A380 Pesawat Superjumbo Proyek Ambisius Eropa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Wong Maye-E

    AP/Wong Maye-E

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Pesawat Qantas A380 mengalami kerusakan mesin saat terbang dari Changi, Singapura menuju Sydney, Australia pada Kamis (4/11). Pesawat superjumbo yang memiliki kapasitas maksimal 840 penumpang itu akhirnya kembali ke Singapura. 

    Menurut laporan terakhir salah satu dari dua mesin di sayap kiri terbakar. Serpihannya tercecer di kawasan industri di Batam. Begitu mendarat di Changi, sebanyak enam mobil pemadam kebakaran langsung mengelilingi, cairan warna cokelat disemprot ke pesawat tersebut. Belum diketahui penyebab kerusakan salah satu mesin itu. Yang pasti, seluruh penumpang dan awak pesawat selamat. 
     
     
    Pesawat A380 memiliki empat mesin buatan Rolls-Royce. Dalam catatan Tempo, pesawat ini pertama kali diperkenalkan ke publik pada 18 Januari 2005. Namun baru mengudara untuk pertama kalinya pada 25 Oktober 2007 oleh maskapai Singapore Airlines. 

    Proyek pembuatan A380 adalah proyek pembuatan pesawat penumpang paling ambisius yang pernah ada, sebab pesawat itu superbesar dan supercanggih. “Bersama Airbus, Eropa menorehkan tinta emas sejarah,” kata Noel Forgeard, presiden yang sekarang menjabat sebagai co-Chief Executive Officer Airbus, waktu itu.

    Pesawat A380 ini lebih luas 50 persen dari Boeing 747-400 jumbo jet. Di dalamnya terdapat 12 kamar mewah dengan kursi yang bisa disesuaikan dan sebuah tempat tidur. pesawat ini mampu melaju hingga 0,89 March alias 1.080 kilometer per jam. Tak heran bila harga satu pesawat ini dibanderol US$346,3 juta atau sekitar Rp3 trilun. 
     


     
     
    A380 memang sebuah proyek kebanggaan Eropa. Di balik pembuatan burung raksasa itu, terlibat empat negara Eropa—Prancis, Inggris, Jerman, dan Spanyol—yang tergabung dalam European Aerospace and Defense Company (EADS). Sebagai pemegang 80 persen saham utama di perusahaan ini, keempatnya harus merogoh kocek hingga 10,7 miliar euro atau sekitar Rp 127,33 triliun untuk pengembangan A380.

    Kabinnya yang selebar 7 meter dan sepanjang 70 meter mampu menampung 555 penumpang. Kalau perlu, penumpang bisa ditambah menjadi 840 orang—33 persen lebih banyak dari kapasitas Boeing 747. Menariknya, dengan kapasitas lebih besar, A380 justru 15 persen lebih ringan dibanding 747. Ini berkat 40 persen rangka pesawat yang terbuat dari bahan komposit karbon mutakhir yang lebih ringan.

    Untuk mengurangi bobot pesawat, Airbus juga memindahkan titik keseimbangan (center of gravity) sekitar 6 persen ke belakang. Dengan teknik ini, dapat dihemat ruang sekitar 40 meter persegi di sekitar daerah ekor kemudi naik-turun (horizontal stabilizer).

    Saat ini di dunia hanya ada 52 pesawat A380 yang dimiliki empat maskapai yakni, Singapore Airlines, Emirates, Air France dan Qantas. 

    POERNOMO GR | BERBAGAI SUMBER 

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?