penghitungan sementara.


Inilah 4 Indikator Utama Penilaian Universitas Terbaik versi Webometrics

1 hari lalu

Inilah 4 Indikator Utama Penilaian Universitas Terbaik versi Webometrics

Setiap enam bulan sekali Webometrics merilis daftar peringkat universitas terbaik di seluruh dunia. Lantas apa indikator utama penilaiannya?


MRT Jakarta Catat Jumlah Penumpang Capai 61,2 Juta Selama 2019-2022

1 hari lalu

MRT Jakarta Catat Jumlah Penumpang Capai 61,2 Juta Selama 2019-2022

Dirut MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan jumlah pengguna atau ridership pada 24 Maret 2019 - 31 Desember 2022 sebanyak 61.292.496 orang. Rinciannya, pada 2019 dengan target 65.000 penumpang, realisasinya 86.270 penumpang. Pada 2020 dengan target 26.065 penumpang, realisasinya 27.122 penumpang.


Walikota New York Cabut Aturan Wajib Vaksin Covid-19

1 hari lalu

Walikota New York Cabut Aturan Wajib Vaksin Covid-19

Kota New York tak lagi mewajibkan warganya untuk mendapatkan vaksin Covid-19.