PDA Untuk Melawan Malaria

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - HARI-hari ini, ketika anak-anak muda Jakarta ramai-ramai menonton Harry Potter and the Half-Blood Prince di bioskop, ribuan anak di belahan dunia lain justru tengah menanti kemunculan tongkat ajaib untuk menghadapi serangan nyamuk. Voldermortnya adalah malaria. Setiap tahun, 1-3 juta anak meninggal di seluruh dunia karena serangan malaria.

    Di beberapa negara tempat malaria berjangkit, termasuk Indonesia, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan, sulitnya akses ke rumah sakit, dan lambatnya perkembangan teknologi menjadi kendala terbesar penanggulangan wabah ini.

    Untunglah, ada David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas Putranto, dan Samuel Simon. Empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung ini memperkenalkan sebuah perangkat baru yang disebut PDA-Scope.

    PDA-Scope adalah perangkat yang dilengkapi peranti lunak Malaria Observation System and Endemic Surveillance alias MOSES. Dengan peranti lunak ini, teropong yang dihubungkan dengan PDA atau telepon genggam--yang dilengkapi kamera berkapasitas dua megapiksel--bisa mendeteksi kemungkinan serangan malaria melalui sampel darah yang diteropong.

    Dengan PDA-Scope, peneropongan sampel darah tak lagi dengan memicingkan mata ke ujung teropong, tapi cukup melihat layar telepon. Di layar telepon, benda berukuran mikroskopik pada sampel darah bisa dilihat dengan pembesaran seribu kali. Data di layar itulah yang menjadi dasar diagnosis malaria bagi pasien.
    Karya itu meraih Windows Mobile Award (WMA) di ajang Imagine Cup di Kairo, Mesir, dua pekan silan. WMA adalah penghargaan khusus bagi tim kreator yang menggunakan perangkat portabel dalam teknologi yang mendukung mobilitas tinggi.

    Perjuangan meraih penghargaan itu cukup berat. David Samuel dkk., yang bergabung dalam tim Big Bang, memang sempat berhasil mengundang decak kagum dewan juri dalam lomba Imagine Cup untuk kategori bergengsi, desain peranti lunak. Tapi, menjelang sore, ketika panitia mengumumkan 12 tim terbaik, tim Big Bang harus menerima kenyataan tak bisa lanjut ke babak berikutnya. "Tentu saja kecewa," kata David. Sebagai hiburan, panitia pun menyediakan paket perjalanan rekreasi keliling Kota Kairo.

    Sehari setelah jalan-jalan keliling kota, tim Big Bang kembali ke Hotel International City Stars, tempat mereka menginap di kota seribu masjid itu. Meski masih diliputi rasa kecewa, mereka tetap bersiap untuk pameran di tempat yang sama keesokan harinya. Semua tim, termasuk yang tersisih, mendapat kesempatan memperkenalkan karyanya kepada pengunjung, wartawan, dan juri. "Pameran ini juga dinilai juri," kata Dody Dharma.

    Rasa kecewa karena tersisih di kompetisi hilang karena antusiasme pengunjung. "Banyak pertanyaan, dan mereka minta nomor kontak kami," katanya.
    Empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung itu pun tenggelam melayani keingintahuan pengunjung akan karya mereka. Upaya ini ternyata tak sia-sia. Sehari kemudian, panitia lomba mengganjar tim Big Bang beserta PDA-Scope-nya dengan penghargaan WMA itu.

    Menurut Dody, MOSES, yang memakai perangkat berbasis sistem operasi Windows Mobile, dianggap paling implementatif. Pada saat penjurian, mereka telah memperbaiki alat PDA-Scope yang dibuat sendiri dari pipa paralon. Versi alat terbaru itu mikroskopnya dibuat lebih akurat, tahan getar, dan telepon genggam yang dihubungakan untuk memotret sampel darah di ujung lensa mudah dilepas.

    Pilihan untuk membuat gadget pendeteksi malaria diputuskan karena penyakit ini masih menjangkiti penduduk di daerah tropis, terutama di kawasan terpencil. Awalnya, selain untuk malaria, tim Big Bang mempertimbangkan AIDS dan TBC. Ketiganya selama ini tercatat sebagai penyakit berbahaya yang banyak merenggut nyawa manusia.
    Setelah berkonsultasi dengan dokter, AIDS dan TBC disingkirkan karena terlalu riskan dan memerlukan kehati-hatian. AIDS berbahaya karena sampel darah penyandangnya mengandung virus dan bisa menular. Begitu juga TBC, kalau terkena dahak penderita. Akhirnya malaria menjadi pilihan. "Dari literatur kita juga melihat ini pembunuh nomor satu di daerah tropis," kata David.

    Malaria adalah penyakit yang penularannya melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Di Indonesia, telah ditemukan 46 spesies nyamuk anopheles, 20 di antaranya menularkan malaria. Penyebab malaria adalah parasit plasmodia dari famili plasmodiidae dan ordo coccidiidae.

