Bahaya di Hidung Pesawat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +

  • TEMPO Interaktif, Washington - Jatuhnya pesawat Air France ke Samudra Atlantik pada Juni lalu ternyata mengungkap "kelemahan" pada pesawat Airbus. Kelemahan tersebut selama ini luput dari perhatian. Siapa sangka, alat pembaca kecepatan terbang yang amat penting untuk menjaga pesawat tetap mengapung di udara ternyata kerap mengalami malfungsi.
    Kegagalan sensor kecepatan terbang atau lebih dikenal dengan nama tabung pitot itu tak cuma dialami pesawat Air France dengan nomor penerbangan 447 dari Rio de Janeiro, Brasil, menuju Paris, Prancis, tapi juga pesawat Airbus milik maskapai Amerika Serikat. Tabung pitot atau pitot tube adalah alat pengukur kecepatan pesawat di udara yang terpasang di kedua sisi hidung pesawat.
    Sebetulnya ini bukan pertama kalinya sensor kecepatan atau tabung pitot buatan Thales itu dilaporkan rusak. Sejak 2008, beberapa pilot telah melaporkan adanya masalah dengan sensor tersebut.
    Para penyelidik federal Amerika Serikat menemukan bahwa dalam sedikitnya belasan penerbangan yang dilakukan maskapai udara Amerika Serikat belakangan ini, pilot tak bisa mengetahui seberapa cepat mereka terbang akibat tak berfungsinya tabung pitot. Kerusakan alat pengukur kecepatan terbang ini dipercaya sebagai penyebab jatuhnya pesawat Air France yang menewaskan 228 awak dan penumpangnya pada Juni lalu.
    Penemuan ini mengungkap bahwa masalah gagal berfungsinya peralatan tersebut ternyata jauh lebih luas daripada yang diduga. Hasil penyelidikan itu membuat masalah penggantian sensor udara semakin mendesak untuk segera direalisasikan serta menelusuri bagaimana gangguan tersebut bisa terjadi berulang kali tanpa terdeteksi sistem keamanan terbang.
    Kegagalan alat tersebut membaca kecepatan terbang itu seluruhnya terjadi pada pesawat Airbus A330 Northwest Airlines, dan umumnya berlangsung singkat. Kasus malfungsi itu baru diketahui setelah pejabat keamanan udara mulai menginvestigasi kecelakaan Air France dalam penerbangan dari Rio de Janeiro menuju Paris dan dua kasus malfungsi di udara lainnya.
    Kasus malfungsi tabung pitot ini jauh lebih serius dibanding rusaknya speedometer yang terdapat pada mobil atau motor. Bila sebuah speedometer mobil menggunakan rotasi ban untuk menghitung kecepatan, sebuah pesawat mengandalkan sensor tabung pitot untuk mengukur perubahan tekanan udara. Komputer kemudian menginterpretasikan informasi itu sebagai kecepatan.
    Rusaknya speedometer mobil mungkin hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengemudi. Namun, sistem kendali pesawat amat mengandalkan informasi kecepatan yang akurat agar bisa bekerja dengan semestinya. Terbang terlampau cepat dapat menyebabkan terjadinya masalah struktural pada pesawat, sebaliknya terbang terlalu lambat dapat menyebabkan pesawat kehilangan daya angkat dan jatuh.
    Seperti apa yang terjadi pada penerbangan Air France yang jatuh ke Atlantik, insiden yang dialami pesawat milik Northwest dan dua kasus malfungsi lain itu melibatkan pesawat yang menggunakan sensor buatan perusahaan elektronik besar Eropa, Thales Corp.
    Jatuhnya Air France memancing munculnya pertanyaan terhadap reliabilitas sensor dan memicu desakan untuk segera mengganti alat tersebut. "Kami meminta maskapai memodifikasi tabung pitot dengan sensor lain yang tidak menjadi obyek keluhan," kata Erick Derivry, juru bicara serikat pilot nasional Prancis (SNPL).
    Meski demikian, sejumlah perusahaan hanya mengganti tabung pitot pesawatnya dengan sensor model lain buatan Thales juga. Ketika Airbus dan badan pengawas penerbangan Eropa menyadari bahwa masalahnya lebih luas, mereka meminta perusahaan maskapai penerbangan untuk mengganti sedikitnya dua dari tiga sensor di tiap pesawat dengan model buatan Goodrich Corp., perusahaan asal North Carolina. Pesawat tetap diperbolehkan terbang setelah perubahan dilakukan.
