Geger Virus Zika, Ilmuwan: Harus Segera Ada Vaksin  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peneliti kesehatan melakukan penelitian untuk mencegah penyebaran virus Zika dan penyakit yang dibawa nyamuk lainnya di Guatemala, 27 Januari 2016. Virus Zika dapat memicu gejala seperti demam, ruam, dan nyeri sendi, tetapi kebanyakan orang yang terinfeksi oleh gigitan nyamuk tidak menunjukkan gejala. REUTERS/Josue Decavele

    Peneliti kesehatan melakukan penelitian untuk mencegah penyebaran virus Zika dan penyakit yang dibawa nyamuk lainnya di Guatemala, 27 Januari 2016. Virus Zika dapat memicu gejala seperti demam, ruam, dan nyeri sendi, tetapi kebanyakan orang yang terinfeksi oleh gigitan nyamuk tidak menunjukkan gejala. REUTERS/Josue Decavele

    TEMPO.CO, Pittsburgh - Kekhawatiran keberadaan virus Zika semakin tinggi. Ini membuat pemerintah di beberapa negara menyarankan para perempuan tidak hamil sebagai upaya pencegahan penyebaran virus ini. Di lain pihak, para ahli tetap meyakini pengembangan vaksin sebagai cara terbaik melawan virus ini.

    "Hingga saat ini, dunia ilmu pengetahuan masih percaya bahwa vaksinlah cara terbaik memerangi virus Zika," kata Amesh Adalja, spesialis penyakit menular dari Center for Health Security University of Pittsburgh Medical Center, seperti dikutip dari laman Live Science.

    Virus Zika biasanya hanya menyebabkan infeksi ringan, tapi para pejabat khawatir bahwa infeksi pada wanita hamil dapat menyebabkan microcephaly atau kepala mengecil pada anak-anak mereka yang baru lahir. Kondisi tersebut mempengaruhi otak dan perkembangan kognitif anak.

    Virus Zika muncul di Afrika dan Asia. Hanya dalam satu dekade, virus tersebut menyebar ke Amerika Tengah, Amerika Selatan, serta beberapa kepulauan di Karibia dan Pasifik. Karena virus ini sebelumnya tak dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan, akibatnya saat ini belum banyak penelitian terkait dengan Zika. "Tapi bukan berarti vaksin tak bisa ditemukan," ucap Adalja.

    Zika merupakan keluarga dari Flavivirus, yang kerap menyebabkan demam berdarah dengue, demam kuning, dan West Nile. Beruntungnya, ada banyak penelitian tentang Flavivirus ini dan sudah diujicobakan kepada binatang. "Jadi para ilmuwan tak mulai awal agar bisa menemukan vaksin Zika," ujar Adalja.

    Adalja menuturkan langkah pertama yang harus dilakukan para peneliti adalah merancang vaksin yang dapat memicu respons sistem kekebalan tubuh manusia terhadap infeksi Zika. Setelah itu, kata dia, mencari tahu efek samping yang ditimbulkan vaksin serta besaran berapa lama imunitasnya.

    "Meski virus tersebut kemungkinan besar bermutasi, tujuan pengembangan vaksin adalah mencoba agar virus tidak berubah," ucapnya. Nantinya, Adalja menjelaskan, para ilmuwan harus bisa meriset seberapa cepat virus ini bermutasi. Misteri ini bisa terkuak dengan metode sequencing materi genetik dari strain virus yang ada dan membandingkannya dengan urutan strain lain.

    LIVE SCIENCE | AMRI MAHBUB



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.