Lempeng di Bawah Samudera Hindia Disebut Terpecah, Ini Kata BMKG

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Model gravitasi laut Atlantik Utara. Titik-titik merah menunjukkan lokasi gempa bumi dengan kekuatan di atas 5,5 dan menyorot lokasi sebaran gunung api dasar laut. Informasi gravitasi ini menunjukkan detail sejarah lempeng tektonik saat benua retak. (FOTO ANTARA/HO-David Sandwell/Scripps Institution of Oceanography/UC San Diego).

    Model gravitasi laut Atlantik Utara. Titik-titik merah menunjukkan lokasi gempa bumi dengan kekuatan di atas 5,5 dan menyorot lokasi sebaran gunung api dasar laut. Informasi gravitasi ini menunjukkan detail sejarah lempeng tektonik saat benua retak. (FOTO ANTARA/HO-David Sandwell/Scripps Institution of Oceanography/UC San Diego).

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa semua lempeng tektonik terus bergerak, tetapi berjalan dalam tempo yang sangat lambat.

    "Jadi pergerakannya itu sangat kecil dan lambat sekali. Tetapi (lempeng tektonik) itu terus bergerak," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa, 26 Mei 2020.

    Ia menyampaikan hal itu untuk menanggapi perkiraan ilmuwan, seperti dikutip dari Live Science, bahwa lempeng tektonik di Samudera Hindia akan terpecah menjadi dua.

    Sebelumnya, pekan lalu Live Science melaporkan bahwa lempeng tektonik raksasa di bawah Samudra Hindia sedang mengalami perpecahan. Dalam waktu singkat (secara geologis) lempeng ini akan terbelah dua, menurut sebuah studi yang dipublikasikan secara online pada 11 Maret di jurnal Geophysical Research Letters.

    Bagi manusia, perpecahan itu akan selamanya. Lempeng itu, yang dikenal sebagai lempeng tektonik India-Australia-Capricorn, terbelah dengan kecepatan siput - sekitar 0,06 inci (1,7 milimeter) setahun. Dengan kata lain, dalam 1 juta tahun, dua keping lempeng akan berjarak sekitar 1 mil (1,7 kilometer) dari yang sekarang.

    "Ini bukan struktur yang bergerak cepat, tetapi masih signifikan dibandingkan dengan batas-batas planet lain," kata rekan peneliti studi Aurélie Coudurier-Curveur, seorang peneliti senior geosains laut di Institut Fisika Bumi Paris.

    Pelat itu terbelah sangat lambat dan begitu jauh di bawah air, hingga para peneliti hampir melewatkan apa yang mereka sebut "batas lempeng yang baru lahir." Tetapi dua petunjuk besar, yaitu dua gempa kuat yang berasal dari tempat yang aneh di Samudera Hindia menunjukkan bahwa kekuatan yang mengubah Bumi sedang terjadi.

    Pada 11 April 2012, gempa berkekuatan 8,6 dan 8,2 melanda di bawah Samudera Hindia, dekat Indonesia. Gempa bumi itu tidak terjadi di sepanjang zona subduksi, di mana satu lempeng tektonik meluncur di bawah yang lain. Sebaliknya, gempa-gempa ini berasal dari tempat yang aneh untuk terjadinya gempa bumi, yaitu di tengah lempeng.

    Rahmat mengatakan bahwa semua lempeng tektonik pada dasarnya terus mengalami pergerakan. Namun, pergerakan itu terjadi dalam waktu yang sangat lambat dan sangat kecil berdasarkan ukuran.

    Pergerakan itu terjadi karena lempeng tektonik tersebut, katanya, berdiri di atas sebuah cairan magma yang menyebabkannya terus bergerak. "Semua lempeng tektonik itu berdiri di atas sebuah cairan likuid. Kemudian bergerak, tapi bergeraknya itu sangat pelan," katanya.

    Hamparan benua yang terbentuk saat ini, kata dia, merupakan hasil dari pergerakan yang terjadi sejak jutaan tahun yang lalu.

    Pergerakan itu sering kali menyebabkan gempa bumi sehingga beberapa lempeng saling bergerak dan saling bertemu. Namun, ia mengatakan pergerakan tiap-tiap lempeng tersebut berbeda-beda. "Kalau di selatan Indonesia, Hindia-Australia itu sekitar 7-10 sentimeter per tahun. Ada yang bilang sekitar 6 sentimeter. Tetapi itu relatif," katanya.

    Jika yang dimaksud perpecahan dalam prediksi para ilmuwan itu berada di batas pertemuan lempeng besar yang terakumulasi dalam waktu puluhan tahun sehingga melepaskan energi dan menyebabkan gempa besar, menurutnya, hal itu bisa saja terjadi.

    Namun, tambahnya, jika perpecahan itu terjadi secara tiba-tiba dan dalam jarak yang cukup besar, hal tersebut tidak mungkin terjadi. "Kalau tiba-tiba pecah dengan jarak yang besar, enggak mungkin. Bisa kiamat nanti negeri ini. Tidak hanya negeri ini, tetapi juga bumi ini," demikian Rahmat Triyono.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.