Ini Alasan PVMBG Larang Dekati Gunung Anak Krakatau Radius 5 Km

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, 22 Desember 2018. Instagram.com

    Erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, 22 Desember 2018. Instagram.com

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Wawan Irawan, mengatakan pelebaran daerah bahaya Gunung Anak Krakatau menjadi 5 kilometer dengan naiknya status aktivitas gunung tersebut menjadi Siaga (Level III) karena karakater letusan gunung sudah berbeda.

    Baca: PVMBG: Jauhi Gunung Anak Krakatau Hingga Radius 5 Kilometer

    “Pertimbangannya karena letusannya sudah berubah, tidak strombolian lagi. Dikhawatirkan adanya letusan hidrovulkanik (letusan akibat kontak magma dengan air),” kata dia saat dihubungi Tempo, Kamis, 26 Desember 2018. 

    Wawan mengatakan, karakter letusan Gunung Anak Krakatau kini sudah berubah menjadi letusan Surtseyan, yakni karakter letusan yang terjadi akibat kontak magma dengan air.

    “Dikhawatirkan terjadi aktivitas di bawah, adanya kontak antara magma dengan air laut.  Tapi indikasi ke sana belum ada, belum terpantau. Ini kewaspadaan saja,” kata dia. 

    Wawan mengatakan, PVMBG masih berupaya menambah peralatan pemantau Gunung Anak Krakatau. Penambahan alat tersebut sekaligus untuk mengganti peralatan yang dipasang di pulau Gunung Anak Krakatau yang rusak saat letusan gunung tersebut pada 22 Desember 2018.

    Tim yang dikirim PVMBG belum bisa mendekati Gunung Anak Krakatau akibat cuaca yang belum mendukung, serta masih tingginya aktivitas erupsi gunung tersebut. “Rencana menambah alat terkendala cuaca,” kata Wawan.

    Wawan mengatakan, peralatan seismik yang memantau aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau tersisa di Pulau Sertung. Data yang terekam di peralatan tersebut dikirim ke Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Banten.

    Wawan menambahkan, kejadian tsunami akibat runtuhnya tubuh Gunung Anak Krakatau masih berpotensi berulang. “Dengan kejadian kemarin, masih harus diwaspadai. Kita tidak tahu kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau. Kalau dari citra satelit, sudah hilang sebagian,” kata dia.

    PVMBG juga masih mencoba mengamati langsung fisik tubuh Gunung Anak Krakatau. “Kami tidak tahu apakah morfologinya, masih ada ketinggiannya, atau sudah rendah, harus dilihat lagi. Kami belum bisa tentukan secara fisik,” kata dia.  

    Dari citra satelit, tubuh gunung tersebut separuhnya hilang. Petugas dari Pos Pengamat Gunung Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, Lampung, sempat melaporkan puncak gunung hilang. “Petugas di Lampung, di Pos Kalianda sempat melihat, tapi masih ragu, puncak gunungnya hilang. Ada kemungkinan bagian yang ikut longsor,” kata Wawan.

    Pelaksana Tugas Kepala PVMBG,  Antonius Ratdomopurbo mengatakan, letusan tipe Surtseyan teramati sejak tanggal 22 Desember 2018. "Hal ini berarti bahwa debit volume magma yang dikeluarkan meningkat dan lubang kawah membesar, kemungkinan terdapat lubang kawah baru yang dekat dengan ketinggian air," kata dia, Kamis, 27 Desember 2018.

    Pada tangga 22 Desember 2018 tersebut terjadi longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau. Diawali pukul 07.00 WIB rekaman seismik gunung tersebut menunjukkan terjadinya letusan menerus tanpa jeda.

    Pada pukul 20.55 WIB terjadi gempa yang diperkirakan berasal dari kompleks Krakatau yang tercatat dalam skala kecil di stasiun seismik Pulau Sertung dan Gunung Gede, Cianjur. Pukul 21.03 peralatan seismik PVMBG yang dipasang di Pulau Gunung Anak Krakatau mati yang diduga akibat terkena letusan gunung tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.