Sinyal Radio Misterius dari Jarak 1,5 Miliar Tahun Cahaya, Alien?

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sinyal radio dari galaksi sejauh 1,5 miliar tahun cahaya dipercaya sebagian ahli berasal dari teknologi alien. Kredit: OzGrave, Swinburne University of Technology

    Sinyal radio dari galaksi sejauh 1,5 miliar tahun cahaya dipercaya sebagian ahli berasal dari teknologi alien. Kredit: OzGrave, Swinburne University of Technology

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdebatan asal semburan energi misterius berulang dari jarak miliaran tahun cahaya telah mencuat, dengan sebagian ahli percaya asalnya dari teknologi alien. Semburan itu telah terdeteksi untuk kedua kalinya, sebagaimana dilaporkan Daily Mail, 9 Januari 2019.

    Baca: Penganut Teori Konspirasi: Alien Hidup di Merkurius

    Ledakan radio cepat atau FRB itu adalah emisi radio yang muncul sementara dan acak. Hal itu membuatnya tidak hanya sulit ditemukan, tetapi juga sulit dipelajari.

    Sinyal terbaru terdeteksi mencapai Bumi dari galaksi sejauh 1,5 miliar tahun cahaya. Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa mereka diciptakan oleh benda kuat di luar angkasa.

    Para ahli telah memperdebatkan apakah lubang hitam atau bintang neutron super padat sebagai sumbernya, tetapi ahli yang lain menyebutkan teori yang lebih aneh.

    Di antara mereka adalah Profesor Avid Loeb, dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian di AS, yang percaya bahwa sinyal itu bisa menjadi bukti teknologi alien yang sangat canggih.

    FRB pertama kali terdeteksi secara tidak sengaja pada 2007, ketika sebuah sinyal ledakan terlihat dalam data astronomi radio yang dikumpulkan pada 2001.

    Penemuan baru itu, yang dilaporkan dalam jurnal Nature, dibuat oleh tim astronom yang dipimpin seorang Kanada.

    Selama periode tiga minggu musim panas lalu, tim mendeteksi 13 kilatan itu menggunakan teleskop radio tipe baru, Canadian Hydrogen Intensity Mapping Experiment (Chime). 

    Mereka menemukan bahwa salah satu FRB berulang. Dari 60 lebih FRB yang terdeteksi hingga saat ini, semburan berulang tersebut hanya terdeteksi sekali sebelumnya, oleh teleskop radio Arecibo di Puerto Rico pada 2015.

    Dari mana FRB itu berasal tidak diketahui, meskipun mereka diperkirakan berasal dari sumber miliaran tahun cahaya di luar galaksi kita, Bima Sakti.

    Ahli astrofisika Chime, Dr Ingrid Stairs, dari University of British Columbia, Kanada, mengatakan sampai saat ini, hanya ada satu yang dikenal mengulangi FRB.

    “Mengetahui bahwa ada yang lain menunjukkan bahwa mungkin ada lebih banyak di luar sana. Dan dengan lebih banyak pengulang dan lebih banyak sumber yang tersedia untuk dipelajari, kita mungkin dapat memahami teka-teki kosmik ini - dari mana mereka berasal dan apa yang menyebabkannya," tambahnya.

    Sebagian besar dari 13 FRB menunjukkan tanda-tanda 'hamburan' yang menunjukkan sumber mereka bisa menjadi obyek astrofisika yang kuat di lokasi dengan karakteristik khusus, kata para ilmuwan.

    Anggota tim, Dr Cherry Ng, dari University of Toronto, Kanada, mengatakan: "Itu bisa berarti dalam semacam rumpun yang padat seperti sisa supernova (bintang yang meledak). Atau dekat lubang hitam pusat di galaksi. Tetapi harus di suatu tempat khusus untuk memberi kita semua hamburan yang dapat kita lihat."'

    FRB baru itu juga berada pada frekuensi radio yang sangat rendah. Kebanyakan FRB yang terdeteksi sebelumnya memiliki frekuensi sekitar 1.400 megahertz (MHz), tetapi yang baru ini berada dalam kisaran di bawah 800 MHz.

    Pada 2017 Profesor Loeb dan kolega Harvard, Manasvi Lingham, menyebutkan bahwa FRB bisa bocor dari pemancar alien seukuran planet. Tidak dirancang untuk komunikasi, mereka lebih cenderung digunakan untuk mendorong pesawat ruang angkasa raksasa yang ditenagai oleh layar ringan.

    DAILY MAIL | MASHABLE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.