Bola Api Melintasi Australia Diduga Puing Satelit Militer Rusia

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bola api melintasi Australia diduga puing satelit militer Rusia. Kredit: Twitter/Melissa Aldridge/Victorian Storm Chasers.

    Bola api melintasi Australia diduga puing satelit militer Rusia. Kredit: Twitter/Melissa Aldridge/Victorian Storm Chasers.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah bola api besar yang terlihat di bagian selatan Australia diyakini sebagai sisa-sisa roket Rusia yang membawa sistem peringatan rudal ke luar angkasa.

    Bola api, yang menerangi langit Australia pada akhir pekan, itu adalah puing-puing dari satelit militer Rusia yang terbakar ketika memasuki atmosfer Bumi dan menabrak laut, sebagaimana dilaporkan Daily Mail, Selasa, 26 Mei 2020.

    Objek itu terbang turun meninggalkan kepulan asap oranye dan dapat dilihat dari bagian Victoria tengah dan Tasmania utara di bawah. Para ahli mengatakan bola api itu berasal dari peluncuran satelit untuk jaringan satelit EKS Rusia pada hari Jumat. Sistem itu memberi Kremlin peringatan dini peluncuran rudal balistik.

    Kecepatan yang relatif lambat dari objek itu, yang telah ditangkap dalam rekaman video yang menakjubkan, menunjukkan kemungkinan puing-puing, menurut seorang ahli.

    "Kecepatan lambat, sekitar enam kilometer per detik, adalah tanda yang sangat jelas bahwa itu adalah sampah antariksa," ujar Jonti Horner, profesor astrofisika di University of Southern Queensland, kepada ABC. “Materi ekstra-terestrial seperti pecahan komet atau asteroid akan bergerak lebih cepat.”

    Sejumlah puing ruang seukuran ini juga bertepatan dengan peluncuran roket pembawa Soyuz-2 Rusia dari Plesetsk Cosmodrome di Rusia barat laut.

    Awak operasional Angkatan Udara Rusia meluncurkan roket pengangkut dengan satelit militer Kosmos-2546 milik Kementerian Pertahanan Rusia, kata badan antariksa Rusia Roscosmos.

    Soyuz-2 membawa muatan rahasia yang diyakini sebagai satelit keempat untuk jaringan peringatan rudal EKS OiBU di negara itu, menurut RussianSpaceWeb.com. “Tujuan utama dari sistem satelit adalah untuk mendeteksi dan melacak peluncuran rudal di seluruh dunia,” kata laman itu.

    Roket Soyuz lepas landas dan berpisah selama tiga tahap, meninggalkan puing-puing yang dibuang di belakangnya untuk mengapung kembali ke Bumi - tidak hanya di dekat Australia.

    Sebagai contoh, empat roket pendorong Soyuz-2 disingkirkan sekitar dua menit dalam penerbangan dan kemungkinan jatuh sekitar 350 kilometer di dekat Sungai Vychegda, Rusia. Selama tahap kedua, pembagian payload dibagi menjadi dua bagian. Fragmen kemungkinan jatuh di Dataran Siberia Barat, di sepanjang Sungai Om, utara Kazakhstan.

    Sembilan menit menuju penerbangan, selama tahap ketiga dan tahap terakhir pemisahan, fragmen memasuki lintasan sebelum memasuki kembali atmosfer Bumi.

    RussianSpaceWeb mengatakan bahwa puing-puing yang masih bertahan dari tahap ketiga seharusnya jatuh ke Samudra Pasifik, sebelah tenggara Tasmania, tempat ia tertangkap dalam film. Segera setelah itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan keberhasilan pengiriman satelit.

    Sekarang dilaporkan ada empat satelit yang membentuk sistem EKS di orbit, dengan setidaknya dua lainnya akan diluncurkan. Seluruh sistem rudal anti-balistik (ABM) dari satelit peringatan dini Rusia akan menggantikan serangkaian pesawat ruang angkasa kuno yang telah diluncurkan sejak tahun 1970-an.

    Bersama-sama, mereka akan memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada intelijen Rusia tentang peluncuran rudal balistik - rudal dengan lintasan melengkung tinggi - dari luar angkasa dalam kasus serangan nuklir.

    DAILY MAIL | ABC | RUSSIAN SPACE WEB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.