Menristek Minta Pindad Bantu Produksi Bus Listrik

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rantis 4x4 Maung dikembangkan selama satu tahun terakhir hasil kerja sama Pindad dengan divisi pasukan tempur jarak dekat TNI, yakni infanteri. Kendaraan itu berkategori kendaraan taktis ringan full bodi antipeluru dengan towing empat buah serta alat derek dengan beban tarik 4,5 ton. Twitter/PT Pindad

    Rantis 4x4 Maung dikembangkan selama satu tahun terakhir hasil kerja sama Pindad dengan divisi pasukan tempur jarak dekat TNI, yakni infanteri. Kendaraan itu berkategori kendaraan taktis ringan full bodi antipeluru dengan towing empat buah serta alat derek dengan beban tarik 4,5 ton. Twitter/PT Pindad

    TEMPO.CO, Bandung - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro meminta PT Pindad ikut membantu pengembangan kendaraan bus listrik dengan berbagai ukuran.

    “Barangkali Pindad dapat berkontribusi untuk pengembangan kendaraan terutama komponennya. Konsorsium lima universitas siap untuk bekerja sama, sehingga dapat menghasilkan bus listrik yang benar-benar hasil produksi Indonesia,” kata Menristek, dikutip dari rilis PT Pindad, Selasa, 8 Desember 2020.

    Bambang mengatakan pemerintah saat ini menginginkan Indonesia mampu memproduksi bus listrik dalam berbagai ukuran, baik berukuran besar, maupun medium. Badan Riset Inovasi Nasional saat ini tengah mengerjakan riset terintegrasi program mobil listrik dikerjakan bersama lima universitas. Bambang tidak merinci perguruan tinggi yang terlibat.

    Permintaan tersebut disampaikan di tengah kunjungan kerjanya di PT Pindad, Bandung, Selasa, 8 Desember 2020. Bambang sengaja berkunjung untuk melihat langsung hasil Reaserch and Development (RND) yang dilakukan Pindad dengan hasil berupa produk alutsista dan non-alutsista.

    “Sebelumnya saya kunjungan ke sini saat menjabat Kepala Bappenas mengapresiasi perkembangan teknologi Pindad mulai dari Anoa, Tank Harimau serta kualitas senjata dan amunisinya. Saat ini sebagai Menristek, saya ingin tahu sejauh apa Pindad mengembangkan hasil RND dan inovasi dalam pengembangan produk terkait alutsista dan non-alutsista,” kata dia.

    Sejumlah produk dihasilkan Pindad, mulai dari ekskavator hingga ventilator. “Salah satunya ekskavator, juga Alsintan yang dibutuhkan untuk sektor pertanian. Saat pandemi, Pindad juga terlibat dalam pembuatan ventilator. Mudah-mudahan pertahanan Indonesia bisa terus didukung oleh Pindad dan Kementerian Ristek akan terus mendukung apapun yang kami bisa dalam bidang riset dan teknologi,” kata Bambang.

    Direktur Utama PT Pindad Abaraham Mose memaparkan sejumlah produk Pindad. Pengembangan sejumlah produk Pindad misalnya berasal dari pendanaan Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN.

    Produk tersebut adalah Roket D230-RX 1210-RHAN 122B, Cloud Seeding Agent Tube (CoSAT 1000) Ejectable Cloud Seeding Agent Powder (ECoSAP), alat bantu perhitungan penembakan atau Mesin Hitung Mortir (MHM), sertifikasi kendaraan Badak Kanon 90 mm, Pindad Hydraulic Excavator 20 Ton, sistem kontrol integrasi Kendaraan Tempur berbasis Can Bus, industrialisasi Generator Sinkron 300 KVA 1500 RPM 400V 50 HZ Marine Generator, Central Tire Inflation System (CTIS) untuk roda ban kendaraan tempur, material Polimer Termoplastik untuk komponen senjata genggam, Powertrain kendaraan listrik untuk angkutan massal kapasitas 100 MW, prototype Coil Generator 8 MW 11 kV, Inverter Motor BLDC 5 kW sepeda motor listrik, Powertrain 1,5 kW sebagai penggerak roda belakang Becak listrik, serta material feedstock Metal Injection Molding (MIM) Fe 2 persen Ni untuk bahan baku material komponen senjata.

    AHMAD FIKRI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?