Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

7 Ekor Kukang Jawa Dilepasliarkan ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak

image-gnews
Sebanyak tujuh ekor kukang jawa atau nycticebus javanicus dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Provinsi Jawa Barat, pada Jumat, 19 Januari 2024. Kukang jawa yang dilepasliarkan sudah melewati masa rehabilitasi di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia. (Alif Ilham Fajriadi)
Sebanyak tujuh ekor kukang jawa atau nycticebus javanicus dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Provinsi Jawa Barat, pada Jumat, 19 Januari 2024. Kukang jawa yang dilepasliarkan sudah melewati masa rehabilitasi di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia. (Alif Ilham Fajriadi)
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak tujuh ekor kukang jawa atau Nycticebus javanicus dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Provinsi Jawa Barat, pada Jumat, 19 Januari 2024. Kukang jawa termasuk satwa dilindungi menurut PermenLHK Nomor 106 Tahun 2018. Saat ini statusnya sudah critically endangered atau mulai punah.

Pelepasan kukang jawa ke habitat aslinya dilakukan bersama tim gabungan yang terdiri dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Tujuh ekor kukang jawa yang dilepasliarkan sebagian berasal dari penyerahan oleh masyarakat kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat. Selain itu, ada hasil dari pelaporan perdagangan satwa, sebab kukang jawa kerap dipelihara dan diperjualbelikan untuk jadi hewan peliharaan.

Kepala Balai BKSDA Jawa Barat, Irawan Asaad, mengatakan kukang jawa itu sebelum dilepasliarkan sudah lebih dulu mendapatkan perawatan dan rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi YIARI. Seusai dinyatakan layak untuk dikembalikan ke habitat aslinya, maka kukang jawa dilepasliarkan.

"Kukang jawa yang dilepasliarkan kali ini berjumlah tujuh ekor. Kukang ini berasal dari penyerahan masyarakat kepada Balai BKSDA Jawa Barat. Kukang dinyatakan lulus untuk lepas liar, giginya lengkap dan sehat," kata Irawan saat diwawancarai Tempo di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Irawan menegaskan, langkah konservasi yang baik untuk penyelamatan satwa adalah mengembalikannya ke habitat asalnya, misalnya kukang jawa yang dilepasliarkan ke hutan. Masyarakat dan segenap unsur pemerintahan harus turut andil dalam menjaga satwa ini, supaya keberadaannya tidak semakin punah.

Kendati demikian, menurut Irawan, ada pula satwa yang tetap berada di pusat rehabilitasi akibat kondisi satwa tersebut yang belum atau tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan, bisa saja karena sakit atau cacat.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Mereka (kukang jawa) harus beradaptasi kepada alam di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Saat ini satwa akan terus dipantau ke lokasi pelepasan hingga beberapa waktu ke depan, sebelum akhirnya dibiarkan bebas," ucap Irawan.

Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak adalah habitat untuk kukang jawa, Irawan menyebut kukang jawa salah satu satwa endemik dan populasinya harus terus dilindungi. Selain kukang jawa, menurut Irawan, juga ada macan tutul dan elang jawa yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

"Dukungan dari masyarakat sekitar sangat kita syukuri, mereka memiliki pendapat bahwa kukang jawa adalah hewan yang sakral dan sangat dihormati, jadi ini bisa mendukung pula sebagai upaya konservasi kita, supaya populasinya tetap terjaga," ujar Irawan.

Sementara itu, Ketua Program YIARI, Karmele Llano Sanchez sangat mengapresiasi kerja sama dari berbagai pihak untuk dilepasliarkannya kukang jawa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. "Semoga kesadaran semua pihak ini mampu untuk menjaga satwa supaya terus dilindungi kelestariannya," kata Karmele dari keterangan resmi yang diterima Tempo.

Dari tujuh ekor kukang jawa yang dilepasliarkan, enam di antaranya jantan dan satu betina. Kukang jawa ini diberi nama masing-masingnya Paw-paw, Klap, Kilat Teru, Ciban, Cibon dan Ciben.

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Iklan

Berita Selanjutnya



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


BRIN Gunakan Teknologi Terdepan eDNA untuk Meneliti Satwa di Pulau Nusa Barong

40 hari lalu

Tim Ekspedisi Pulau Nusa Barong BRIN tiba di pantai Teluk Jeruk pada Minggu, 19 Mei 2024, atau hari kelima ekspedisi. (TEMPO/Abdi Purmono)
BRIN Gunakan Teknologi Terdepan eDNA untuk Meneliti Satwa di Pulau Nusa Barong

Tim BRIN dibantu Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur.


