Tim ITB Jadi Kampiun Kontes Desain Chip di Jepang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustasi Microchips. REUTERS

    Ilustasi Microchips. REUTERS

    TEMPO.CO, Bandung- Tim Ethersound Ganeca dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung menjadi kampiun di kompetisi Large Scale Integration (LSI) ke-18 pada kategori Smart Info Media di University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang. Di babak final, tim ITB tersebut mengalahkan 11 finalis lewat karya desain chip berjudul "Ultrasonic Sensor Based Contactless Theremin Using Pipeline CORDIC as Tone Generator in FPGA".

    Tim mahasiswa STEI ITB itu beranggotakan Bagus Hanindhito, Hafez Hogantara, dan Annisa Istiqomah Arrahmah. Menurut dosen pembimbing tim, Nur Ahmadi, karya inovasi mereka memukau dewan juri. "Di final, mahasiswa S-1 ITB itu mengalahkan tim mahasiswa S-2 dari Chiba University, yang berada di peringkat kedua," katanya lewat surat elektronik kepada Tempo, Sabtu, 14 Maret 2015.

    Theremin merupakan instrumen musik elektronik yang dapat dimainkan tanpa harus disentuh. Instrumen ini, kata Nur, pada dasarnya memanfaatkan dua antena untuk mendeteksi posisi relatif tangan untuk mengendalikan frekuensi dan amplitudo. Tim Ethersound Ganeca mengajukan ide mengganti antena dengan sensor ultrasonik untuk mendeteksi posisi tangan. "Desain tersebut diimplementasikan pada board FPGA, dan dapat bekerja dengan baik," katanya.

    Tim Sangkuriang, finalis lain dari STEI ITB, berhasil meraih penghargaan Fighting Spirit Award atas karya mereka yang berjudul "Design and Implementation of CORDIC Algorithm in All-Digital FM Modulator-Demodulator". Tim yang terdiri atas Antonius Perdana Renardy, Ashbir Aviat Fadila, dan Naufal Shidqi ini berhasil membuat sistem FM (frequency modulation) digital berbasis CORDIC.

    FM adalah proses pengubahan frekuensi suatu gelombang pembawa sehingga mampu membawa suatu informasi. FM ini banyak digunakan dalam penyiaran musik atau suara, sistem radio dua arah, radar, dan lain-lain. Dalam presentasinya, tim Sangkuriang mendemokan karya dengan mengirimkan suatu musik dan menerima kembali musik yang sama melalui papan FPGA.

    LSI Design Contest merupakan kontes desain chip tahunan yang diselenggarakan University of the Ryukyus, Jepang. Pesertanya berasal dari tim mahasiswa universitas di Asia. Tantangan dalam lomba tahun ini, kata Nur, adalah bagaimana mendesain perangkat keras (hardware) untuk perhitungan fungsi trigonometrik dan membuat aplikasinya.

    Dari 80 lebih desain yang masuk, terpilih 12 tim yang melaju ke babak final. Indonesia mengirimkan dua tim dari ITB, begitu juga Vietnam. Sisanya berasal dari Jepang. Dewan juri kompetisi ini adalah para professor dari University of the Ryukyus, Tokyo University, Osaka University, dan perwakilan sejumlah perusahaan, seperti Synopsys, Gigafirm, dan Electronic Device Industry News. Juara pertama dipilih berdasarkan kriteria Academic Excellence, Industrial Applicable, dan New Innovation, serta berhak mendapat penghargaan dari jurnal ternama Jepang, IEICE.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Tata Tertib Penonton Debat Capres 2019, KPU Siapkan Kipas

    Begini beberapa rincian yang perlu diperhatikan selama debat Capres berlangsung pada Kamis, 17 Januari 2019. Penonton akan disediakan kipas oleh KPU.