Pulmonologi Buktikan Tuberkulosis Sudah Ada Jauh Sebelum Candi Borobudur

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Tuberkulosis atau TBC. Shutterstock

    Ilustrasi Tuberkulosis atau TBC. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Laman DocDoc, menyebutkan pulmonologi adalah salah satu cabang ilmu kedokteran dan subspesialisasi dari ilmu kedokteran penyakit dalam. Pulmonologi mencakup pengobatan penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Cabang ilmu ini berkaitan dengan seluruh gangguan paru-paru, saluran pernapasan atas, rongga dada, dan dinding dada. Pulmonologi juga berkaitan dengan masalah yang menyerang hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan alveolus.

    Pulmonologi pun merupakan bagian dari pengobatan perawatan intensif karena melibatkan mesin penunjang hidup (life support) dan ventilasi mekanik bagi pasien yang membutuhkannya. Selain itu, cabang ilmu ini juga dikenal sebagai pneumologi dan pengobatan pernapasan.

    Dilansir dari laman Siloam Hospitals, beberapa lingkup Pulmonologi yaitu:

    1. Asma
    2. Penyakit Paru Obstruktif Paru (PPOK)
    3. Sleep Apnea
    4. Nodul Paru dan Kanker Paru
    5. Pneumonia
    6. Tuberkulosis

    Sedangkan Perawatan & Layanannya sendiir mencakup:

    1. Bronkoskopi
    2. Tes latihan untuk asma
    3. Pengujian fungsi paru
    4. Pemutaran paru-paru
    5. Tekanan airway positif
    6. Tes fungsi paru, dan
    7. Bedah toraks

    Sejarah Pulmonologi di Indonesia sendiri cukup panjang. Dikutip dari laman FK UI, penyakit paru sama tuanya dengan umur umat manusia. Menurut de Langen dan van Joost, dugaan tertua tentang penyakit ini di Indonesia berupa gambaran relief yang terdapat pada Candi Borobudur. Relief itu menggambarkan penderita tuberkulosis, yang menunjukkan bahwa tuberkulosis telah ada di antara mereka pada saat Candi Borobudur dibangun.

    Penemuan mikroskopis basil tuberkulosis oleh Robert Koch tahun 1882 merupakan langkah yang sangat maju untuk memastikan diagnosis tuberkulosis. Sebagian besar kasus tuberkulosis tidak ditemukan kuman dalam dahak sehingga peran foto toraks sangat membantu. Dengan alat Röntgen yang menggunakan sinar-x dapat dilihat berbagai gambaran kelainan di paru. Semenjak tahun 1926 alat Röntgen digunakan secara luas untuk menegakkan diagnosis kelainan paru.

    Sekitar 1930, Stichting Centrale voor Tuberculose Bestrijding (SCVT) didirikan di Indonesia dan diresmikan oleh Ny. de Jonge (istri Gubernur Jenderal Belanda pada waktu itu). Dokter pertama yang memimpin SCVT adalah dokter Van der Plaats, seorang ahli radiologi (röntgenoloog). Di bawah pimpinan dokter Van der Plaats dimulailah pemberantasan tuberkulosis paru di Indonesia secara besar-besaran. Para ahli penyakit paru menerima kenyataan bahwa berdirinya SCVT pada 1930 merupakan permulaan berkembangnya pulmonologi di Indonesia.

    NAUFAL RIDHWAN ALY 

    Baca: Imunoterapi, Alternatif Pengobatan Kanker Paru-paru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...