Microsoft dan Paus Bahas Kecerdasan Buatan

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paus Fransiskus memimpin misa di hadapan sekitar 130 ribu orang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Selasa, 5 Februari 2019. [VATICAN NEWS]

    Paus Fransiskus memimpin misa di hadapan sekitar 130 ribu orang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Selasa, 5 Februari 2019. [VATICAN NEWS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Microsoft Brad Smith menggelar pertemuan dengan Paus Fransiskus, Rabu, 13 Februari 2018, untuk membahas etika penggunaan kecerdasan buatan.

    Baca juga: Hadapi Amazon dan Microsoft, Google Investasikan USD 13 Miliar

    Kedua tokoh tersebut juga membahas cara untuk menjembatani kesenjangan digital antara negara-negara kaya dan miskin.

    Direktur perusahaan teknologi ternama dan pemimpin Katolik Roma berusia 81 tahun tersebut menggelar pembicaraan selama sekitar 30 menit di kediaman Sri Paus.

    Paus Fransiskus sebelumnya pernah melontarkan pernyataan bahwa dia adalah orang yang gaptek (gagap teknologi).

    Keduanya membahas "kecerdasan buatan untuk tujuan kebaikan bersama serta berbagai aktivitas yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan digital yang masih terjadi di tingkat global," kata pernyataan Vatikan.

    Smith, 60 tahun, dalam wawancara dengan harian Vatikan L'Osservatore Romano mengatakan bahwa "etika kuat dan peraturan baru yang berkembang" dibutuhkan agar kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan tidak jatuh ke tangan yang jahat.

    Vatikan mengatakan bahwa Akademi Kepausan untuk Pendidikan akan bergabung bersama Microsoft guna menjadi sponsor hadiah desertasi doktor terbaik 2019 mengenai tema "Kecerdasan buatan untuk melayani kehidupan manusia." Akademi Kepausan untuk Pendidikan adalah lembaga pedidikan yang berfokus pada etika kehidupan yang dianut Gereja Katolik.

    Antara | Reuters


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menurut WHO, Kanker Membunuh 8 Juta Orang Selama 2018

    Menurut WHO, kanker menjadi pembunuh nomor wahid. Penyakit yang disebabkan faktor genetis dan gaya hidup buruk itu membunuh 8 juta orang selama 2018.