Sabtu, 17 November 2018

Gempa Pandeglang Tidak Berdampak ke Gunung Anak Krakatau

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gempa 30 Oktober 2018 di Selat Sunda. Kredit: BMKG

    Gempa 30 Oktober 2018 di Selat Sunda. Kredit: BMKG

    TEMPO.CO, Bandung - Gempa Pandeglang dinyatakan tidak berdampak pada aktivitas Gunung Anak Krakatau. "Info dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, hingga saat ini tidak ada perubahan aktivitas gunung," kata Akhmad Solikhin, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gempa Bumi Wilayah Barat Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rabu, 31 Oktober 2018.

    Baca: Penyebab Gempa Pandeglang 5,2 M di Selat Sunda

    Menurutnya, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih pada Level II (Waspada). Kondisinya sama seperti saat sebelum Gempa Pandeglang yang episentrumnya berada di wilayah Selat Sunda.

    Gempa tektonik berkekuatan magnitude 5,0 muncul dari Selat Sunda, Selasa, 30 Oktober 2018, pukul 04.19 WIB. Lindu mengguncang wilayah Pandeglang, hingga terasa melemah sampai Ciputat, Tangerang Selatan. Gempa itu tidak mencetuskan tsunami.

    Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) mencatat, titik sumber gempa (episenter) terletak pada koordinat 6,97 LS dan 104,92 BT. "Tepatnya berada di laut pada jarak 126 kilometer arah barat daya Kota Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten," kata Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono lewat keterangan tertulis, Selasa, 30 Oktober 2018.

    Besaran gempa yang diperbarui menjadi M=5,0 itu (semula M 5,2) berasal dari kedalaman 65 kilometer. Gempa yang terjadi merupakan jenis gempa kedalaman menengah. "Penyebab gempa adalah aktivitas lempeng Indo-Australia yang tersubduksi (menunjam) ke bawah lempeng Eurasia," kata Daryono.

    Menurut Kristianto, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung api wilayah barat, dari hasil pemantauan visual tidak terlihat perubahan yang signifikan setelah gempa Pandeglang. Hasil pemantauan kegempaan rekaman gempa-gempa permukaan seperti letusan dan hembusan juga tidak menunjukkan peningkatan. "Sedangkan untuk gempa vulkanik yang dangkal dalam dua hari ini cukup tinggi yakni 47 dan 52 kejadian per hari," ujarnya.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.