TEMPO.CO, Jakarta - Domestikasi terhadap satwa liar sering dilakukan dengan pertimbangan menyelamatkan kehidupan mereka. Namun, drh. Nur Purba Priambada memperingatkan bahwa tingkat kemungkinan stres satwa liar akan tinggi jika kebebasannya dibatasi. Jika sudah stres, satwa liar tersebut akan mudah sakit.
"Kalau penularan sakit di sesama hewan, masalahnya ada di hewan. Ketika menularkan ke manusia, itu penyakit zoonosis," ungkap Nur dalam talk show dengan tema 'Mencintai Satwa Liar Tidak Harus Memiliki' di Mal Sarinah pada Minggu, 10 September 2023. Acara ini diusung oleh Belantara Foundation sebagai upaya menebarkan komitmen konservasi satwa liar.
Menurut Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 6 Tahun 1976, zoonosis adalah penyakit yang dapat menyebar dari hewan ke manusia dan
sebaliknya. Cara penularannya, kata Nur, ada berbagai macam, di antaranya penularan secara langsung melalui gigitan dan cakaran hewan.
"Ini bisa menular dengan tanpa ngapa-ngapain aja di dalam ruangan yang sama. Agen penyakit yang menempel di mereka bisa menyebar dan tertular ke kita, lho," ujar pegiat kelestarian satwa liar tersebut.
Selain itu, penularan bisa juga terjadi lewat kontaminasi seperti air liur, darah, urin, atau feses hewan. Ada satu cara lagi yang disebut Nur sebagai cheat mode, yakni tanpa kontak langsung. "Tapi ada vektor pembawa lain seperti nyamuk atau lalat," tambah dia.
Beberapa contoh penyakit zoonosis yang terbukti berbahaya di antaranya tuberkulosis (TBC), hepatitis, dan rabies. Bahkan, sambung Nur, rabies pada hewan yang sudah belasan ribu tahun mengalami domestikasi sekalipun masih ada sampai sekarang. "Apalagi di satwa liar."
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia WHO, penyakit zoonosis termasuk demam Rift Valley, SARS, pandemi influenza H1N1 2009, demam kuning, flu burung, virus West Nile, dan virus corona sindrom pernafasan (MERS-CoV).
Secara global, diperkirakan ada satu miliar kasus penyakit dan jutaan kematian setiap tahun akibat zoonosis. Sekitar 60 persen dari penyakit menular yang dilaporkan bersifat zoonosis. Kemudian, lebih dari 30 patogen baru pada manusia telah terdeteksi dalam beberapa dekade terakhir, 75 persen di antaranya berasal dari hewan.
"HIV itu merupakan hasil dari mutasi penyakit zoonosis, lalu antraks, dan Covid-19 yang juga masih ada tendensi berasal dari penyakit zoonosis," tambah Nur.
Ia menegaskan bahwa dampaknya demikian berbahaya. "Hanya karena kita tidak bisa melihat agen penyakitnya yang kecil. Satwanya mungkin gak ngerasa sakit juga, kadang-kadang gak menimbulkan gejala. Tau-tau dia menularkan penyakit, tau-tau dia mati," tukas dia.
Menanggapi fakta tersebut, Davina Veronica yang aktif berperan dalam konservasi satwa liar, menambahkan penekanan pada berbahayanya risiko saling menularkan penyakit antara hewan dengan manusia.
Davina bercerita bahwa setiap kali dia akan pergi ke tempat rehabilitasi milik Borneo Orangutan Survival Foundation atau BOSF di Kalimantan Timur, dia harus selalu menjalani serangkaian tes. "HIV, TBC, hepatitis, semuanya di-screenning karena juga 97 persen DNA kita sama, kita bisa saling menularkan penyakit dengan mudah," ujar aktivis konservasi satwa liar itu dalam momen yang sama.
BOSF, kata Davina, mempunyai tempat rehabilitasi bagi orang utan yang tertular TBC dari manusia. "Ketika terinfeksinya dari manusia, dia tidak bisa menyembuhkan sendiri. Jadi, dia akan selamanya di pusat rehabilitasi," ungkapnya.
Apabila dilepasliarkan ke rumahnya, ada risiko penularan ke satwa lain. "Sekitar kalau gak salah ada 40. Itu sampai saat ini tidak bisa dilepasliarkan."
Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.