Kapsul Luar Angkasa Tak Berawak SpaceX Menuju Orbit

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Roket SpaceX Falcon Heavy diluncurkan dari landasan peluncuran bersejarah 39-A di Kennedy Space Center, Florida, A.S., 6 Februari 2018. Roket yang diklaim paling kuat di dunia, meluncur ke luar angkasa  pada uji penerbangan debutnya. REUTERS/Thom Baur

    Roket SpaceX Falcon Heavy diluncurkan dari landasan peluncuran bersejarah 39-A di Kennedy Space Center, Florida, A.S., 6 Februari 2018. Roket yang diklaim paling kuat di dunia, meluncur ke luar angkasa pada uji penerbangan debutnya. REUTERS/Thom Baur

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapsul luar angkasa awak tak berawak SpaceX berhasil menuju ke orbit setelah roket pelontar terlepas dari kapsul, Sabtu, 2 Maret 2019. Keberhasilan ini dinilai sebagai tonggak sejarah baru SpaceX untuk memulai kembali proyek pesawat luar angkasa manusia akhir tahun ini.

    Baca: SpaceX Elon Musk Kirim Penumpang Misterius ke Bulan

    Kapsul Crew Dragon SpaceX setinggi 16 kaki atau sekitar 4,9 meter, di atas roket Falcon 9, lepas landas dari Pusat Antariksa Kennedy Florida Sabtu pagi dan membawa boneka uji yang dijuluki Ripley.
    Kapsul itu berhasil lepas dari roket sekitar 11 menit kemudian setelah diluncurkan. Hal ini memicu sorakan di ruang kontrol, dan memulai perjalanannya ke stasiun ruang angkasa.

    “Saya hampir berpikir kami akan gagal. Saya pikir mungkin kami memiliki peluang 10 persen untuk mencapai orbit mulai," kata pemilik SpaceX, Elon Musk seperti dilansir Reuters, Sabtu. "Saya sedikit lelah secara emosional karena itu sangat menegangkan, tetapi berhasil," katanya kepada wartawan setelah peluncuran.

    Tiga awak anggota stasiun ruang angkasa itu diperkirakan akan bersiap menyambut kapsul itu. Kapsul tersebut membawa 181 kg persediaan logistik dan alat uji. Selama tinggal selama lima hari di stasiun ruang angkasa nanti, astronot A. Anne Annelain dan astronot Kanada David Saint-Jacques akan melakukan tes dan memeriksa kabin Crew Dragon.

    NASA telah memberikan SpaceX dan Boeing Co dana melimpah sejumlah US$6,8 miliar untuk membangun sistem roket dan kapsul untuk meluncurkan astronot ke orbit dari tanah Amerika untuk pertama kalinya sejak pesawat ulang-alik AS pensiun pada 2011.

    Sistem peluncuran ini bertujuan untuk mengakhiri ketergantungan AS pada roket Rusia untuk naik ke laboratorium penelitian orbital senilai US$100 miliar, yang terbang sekitar 250 mil atau sekitar 400 km di atas Bumi, sekitar US$ 80 juta per tiket.

    Sementara misi uji SpaceX hari Sabtu adalah langkah penting dalam proyek yang sering ditunda. Meski begitu publik masih menyimpan pertanyaan tentang apakah NASA dapat mencapai tujuan penerbangan berawak pada 2019.

    Reuters melaporkan pada 21 Februari SpaceX dan Boeing harus menangani masalah desain dan keselamatan yang signifikan sebelum mereka dapat menerbangkan manusia.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anwar Usman dan 8 Hakim Sidang MK dalam Gugatan Kubu Prabowo

    Mahkamah Konstitusi telah menunjuk Anwar Usman beserta 8 orang hakim untuk menangani sengketa pemilihan presiden 2019.