Temuan Mengejutkan, Nenek Moyang Manusia Berbentuk Cacing?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gambar evolusi manusia, perubahan manusia dari zaman prasejarah hingga zaman modern di Museum Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, 27 Desember 2014. Museum yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO ini memamerkan diorama manusia purbakala dan fosil yang ditemukan di Jawa. TEMPO/Frannoto

    Gambar evolusi manusia, perubahan manusia dari zaman prasejarah hingga zaman modern di Museum Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, 27 Desember 2014. Museum yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO ini memamerkan diorama manusia purbakala dan fosil yang ditemukan di Jawa. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Ontario - Pencarian ilmiah tentang asal usul manusia masih terus berlanjut. Ratusan fosil dari berbagai spesies telah diidentifikasi sebagai nenek moyang manusia modern. Yang paling terakhir adalah penemuan fosil makhluk prasejarah mirip belut di dasar sebuah lapisan batuan di Kanada.

    Fosil yang diperkirakan berusia 505 juta tahun itu merupakan hewan merayap berukuran kecil dan tertua yang pernah ditemukan. Pikaia gracilens diketahui memiliki saraf tulang belakang primitif.

    "Makhluk dengan tubuh sepanjang 5 sentimeter ini merupakan pelopor dari hewan yang beragam, seperti ular, angsa, bahkan manusia," kata para ilmuwan, seperti dilansir The Telegraph beberapa hari lalu.

    Fosil Pikaia gracilens pertama kali ditemukan seratus tahun lalu oleh ahli paleontologi Amerika Serikat, Charles Doolittle Walcott, yang menyebutkan spesies tersebut sebagai pendahulu lintah atau cacing.

    Pikaia merupakan sejenis belut berbentuk pipih. Tubuhnya dibagi menjadi segmen-segmen otot dengan susunan saraf mengalir dari bagian kepala sampai ekor. Ukuran kepalanya kecil, yang dihiasi dua tentakel dan sirip punggung tipis, tapi tidak memiliki mata.

    Para ilmuwan menuturkan hewan ini hidup di sepanjang dasar laut dan bergerak dengan cara menggeliatkan tubuhnya dari satu sisi ke sisi lain.

    Kini para ilmuwan dari Cambridge University dan rekan-rekan mereka di Kanada telah melakukan analisis terhadap 114 spesimen fosil Pikaia gracilens. Mereka mengidentifikasi gumpalan jaringan otot rangka—dikenal sebagai myomere—yang terdapat pada tubuh belut purba tersebut.

    Simon Conway Morris, penulis utama penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Biological Reviews, menyatakan penemuan myomere pada fosil belut purba menjadi hal menakjubkan yang telah lama dicari para ilmuwan.

    "Dengan adanya myomere, saraf tulang belakang, notochord, dan sistem vaskular dapat diidentifikasi. Penelitian ini jelas menempatkan Pikaia sebagai Chordata paling primitif yang ada di bumi," kata Morris antusias.

    Namun rekan Morris, Jean-Bernard Caron, justru menyebut penemuan ini merendahkan umat manusia. "Mengetahui bahwa angsa, ular, beruang, zebra, dan hebatnya, manusia, berbagi semua sejarah yang mendalam dengan makhluk kecil seukuran tidak lebih dari ibu jari tangan saya adalah hal yang merendahkan," ujarnya.

    TELEGRAPH | BIOLOGY REVIEW | AMRI MAHBUB 

    Baca juga:
    Wah, Pakai Baju Seksi, Cita Citata Dianggap Lecehkan Perawat
    TERJAWAB: Misteri Kamar 420 yang Bikin Bingung Tamu Hotel


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.