Dunia Dalton Kini Penuh Warna

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Seattle - Dalton menatap layar komputer penuh bintik biru kelabu dengan penuh semangat. Ketika layar menampilkan kumpulan bintik berwarna merah di antara bintik kelabu, dengan cepat Dalton membenturkan wajahnya ke bintik berwarna cerah itu. Segera setelah menunjuk kelompok warna itu, Dalton merunduk untuk menyedot jus jeruk, hadiah untuk ketepatannya menunjuk warna.
    Sepintas kita akan mengira hal itu bukan sesuatu yang luar biasa. Namun, bagi Dalton, monyet bajing (Saimiri sciureus) yang terlahir buta warna, dapat membedakan warna merah dan hijau dari warna lainnya adalah sebuah mukjizat.
    Pengalaman baru itu dapat dinikmati Dalton berkat terapi gen yang diberikan sejumlah ilmuwan Amerika Serikat. Mereka memakai terapi gen untuk memberi penglihatan full color pada dua monyet bajing, yang sejak lahir tak bisa membedakan antara warna merah dan hijau. Suatu hari kelak, teknik ini dapat digunakan pada orang buta warna atau masalah penglihatan lain.
    Sebelum diterapi, Dalton dan Sam, monyet bajing lainnya, hanya dapat melihat biru dan kuning. Buta warna merah dan hijau itu tak hanya dialami kedua monyet asal Amerika Selatan dan Tengah, melainkan seluruh monyet bajing jantan. Mereka tak memiliki satu reseptor pada mata yang membuat mereka bisa melihat merah dan hijau. Sebaliknya, monyet bajing betina memiliki reseptor tersebut dan dapat melihat seluruh spektrum warna.
    Para peneliti University of Washington, Amerika Serikat, menggunakan Dalton dan Sam untuk menguji teknik terapi gen yang dikembangkan untuk memprogram ulang sejumlah reseptor warna pada mata monyet jantan. Riset ini sempat diremehkan para ilmuwan lain, yang skeptis terhadap pendekatan tersebut, kata Jay Neitz, seorang dosen ophthalmology di University of Washington, Amerika Serikat.
    "Saya bertanya kepada semua rekan sesama neuroscientist, 'Jika saya melakukan hal ini pada seekor monyet dewasa, apakah hal tersebut dapat membuat mereka bisa melihat warna?'" kata Neitz. "Semua menyatakan, 'Tidak mungkin bisa.'"
    Para ilmuwan skeptis itu memberi tahu Neitz bahwa sekalipun reseptor baru itu bekerja sebagaimana mestinya, mata baru monyet tersebut tampaknya tak mungkin bisa berkomunikasi dengan otak lama. Dengan alasan itu, tak ada jalur untuk membawa informasi merah dan hijau ke otak atau sirkuit mana pun untuk memprosesnya.
    Meski semua koleganya memberi pandangan negatif, Neitz dan timnya tetap berkukuh mencoba melanjutkan eksperimen tersebut. Mereka menyuntikkan virus tak berbahaya yang mengirimkan gen terapeutik pada retina ke mata dua monyet bajing. Gen terapeutik, yang diperkenalkan kepada sel pencitra cahaya di belakang mata monyet jantan itu, mengandung kode DNA yang diperlukan sel reseptor agar bisa membedakan warna merah dan hijau.
    Dalton, yang namanya diambil dari John Dalton, ilmuwan Inggris yang pertama kali mendeskripsikan buta warna, mendapat giliran pertama. Monyet bajing jantan itu disodori layar komputer yang menampilkan deretan bulatan berwarna kelabu dengan beberapa bulatan merah atau hijau di antaranya. Jika dapat menunjuk bulatan berwarna dengan benar, Dalton berhak atas hadiah seteguk jus jeruk.
    Buat Dalton, yang buta warna sejak lahir, sulit baginya untuk membedakan bintik merah atau hijau itu dengan bintik kelabu lainnya. Semua bintik itu terlihat sama di matanya, berwarna abu-abu.
