Tempo Jadi Mitra Media Facebook untuk Program Cek Fakta

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo facebook. REUTERS/Philippe Wojazer/File Photo

    Logo facebook. REUTERS/Philippe Wojazer/File Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Facebook mengumumkan menambah mitra media untuk program cek fakta  (third-party fact-checking) di Indonesia. Tiga media tersebut adalah Liputan6.com, Tempo, dan Mafindo setelah sebelumnya menggandeng Tirto.id dan AFP.

    Baca: Cara Melihat Foto dan Video Palsu dalam Facebook
    Baca: Begini Cara Kerja Fact-Checking Foto dan Video di Facebook
    Baca: Facebook Kembangkan Fact-Checking untuk Foto dan Video

    "Kami menyambut baik bergabungnya Liputan6.com, Tempo, dan Mafindo dalam program third-party-fact-checking untuk membantu kami melakukan verifikasi berita yang telah dilaporkan oleh komunitas kami di Indonesia," ujar News Partnership Lead for Facebook Indonesia Alice Budisatrijo, dalam keterangan tertulis, Selasa, 18 September 2018.

    Ketiga mitra tersebut telah mendapatkan sertifikasi dari jaringan Internasional Pemeriksa Fakta yang independen. Mereka akan meninjau berita yang ada di Facebook, memeriksa fakta, dan menilai akurasi konten berita tersebut.

    Ketika fact-checker menilai sebuah berita mengandung misinformasi, Facebook akan menurunkan visibilitas berita tersebut di kabar berita untuk mengurangi penyebarannya secara signifikan. Cara ini dapat menghentikan penyebaran berita palsu dan mengurangi jumlah orang yang melihat berita tersebut.

    "Kami berkomitmen untuk mengurangi penyebaran berita palsu di Facebook, terutama menjelang Pemilihan Umum 2019. Salah satu upaya yang kami lakukan adalah memperluas jaringan kemitraan kami," kata Alice.

    Dengan begitu, halaman dan domain yang berulang kali menyebarkan berita palsu juga akan mengalami penurunan distribusi dan kehilangan kemampuan untuk beriklan maupun monetisasi. Akhirnya penyebaran berita palsu dengan motif ekonomi bisa dikurangi.

    Berdasarkan pengalaman Facebook sebelumnya, kata Alice, ketika sebuah berita ditandai sebagai berita palsu, Facebook bisa mengurangi penyebarannya hingga 80 persen. "Hingga saat ini, sebagian besar mitra fact-checking lebih fokus pada kegiatan meninjau artikel pada platform kami," ujarnya.

    "Namun, kami menyadari bahwa misinformasi tersebar dalam berbagai format, bukan hanya dalam bentuk artikel. Setiap hari, orang membagikan jutaan foto dan video di Facebook," tambah dia. "Dan kami tahu bahwa ini terjadi karena konten visual seperti foto dan video lebih menarik untuk dibagikan."

    Minggu lalu, Facebook baru saja memberikan kemampuan bagi fact checkers untuk meninjau foto dan video agar bisa lebih mudah mengidentifikasi dan mengambil tindakan lebih lanjut terhadap berbagai tipe misinformasi.

    Bagi pelaku kejahatan, berbagi foto dan video juga menjadi peluang baru dalam melakukan manipulasi untuk tujuan misinformasi. Menurut riset yang melibatkan orang dari berbagai penjuru dunia, Facebook menemukan bahwa berita palsu tersebar dalam berbagai tipe dan berbeda dari satu negara ke negara lain.

    "Kami sadar bahwa hal ini akan menjadi komitmen jangka panjang, karena taktik yang digunakan oleh pelaku kejahatan selalu berubah. Kami pun juga berinvestasi dalam hal kemitraan, alat, dan teknologi. Ini kami lakukan agar bisa lebih maju dalam menangani tipe baru dari misinformasi," tambah Alice.

    Simak artikel lainnya tentang program cek fakta Facebook di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jaksa Pinangki Ditahan, Diduga Terima Rp 7,4 Miliar dari Djoko Tjandra

    Kejaksaan Agung menetapkan Jaksa Pinangki sebagai tersangka dalam perkara dugaan gratifikasi. Ia dikabarkan menerima Rp 7,4 Miliar dari Djoko Tjandra.