Mikrofon Laut Deteksi Lokasi Jatuh Malaysia Airlines MH370

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Blaine Gibson memegang puing yang diyakini berasal dari MH370.[The West]

    Blaine Gibson memegang puing yang diyakini berasal dari MH370.[The West]

    TEMPO.CO, Jakarta - Sudah lima tahun berlalu, pesawat Malaysia Airlines MH370 menghilang tanpa jejak, dengan 239 penumpang. Pencarian puing yang dipusatkan di perairan Samudera Hindia menjadi upaya pencarian terbesar dan termahal sepanjang sejarah, namun tidak membuahkan hasil.

    Baca: Puing yang Ditemukan di Madagaskar Diyakini Berasal dari MH370
    Baca: Pakar Penerbangan Klaim MH370 Terbakar di Udara Sebelum Jatuh

    Keterangan dari tim pencari mengatakan, lokasi jatuh Malaysia Airlines 370 terjadi pada ribuan mil dari lokasi pencarian berdasarkan rekaman suara yang memuat suara penumpang ketika hilang pada tanggal 8 Maret 2014, sebagaimana dilaporkan Live Science, 26 Februari 2019.

    Hasil penelitian yang diterbitkan tanggal 29 Januari di jaringan jurnal terbuka Scientific Reports oleh matematikawan Usama Kadri menyatakan mikrofon bawah laut di Samudera Hindia telah merekam empat suara khusus gelombang yang berbeda, berdasarkan gelombang gravitasi sangat rendah, pada saat itu penerbangan 370 telah menghantam laut.

    Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa suara tersebut relatif dekat dengan area pencarian, tapi dua sumber lainnya ribuan mil jauhnya, sebagian di Samudera Hindia utara, dan sebagian lainnya di antara Madagaskar dan Kepulauan karang Diego Garcia di kepulauan Chagos, kata  Kadri kepada Science Daily.

    Penyidik menduga bahwa pesawat tersebut jatuh di sekitar Samudera Hindia, namun setelah menghilang dari radar sipil dan militer di Semenanjung Malaysia barat, hasilnya tidak diketahui.

    Kapten pesawat, Zaharie Ahmad Shah, telah memesan bahan bakar yang cukup untuk penerbangan dari Kuala Lumpur, Malaysia menuju Beijing, Tiongkok, yang akan ditempuh selama tujuh jam dan 30 menit.

    Kadri dan tim dari Universitas Cardiff, UK, dan Memorial of Newfound University Canada, menganalisa suara bawah laut tersebut melalui jaringan mikrofon bawah laut (hidrofon), yang dipakai juga oleh Comprehensive Niclear-Test Ban Treaty Organization (CTBTO) untuk menguji tes nuklir tak berizin.

    Alat tersebut memiliki bantalan, kekerasan suara, dan frekuensi di laut yang bisa memperkirakan lokasi suara berasal.

    Akan tetapi, alat tersebut didesain untuk mendeteksi gelombang nuklir bawah laut, yang terkoneksi dengan udara, serta gelombang tremor nuklir di darat, sehingga kapabilitasnya diragukan sebagai pencari puing pesawat dikarenakan sensitivitasnya.

    Untuk penelusuran pola gelombang yang dipancarkan dari hasil obyek yang menabrak laut, Kadri dan timya menggunakan beban yang mempengaruhi tangki air tahun 2017.

    Mereka menyimpulkan bahwa ketika obyek raksasa seperti pesawat yang menghantam laut, akan menghasilkan beberapa gelombang suara, termasuk pola suara paling rendah Accoustic Ground Waves (AGW) gelombang akustik dasar, yang bisa dipancarkan ribuan mil melalui laut.

    Penelitian Kadri menyimpulkan, bahwa gelombang yang dihasilkan adalah 5 hertz, diyakini memengaruhi palung laut di beberapa lokasi. Hasil ini membuktikan bahwa, empat suara yang dideteksi peneliti di Samudera Hindia dimungkinkan sebagai sumber suara.

    Setelah ditemukannya dua sumber tersebut oleh hidrofon CTBTO, di Cape Leeuwin, Australia, dan dua suara lain dari Diego Garcia dimungkinkan cocok dengan suara pesawat yang menghantam laut. Keduanya diindikasikan terjadi di sekitar barat laut Madagaskar−ribuan mil dari lokasi ditemukannya puing tersebut

    Laut merupakan area yang sangat berisik, dan menurut Kadiri, gelombang suara tersebut bisa jadi bersumber dari gempa maupun erupsi bawah laut, atau bahkan meteor dan sampah luar angkasa yang jatuh ke laut. Bagaimanapun juga, itu merupakan sinyal valid dari suara tabrakan MH370, Kadiri menambahkan.

    LIVE SCIENCE| PANJI MOULANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.