    Selama beberapa bulan pertama, tak ada perubahan yang terlihat. Setiap hari, Dalton mencoba dan gagal. Ketika waktu berlalu tanpa perubahan, Neitz mulai cemas. Namun, dia tak terlalu kaget dengan perkembangan risetnya. Eksperimen sebelumnya menunjukkan bahwa proses terapi gen butuh waktu sekitar lima bulan untuk memprogram ulang jumlah minimum sel reseptor yang diperlukan.
    Tepat setelah lima bulan berlalu, Dalton mulai menunjuk target yang tepat setiap kali diperlihatkan gambar bintik-bintik warna merah dan hijau yang dikelilingi bintik abu-abu. "Awalnya kami berkata, 'Mungkin dia cuma sukses menebaknya hari ini,'" kata Neitz. "Tapi, setelah beberapa hari, jelaslah bahwa dia tidak menebak-nebak. Itu yang membuat kami terkejut."
    Khasiat terapi gen itu kian kukuh dengan keberhasilan Sam, monyet bajing lainnya, menunjuk bintik warna yang benar. Neitz menyatakan kedua monyet itu tampaknya lebih bersemangat dibanding sebelumnya. "Mereka seperti seorang anak yang baru masuk, dan tak ingin memberi jawaban yang salah dalam sebuah tes," ujarnya. "Kini mereka amat gembira menjadi pelajar bernilai A."
    Tes menunjukkan bahwa terapi gen itu sukses. Kedua monyet jantan itu kini memiliki pigmen cahaya yang dibutuhkan untuk melihat semua jenis warna dan tak pernah salah lagi dalam tes bintik. Meski terapi dilakukan dua tahun lalu, penglihatan Sam dan Dalton tetap stabil hingga saat ini.
    Keberhasilan Dalton dan Sam membantah semua keraguan yang sempat diutarakan para kolega Neitz. Kini para ilmuwan yang mempelajari penglihatan warna menyebut kisah kedua monyet jantan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature itu amat mengejutkan dan menggugah rasa ingin tahu.
    Gerald Jacobs, seorang profesor riset di University of California, Santa Barbara, menyatakan formula Neitz sangat luar biasa karena teknik itu bekerja dengan sempurna pada seekor binatang dewasa. Riset sebelumnya memperlihatkan bahwa otak kehilangan sebagian besar kemampuannya untuk menyerap informasi visual jenis baru selepas masa kanak-kanak.
    Namun, Jacobs menambahkan bahwa otak monyet buta warna itu tampaknya siap menerima masukan baru tentang warna. Dia menyatakan ini mungkin lantaran primata, termasuk manusia, sudah mempunyai sebuah jalur dari retina yang dirancang untuk mengekstrak informasi warna.
    Robert Shapley, ilmuwan di Center for Neural Science, New York University, menyatakan hal yang paling memukau adalah kecepatan otak monyet merespons begitu sel reseptor yang diprogram ulang mulai aktif. "Hampir tak ada penundaan," ujarnya. "Ini benar-benar sangat luar biasa."
    Meski studi lebih lanjut diperlukan, para ilmuwan yakin hasil eksperimen ini merupakan pertanda baik bagi orang yang menderita buta warna. "Tak ada alasan untuk berpikir bahwa monyet dan manusia sangat berbeda dalam cara menginterpretasi sinyal warna dari mata mereka," kata Shapley.
    Para ilmuwan bahkan menyatakan terapi gen semacam ini suatu saat kelak bisa digunakan untuk mengobati beragam masalah penglihatan, bukan hanya buta warna.
    Tim Neitz akan terus memantau binatang itu untuk mengevaluasi efek jangka panjang pengobatan tersebut. Mereka berharap terapi serupa dapat membantu orang yang buta warna. "Ini menyediakan pandangan positif bagi potensi terapi gen untuk menyembuhkan orang dewasa yang mengalami kelainan itu," kata Neitz.

    TJANDRA DEWI | NEITZVISION | NPR | DAILYMAIL | TELEGRAPH



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?