    Pejabat Thales menolak berkomentar. Sebelumnya, perusahaan itu menyatakan bahwa sensor itu dibuat sesuai dengan spesifikasi Airbus.
    Insiden yang dialami pesawat milik Northwest terungkap ketika Delta Air Lines, yang tahun lalu bergabung dengan Northwest, meninjau arsip data penerbangan 32 pesawat Airbus A330 di maskapai tersebut. Seluruh insiden malfungsi terjadi di atas Zona Konvergensi Intertropikal, daerah pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan selatan, yang membentang dari lima derajat lintang utara di khatulistiwa sampai lima derajat lintang selatan. Untungnya, semua pesawat yang mengalami sensor malfungsi itu mendarat dengan selamat.
    Pakar aviasi mengatakan bahwa temuan itu dapat memberikan petunjuk tentang penyebab pesawat Air France jatuh ke Atlantik pada 1 Juni lalu. Temuan ini diharapkan dapat membantu mencari apa yang harus dilakukan untuk mencegah tragedi itu terulang kembali.
    Hasil investigasi penyelidik Prancis telah terfokus pada kemungkinan bahwa sensor pesawat nahas itu telah membeku tertutup es dan mengirimkan informasi kecepatan yang salah kepada komputer ketika pesawat itu menembus badai petir pada ketinggian 10.668 meter.
    Sebuah bagian penting dari investigasi itu difokuskan pada 24 pesan otomatis yang dikirimkan pesawat itu dalam menit-menit terakhirnya. Pesan itu menunjukkan bahwa autopilot tidak bekerja, tapi belum jelas apakah pilot sengaja mematikannya atau sistem itu mati karena pembacaan kecepatan terbang yang bertentangan.
    Tiga pekan setelah jatuhnya Air France, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) mengumumkan bahwa mereka tengah mengusut dua penerbangan pesawat Airbus A330 lain yang juga mengalami hilangnya data kecepatan terbang.
    Kasus terakhir terjadi pada 23 Juni, ketika sebuah pesawat Northwest terbang menerjang hujan dan turbulensi di dekat Kagoshima, Jepang. Menurut laporan NTSB, data kecepatan mulai berfluktuasi. Sistem komputer pesawat memberi tahu pilot bahwa pesawat terbang terlalu cepat. Autopilot dan sistem lainnya mulai padam, membuat hampir seluruh kendali pesawat berada di tangan pilot, sesuatu yang biasanya hanya terjadi dalam keadaan darurat.
    Kejadian lainnya berlangsung pada Mei, saat itu sebuah pesawat milik TAM Airlines, perusahaan Brasil, kehilangan data ketinggian dan kecepatan terbangnya ketika terbang dari Miami menuju Sao Paulo, Brasil. Autopilot dan tenaga otomatis juga mati, dan pilot harus mengambil alih kendali pesawat, menurut laporan NTSB. Sistem komputer kembali menyala lima menit kemudian. "Dua kasus ini bisa ditangani dengan efektif oleh para awak pesawat dan kami menduga inilah yang terjadi pada Air France dan mungkin peristiwa itu tak bisa ditangani secara efektif," kata Bill Voss, presiden Flight Safety Foundation di Alexandria, Virginia.
    Morgan Durrant, juru bicara US Airways, yang juga mengoperasikan Airbus A330, menyatakan belum ada laporan terjadinya masalah tersebut pada 11 pesawatnya. Meski demikian, Delta/Northwest dan US Airways belum lama ini telah mengganti tabung pitot lama dengan tabung model baru buatan Thales juga. Kedua perusahaan itu menyatakan kini mereka mulai mengganti sensornya dengan tabung bikinan Goodrich.
    Tindakan kedua maskapai Amerika itu ternyata juga diikuti oleh Air France yang memutuskan untuk menggunakan sensor buatan Goodrich. Keputusan itu diambil menyusul gencarnya desakan untuk meninggalkan tabung pitot buatan Thales. Pada Juni lalu, serikat pilot Air France mendesak anggotanya untuk menolak menerbangkan Airbus A330 dan A340 kecuali sensor Thales telah diganti.
    TJANDRA DEWI | AP | NTSB | REUTERS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.