Enam Kukang Jawa Dilepasliarkan ke Gunung Papandayan, Sempat Diperdagangkan dan Kena Infeksi Gigi

10 Mei 2024

Seekor kukang Jawa (Nycticebus javanicus) mendaki batang pohon saat dilepas ke habitat alaminya di Cagar Alam Gunung Tilu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 24 Oktober 2023. Tepat di hari Owa Internasional, Aspinnal Foundation Indonesia melepas liar 16 satwa endemik Pulau Jawa yang terdiri diri 2 ekor owa Jawa, 11 ekor landak Jawa (Hystrix javanica), 3 ekor kukang Jawa (Nycticebus javanicus), seekor trenggiling Jawa (manis javanica), termasuk 2 ekor elang ular bido (Spilornis cheela) di Gunung Tilu. TEMPO/Prima Mulia
Enam Kukang Jawa Dilepasliarkan ke Gunung Papandayan, Sempat Diperdagangkan dan Kena Infeksi Gigi

Enam kukang jawa dilepasliarkan ke Gunung Papandayan. Sempat direhabilitasi di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia.


Antisipasi Konflik Warga Bandung dengan Kawanan Monyet, BBKSDA Jabar Siapkan Kandang Jebak

6 Maret 2024

Kawanan monyet ekor panjang yang memasuki kawasan permukiman di Kota Bandung. Cuplikan video netizen
Antisipasi Konflik Warga Bandung dengan Kawanan Monyet, BBKSDA Jabar Siapkan Kandang Jebak

Sekelompok monyet itu sejauh ini diketahui pertama kali muncul di daerah Dago.


Kawah Ijen Buka Lagi Mulai 6 Januari, Simak Persyaratan Baru bagi Pengunjung

5 Januari 2024

Pengunjung melihat kawah dari kaldera Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu, 4 Juni 2023. TWA Ijen yang telah ditetapkan sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGG) itu ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara saat liburan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Kawah Ijen Buka Lagi Mulai 6 Januari, Simak Persyaratan Baru bagi Pengunjung

Pengunjung TWA Kawah Ijen harus memenuhi enam syarat, salah satunya adalah membawa surat keterangan sehat dari dokter.


Gajah Sumatera Mati di Sungai Mas Aceh Barat, BKSDA Telusuri Penyebab Kematian

21 Desember 2023

Petugas BKSDA Aceh berada didekat bangkai gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) sebelum proses nekropsi atau pembedahan di kawasan hutan Desa Lancong, Sungaimas, Aceh Barat, Aceh, Rabu, 20 Desember 2023. ANTARA/Syifa Yulinnas
Gajah Sumatera Mati di Sungai Mas Aceh Barat, BKSDA Telusuri Penyebab Kematian

Anak gajah berusia lima tahun itu ditemukan dalam kondisi tergeletak di pinggir sungai.


Harimau Sumatera Muncul di Kampung, BBKSDA Riau: di Habitat Alaminya

22 Oktober 2023

Harimau Sumatera. Kredit: Antara/HO-Humas BBKSDA Riau
Harimau Sumatera Muncul di Kampung, BBKSDA Riau: di Habitat Alaminya

BBKSDA Provinsi Riau memasang kamera jebakan karena ada laporan kemunculan Harimau Sumatera di kilometer 14 di Kabupaten Siak.


Hutan di Pulau Jawa Tersisa 24 Persen, 5 Hewan Endemik Ini Terancam Punah

17 Oktober 2023

Anak owa Jawa saat dipeluk erat oleh induknya di dalam kandang kebun binatang Praha. Binatang khas Jawa ini, dikirim ke kebun binatang Praha pada tahun 2014. Praha, Republik Ceko, 3 Agustus 2015. Matej Divizna / Getty Images
Hutan di Pulau Jawa Tersisa 24 Persen, 5 Hewan Endemik Ini Terancam Punah

Hutan di Pulau Jawa terus berkurang. Lebih sedikit dari batas 30 persen yang tertulis dalam UU Kehutanan, 5 hewan endemik ini terancam punah.


5 Jembatan Gantung Populer untuk Wisata di Bogor dan Sukabumi

23 Agustus 2023

Jembatan Gantung Lembah Purba di Sukabumi. TEMPO/Nufus Nita Hidayati
5 Jembatan Gantung Populer untuk Wisata di Bogor dan Sukabumi

Di tengah alam yang asri, wisatawan bisa menikmati pengalaman melewati jembatan gantung. Ada yang diklaim terpanjang di Asia Tenggara.


BBKSDA Papua Melepasliarkan 114 Ekor Herpetofauna di Hutan Cagar Alam Pegunungan Cycloop

28 Juli 2023

Balai Besar Konservasi Sumber Daya atau BBKSDA Papua melepasliarkan 114 ekor satwa herpetofauna endemik Papua di sekitar hutan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. (Instagram/BBKSDA Papua)
BBKSDA Papua Melepasliarkan 114 Ekor Herpetofauna di Hutan Cagar Alam Pegunungan Cycloop

Sebelumnya, BBKSDA Papua menerima 71 ekor satwa liar dilindungi dari Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura.


BBKSDA Papua Terima 100 Burung Dilindungi untuk Dilepasliarkan

19 Juni 2023

BBKSDA Papua melepasliarkan 62 ekor aves pada Sabtu, 17 Juni 2023, di Hutan Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua. (BBKSDA)
BBKSDA Papua Terima 100 Burung Dilindungi untuk Dilepasliarkan

Berbagai burung yang kembali ke rumahnya berasal dari BKSDA DKI Jakarta, BKSDA Kalimantan Tengah dan BBKSDA Jawa Timur.