    Di Indonesia ada empat parasit malaria, yaitu plasmodium falciparum, penyebab malaria tropika yang menyebabkan pasien sakit berat; plasmodium vivax penyebab malaria tertina; plasmodium malaria penyebab malaria quartana; dan plasmodium ovale yang umumnya terdapat di Afrika dan Pasifik. Bila ditangani sebelum 48 jam sejak gigitan nyamuk, penderita dipastikan baik-baik saja. Tapi, jika terlambat, nyawanya terancam.

    MOSES dibuat untuk memudahkan proses diagnosis terhadap pasien yang tinggal di pelosok tanpa ada dokter. Biasanya proses diagnosis makan waktu empat hari. Dengan MOSES, proses itu menjadi cuma sepuluh menit, dan hasil diagnosis sudah bisa diketahui pasien paling lama satu hari.

    Cara kerjanya mudah. Ketika pasien datang, bidan menanyakan keluhan pasien, dilanjutkan dengan pemeriksaan suhu tubuh dan pengambilan contoh darah. Dengan cara yang berlaku saat ini, proses itu berlangsung setengah jam. Tapi, menurut perhitungan tim Big Bang, tahapan itu bisa dipersingkat paling lama hanya 10 menit.
    Dari daerah terpencil, data suhu tubuh dan contoh darah harus dikirim ke laboratorium atau rumah sakit besar untuk diperiksa. Jarak yang jauh, apalagi dengan keterbatasan transportasi, membuat hasil pemeriksaan baru bisa diketahui beberapa hari kemudian.

    MOSES mempersingkat pengiriman manual itu. Dengan PDA-Scope, petugas medis bisa menjepret sampel darah. Dengan layanan MMS (multimedia messaging service), gambar sampel darah pasien itu dikirim beserta data suhu tubuh ke dokter, lab, atau rumah sakit. Data tertulis mengenai kondisi pasien bisa dikirim terpisah lewat pesan singkat.

    Tim Big Bang juga melengkapi MOSES dengan termometer digital yang ujung sensornya dikempitkan ke ketiak pasien. Tujuannya, mempercepat pemasukan data suhu tubuh pasien ke PDA. "Tapi pakai termometer biasa juga bisa," ujar David.

    Selain untuk menolong pasien, data yang dikirimkan bisa memperkaya sampel darah sekaligus menjadi bank data penderita malaria. Data yang dikirimkan tidak cuma sampel darah dan suhu tubuh, tapi juga data diri, foto pasien, dan lokasi terjangkit. Kelengkapan data ini sangat berguna bagi pemerintah, yang pada Mei lalu mencanangkan Indonesia bebas malaria pada 2030.

    Alat pendeteksi malaria ini mulai dirancang sejak Februari lalu. Anggota tim mendapat tugas berbeda. Antara lain, Dody Dharma kebagian merancang bagian antarmuka (interface) sistem MOSES. Samuel Simon membuat program agar PDA-Scope bisa tersambung ke PDA atau telepon genggam. Modal dikumpulkan dari kocek mereka sendiri, yang mencapai Rp 10 juta. Pembelian bahan yang cukup menguras dana adalah mikroskop standar dan digital.

    Mikroskop yang diperlukan adalah yang sanggup melakukan perbesaran obyek hingga seribu kali. Supaya tampilan ketika difoto sama seperti yang terlihat di lensa dekat preparat kaca berisi contoh darah, tabung lensa diperbesar. Bahan yang digunakan adalah pipa plastik berukuran panjang 16 sentimeter dan bergaris tengah 1,5 inci. "Yang paling murah dan gampang dicari itu paralon," kata David. Jadi, dari dua mikroskop itu, mereka hanya mengambil lensa, lampu penerang preparat, dan sekrup micrometer untuk pergeseran preparat.

    Setelah jadi, alat perlu diuji coba dengan contoh darah asli pasien malaria. Lewat bantuan teman di Papua, tim mendapatkan sampel darah di daerah kaya nyamuk malaria. Dua sampel darah dikirim ke Bandung. Masing-masing mengandung plasmodium vivax dan plasmodium falciparum. "Sangat berharga kami bisa dapat dua parasit sekaligus," kata David.

    Sukses mendapat gambar plasmodium, mereka memaparkan MOSES kepada Dinas Kesehatan Jawa Barat. Mereka juga mendemonstrasikan pengiriman data pasien lewat MMS dan SMS yang ditangkap server. Server, yang kelak bisa ditempatkan di mana saja, berfungsi sebagai perekam lalu lintas pengiriman data dari bidan daerah terpencil ke dokter, laboratorium, atau rumah sakit, dan sebaliknya.

    Sayang, sejauh ini, belum ada respons dari instansi kesehatan terhadap temuan tim Big Bang. "Padahal kita sudah punya kerangkanya, tinggal mereka mau atau tidak. Ini membuat kami bingung," kata David.

    Adek Media, Anwar Siswadi (Bandung)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?