Keren, ITB Sukses Bikin Ponsel Lokal Berteknologi 4G

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 4G LTE

    4G LTE

    TEMPO.CO, Bandung - Orang Indonesia sudah bisa membikin sendiri telepon seluler bersistem teknologi generasi keempat (4G). Produk buatan tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan perusahaan lokal yang berbasis di Cina ini telah dipakai oleh sebuah operator seluler yang melayani wilayah Jakarta dan sekitarnya.

    "Handphone itu mayoritas software, kita mampu membuatnya," kata Adi Indrayanto, ketua tim dari Pusat Mikroelektronika ITB di Aula Barat ITB, Kamis, 20 November 2014. (Baca: Syarat 4G Bisa Berkembang di Indonesia)

    Pengajar di Teknik Elektro ITB itu mengatakan timnya sudah mengembangkan teknologi 4G sejak 2007 di laboratorium kampus. Adapun riset pembuatan telepon seluler mereka mulai pada 1989 atau sudah berlangsung selama 25 tahun. "Banyak gagalnya memang, baru setahun ini bisa bangun perusahaan," ujar lulusan Teknik Elektro ITB 1988 tersebut.

    Menurut Adi, saat ini tingkat komponen dalam negeri yang dipakai oleh perusahaan mereka baru 30 persen. "Mayoritas komponen produk dari Cina, karena di sini masih sulit didapat," katanya. Adapun lokasi perakitan dan pembuatannya di Batam. Lokasi itu dipilih karena pabrikan di sana sudah beroperasi selama 22 tahun dan bebas pajak. (Baca: Viber Luncurkan Fitur Public Chats)

    Pada tahun kedua, kata Adi, mereka berupaya meningkatkan muatan lokal sebanyak 60 persen. Dia menambahkan, kini ponsel bersistem 3G pelan-pelan akan beralih ke 4G. Sistem baru ini diperkirakan akan berjalan selama 10 tahun sebelum kemudian dilanjutkan 5G. "Pasar ponsel Indonesia cukup untuk membangun industri ponsel dalam negeri," katanya.

    ANWAR SISWADI

    Berita Terpopuler:
    Ruhut: Lawan Jokowi, DPR Gantung Diri
    Kronologi Baku Tembak TNI Vs Polri di Batam
    Bentrok TNI Vs Polri, Satu Tentara Dibawa ke UGD


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.