Rabu, 18 Juli 2018

Peneliti UI Temukan Metode Deteksi Dini Kanker Paru

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peneliti Biomedik Universitas Indonesia Achmad Hudoyo menemukan metode deteksi dini kanker paru-paru dengan hembusam napas  10 Januari 2018. TEMPO/Irsyan

    Peneliti Biomedik Universitas Indonesia Achmad Hudoyo menemukan metode deteksi dini kanker paru-paru dengan hembusam napas 10 Januari 2018. TEMPO/Irsyan

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti biomedik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Achmad Hudoyo, menciptakan sebuah inovasi deteksi dini kanker paru menggunakan balon karet. Ia mendapatkan inspirasi dari penelitian tentang kemampuan anjing dalam melacak keberadaan kanker paru di dalam tubuh seseorang.

    Menurut Achmad, anjing pelacak yang sudah terlatih dapat membedakan napas pasien yang menderita kanker paru dan yang tidak dengan keakuratan mencapai 93 persen. "Ini mengindikasikan bahwa ada suatu zat tertentu yang hanya terdapat pada napas para penderita kanker paru," ujarnya dalam presentasi disertasinya, Rabu, 10 Januari 2018, di Auditorium IMERI FKUI, Salemba.

    Achmad mengembangkan sebuah deteksi dini dengan cara "memerangkap" napas dan embusan pasien terduga kanker paru ke dalam sebuah balon karet. Balon ini kemudian didinginkan dalam lemari es atau direndam dalam air es agar napas dan embusan di dalam balon karet mengalami pendinginan.

    Baca: Imunoterapi, Alternatif Pengobatan Kanker Paru-paru

    Tahap berikutnya, napas dan embusan disemprotkan ke media kertas saring khusus untuk menyimpan DNA. Media inilah yang akan dikirim ke laboratorium biomolekular untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait dengan vonis kanker paru.

    Metode ini, tutur Achmad, memiliki keunggulan karena menggunakan alat yang sederhana dan murah, yaitu balon karet, yang dapat dengan mudah ditemukan di Indonesia. "Tingkat keakuratan metode ini juga di atas 70 persen," tuturnya.

    Baca: Kanker Paru? Ini Mitos dan Faktanya

    Menurut laporan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, pada 2015, dari 668 kasus keganasan rongga torak yang tercatat, 75 persen di antaranya kasus kanker paru. Selain itu, angka kelangsungan hidup kanker paru rendah.

    Tercatat, hanya 15 persen penderita pasien kanker paru yang bisa bertahan hidup sampai lima tahun. Angka ini jauh lebih rendah dibanding angka tahan hidup kanker kolon (kanker usus besar) sebesar 61 persen, kanker payudara (86 persen), dan kanker prostat (96 persen).

    Achmad berharap metode yang ia temukan ini dapat meningkatkan harapan hidup para penderita kanker paru dengan cara mendeteksi dini kanker paru sedini mungkin. "Saya juga ingin membantu para penderita pasien paru di daerah-daerah yang belum terjangkau pelayanan kesehatan," tuturnya.

    Baca: Ini Syarat Terhindar dari Kanker Paru

    Simak artikel menarik lain tentang kanker paru hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Musim Berburu Begal Saat Asian Games 2018 di Jakarta

    Demi keamanan Asian Games 2018, Kepolisian Daerah Metro Jaya menggelar operasi besar-besaran dengan target utama penjahat jalanan dan para residivis.