Jumat, 14 Desember 2018

Ambisi NASA Menyambangi Matahari

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • NASA meluncurkan misi menyentuh matahari dengan Parker Solar Probe pada awal Agustus. Kredit: Johns Hopkins APL/Steve Gribben/NASA/Space

    NASA meluncurkan misi menyentuh matahari dengan Parker Solar Probe pada awal Agustus. Kredit: Johns Hopkins APL/Steve Gribben/NASA/Space

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) baru-baru ini berhasil meluncurkan wahana Parker Solar Probe menuju matahari. Ini jelas sebuah proyek yang ambisius: melihat matahari lebih dekat lagi.

    Baca juga: Kamera NASA Tangkap Meteor Sangat Terang di Atas Alabama

    Inilah instrumen pertama yang bakal menyambangi sang mentari. Sebelumnya, sejak eksplorasi antariksa dimulai enam dekade lalu, manusia sudah mengirim berbagai wahana nirawak ke sejumlah planet dan obyek lain di tata surya. Bahkan wahana nirawak New Horizons sudah melewati Pluto dan mendekati ujung tata surya. Namun hingga saat ini matahari lebih banyak dipelajari dari bumi.

    Sulit untuk mengirim wahana mendekati matahari karena tingginya hawa panas dan radiasi yang dilepaskan bintang itu. Teleskop Hubble, mengorbit 570 kilometer di atas bumi dan digunakan untuk memantau bintang-bintang jauh, dirancang untuk membelakangi matahari demi melindungi lensa dan instrumennya yang sensitif. Kelak, salah satu agenda besar perjalanan wahana Parker adalah memecahkan teka-teki, yakni kenapa bagian atmosfer matahari jauh lebih panas ketimbang permukaan bintang itu.

    Baca juga: Mayoritas Warga Rusia Tak Percaya NASA Mendarat di Bulan

    Roket NASA Parker Solar Probe Delta IV-Heavy saat diluncurkan di Cape Canaveral, Florida, 12 Agustus 2018. Roket luar angkasa ini akan menjalani misi pertama NASA untuk menyentuh matahari. NASA/Bill Ingalls/Handout via REUTERS

    Selama ini para ahli masih dilanda penasaran ihwal korona yang muncul dari bagian fotosfer. Temperatur fotosfer, bagian permukaan matahari yang tampak dari bumi, mencapai 6.000 derajat Celsius. Sedangkan korona, selubung berwarna putih yang hanya tampak saat terjadi gerhana matahari, suhunya bisa jutaan derajat Celsius lebih panas daripada fotosfer.

    "Mengapa korona bisa begitu panas adalah misteri tua yang sulit dipecahkan," kata David H. Brooks, ilmuwan dari George Mason University. "Fenomena itu mirip seperti api yang melesat dari sebuah batu es."

    Hasil riset tim gabungan dari University College London, Inggris, serta George Mason University dan Naval Research University, Amerika Serikat, dalam jurnal Nature Communications menunjukkan aktivitas medan magnet mempengaruhi komposisi elemen, termasuk besi, di atmosfer matahari. Kondisi ini diduga berdampak besar pada pemanasan korona.

    Baca juga: Mau Lihat 18 Ribu Asteroid di Dekat Bumi? Simak Animasi NASA Ini

    Selanjutnya: Komponen matahari mengalami perubahan...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komitmen Antikorupsi Partai Politik Diragukan

    Partai-partai mengklaim berkomitmen antikorupsi melawan korupsi setelah para petingginya ditangkap KPK. Berikut empat di antaranya....