Studi: 40 Persen Orang di Dunia Alami Gangguan Pencernaan

Ilustrasi sakit perut. Shutterstock

TEMPO.CO, Jakarta - Wabah penyakit virus corona COVID-19 yang menyerang saluran pernapasan bukan satu-satunya problem di dunia saat ini. Setidaknya, masih ada masalah lain yakni lebih dari 40 persen orang di seluruh dunia mengalami aneka penyakit gangguan pencernaan.

Itu diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan The Rome Foundation mengenai Disorders of Gut-Brain Interactions (DGBI) yang terdiri dari 22 gangguan sistem pencernaan. Penelitiannya dilakukan di lebih dari 30 negara--termasuk Indonesia--di enam benua, dan hasilnya telah dipublikasi di jurnal Gastroenterology.

Datang dari ide anggota Dewan Direksi The Rome Foundation, Ami Sperber, penelitian itu digulirkan melalui survei online di 24 negara dan wawancara langsung di 8 negara lainnya. Tingkat kerumitannya tergambar dari waktu yang dibutuhkan untuk mengolah ide awal hingga dapat dipublikasikan.

“Penelitian ini memakan waktu lebih dari sepuluh tahun,” ujar Ami dalam keterangan tertulis yang dibagikan, Kamis 30 April 2020. Survei online dan wawancara menggunakan kuesioner Rome IV Adult Diagnostic, Rome III IBS, dan lebih dari 80 jenis kuesioner lainnya untuk mengidentifikasi variabel yang berhubungan dengan DGBI.

Ami menuturkan hasil survei itu bahwa DGBI berpengaruh terhadap kualitas hidup dan tingkat pemanfaatan layanan kesehatan lebih 40 persen masyarakat dunia. Penelitian epidemiologi global yang dilakukan The Rome Foundation adalah studi multi-nasional berskala besar pertama yang membahas kejadian dan beban penyakit DGBI.

“Data yang diperoleh dari 73 ribu responden di 33 negara di enam benua tersebut kedepannya dapat menjadi bahan analisis baru yang akan menghasilkan lebih banyak artikel ilmiah” kata Ami yang juga Direktur Studi Global.

Penelitian ini, misalnya, dapat meningkatkan pemahaman mengenai kondisi penyakit DGBI di tingkat global dan regional. Termasuk hubungannya dengan jenis kelamin, usia, budaya, pola makan, faktor psikososial, serta dampak signifikannya terhadap kualitas hidup, pemanfaatan layanan kesehatan, dan faktor ekonomi.

Indonesia diwakili oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam sebagai peneliti utama negara dalam penelitian tersebut. Menurut Ari, penelitian epidemiologi global yang dilakukan The Rome Foundation memberikan data kejadian dan dampak dari penyakit DGBI di Indonesia dan perbandingannya dengan negara lain.

Ari yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PB PEGI) menerangkan, data hasil penelitian tersebut juga membuktikan perlu dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat, dokter, dan pembuat kebijakan kesehatan untuk menghadapi dampak DGBI di Indonesia.

“Selain itu juga membuktikan bahwa masih perlu dilakukan penelitian serta alokasi sumber daya lebih lanjut untuk memperdalam penelitiannya,” kata Ari yang juga aktif menghadiri pertemuan tahunan yang diadakan oleh The Rome Foundation.

Presiden The Rome Foundation, Jan Tack, mengatakan bahwa penelitian ini menunjukkan komitmen dari The Rome Foundation untuk terus memajukan ilmu pengetahuan dan meningkatkan pemahaman mengenai DGBI atau gangguan pencernaan. Juga menegaskan bahwa The Rome Foundation merupakan organisasi yang memiliki jangkauan penelitian yang luas.

“The Rome Foundation akan terus memastikan bahwa ke depan gangguan pencernaan, dasar epidemiologis dan analisis data yang berasal dari penelitian ini akan berguna bagi bidang lain,” ujar Jan Tack menambahkan.






Pembatasan Dihapus, Jumlah Perjalanan di Cina Saat Libur Imlek Meningkat

23 jam lalu

Pembatasan Dihapus, Jumlah Perjalanan di Cina Saat Libur Imlek Meningkat

Tahun Baru Imlek adalah hari libur terpenting tahun ini di Cina.


Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

1 hari lalu

Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

Kementerian Kesehatan akan melakukan upaya sosialisasi vaksinasi Covid-19 untuk balita kepada masyarakat.


Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

1 hari lalu

Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

Jepang tak lagi mewajibkan pemakaian masker di dalam ruangan. Covid-19 disamakan dengan sakit flu biasa.


Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

2 hari lalu

Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

Sebelum pandemi Covid-19, tepatnya pada 2019, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 231.000 jemaah.


Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

2 hari lalu

Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono resmi mencabut aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

2 hari lalu

Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

Pakar kesehatan mengatakan penyakit campak lebih menular dari COVID-19 dengan daya tular pada 12 hingga 13 orang di sekitar pasien.


CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

2 hari lalu

CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

Dalam temuannya, CDC menyatakan lansia penerima vaksin booster Covid-19 Pfizer kedua kalinya berpotensi terkena stroke.


Kraken Masuk Indonesia, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan dan Vaksinasi Booster

2 hari lalu

Kraken Masuk Indonesia, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan dan Vaksinasi Booster

Pakar mengatakan apapun varian COVID-19, termasuk XBB.1.5 atau Kraken, protokol kesehatan belum berubah dan vaksin masih bermanfaat.


Yuni Shara Vaksinasi Booster ke-2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rasanya Seperti...

3 hari lalu

Yuni Shara Vaksinasi Booster ke-2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rasanya Seperti...

Yuni Shara sengaja menggunakan gaun tanpa lengan agar memudahkannya menerima suntikan vaksin di lengan kirinya.


Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen, Terpengaruh Aktivitas Ekonomi Cina

3 hari lalu

Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen, Terpengaruh Aktivitas Ekonomi Cina

Harga minyak dunia naik 1 persen karena ekspektasi permintaan menguat dipicu menggeliatnya aktivitas ekonomi Cina.