Metode Baru Diet: Suntikkan Butiran Mikroskopis ke Arteri Perut

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi diet. shutterstock.com

    Ilustrasi diet. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ini bisa jadi kabar gembira bagi penderita obesitas. Sebuah penelitian di Amerika Serikat, menemukan metode baru diet atau penurunan berat badan dengan cara menyuntikkan butiran mikroskopis ke dalam pembuluh arteri lambung.

    Dalam studi tersebut, seseorang yang menerima suntikan "manik-manik" yang disebut "embolisasi bariatrik" kehilangan sekitar 11 persen dari kelebihan berat badan mereka, atau rata-rata 7,6 kilogram setelah satu tahun.

    Diet  dengan Jalan Kaki? Ini Durasi yang Tepat

    Namun, ini masih penelitian kecil karena hanya melibatkan 20 orang. Perlu lebih banyak penelitian untuk mengkonfirmasi keselamatan dan efektivitas prosedur, kata para peneliti.  

    Namun, "ini adalah langkah maju yang baik," untuk metode yang dikembangkan selama dekade terakhir, kata peneliti Dr. Clifford Weiss, seorang profesor radiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore dalam publikasi penelitian ini, Selasa, 2 April 2019,  di jurnal Radiology.

    Untuk prosedur ini, dokter pertama-tama menggunakan kateter melalui arteri di pergelangan tangan atau selangkangan ke perut.

    Kemudian, mereka menyuntikkan manik-manik mikroskopis ke dalam kateter, yang berjalan sepanjang kateter dan sebagian menyumbat arteri yang memasok darah ke perut.

    Ini, pada gilirannya, dianggap menekan produksi hormon yang merangsang rasa lapar, sehingga mengurangi nafsu makan, kata para peneliti.

    Prosedur ini bertujuan untuk mengubah metabolisme seseorang dengan cara mirip operasi penurunan berat badan, juga dikenal sebagai operasi bariatrik. Tetapi embolisasi bariatrik kurang invasif dibanding operasi bariatrik, dan dibutuhkan waktu lebih sedikit bagi pasien untuk pulih, kata para peneliti.

    Dalam studi tersebut, 20 peserta dianggap "sangat gemuk," dengan berat rata-rata lebih dari 139 kg dan indeks massa tubuh (BMI) 45. Rata-rata, peserta kelebihan berat badan 68 kg.

    Pada bulan pertama, para peserta kehilangan rata-rata sekitar 8 persen dari kelebihan berat badan mereka (jumlah berat di atas berat ideal mereka) dan melaporkan pengurangan rasa lapar.

    Setelah bulan pertama, laporan kelaparan mereka meningkat tetapi masih kurang dari sebelum prosedur.

    Setelah 12 bulan, partisipan telah kehilangan, rata-rata 11,5 persen dari kelebihan berat badan mereka dan melaporkan peningkatan kualitas hidup mereka.

    Tidak ada komplikasi serius yang terkait dengan prosedur ini. Bahkan delapan peserta yang tadinya menderita tukak lambung, bisa sembuh setelah tiga bulan.

    Perawatan obesitas?

    David Cummings, seorang ahli endokrinologi dan profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Washington, mengatakan tidak jelas apakah penurunan berat badan pada peserta disebabkan oleh efek plasebo - yang dihasilkan dari keyakinan seseorang bahwa pengobatannya bekerja, atau efek fisiologis dari perawatan.

    "Siapa pun yang terdaftar dalam uji coba (penurunan berat badan) biasanya kehilangan sedikit berat badan," terlepas dari apakah mereka menerima pengobatan nyata atau plasebo, kata Cummings, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.  

    Cummings mencatat bahwa meskipun peserta studi kehilangan sekitar 11 persen dari kelebihan berat badan mereka, penurunan berat badan secara keseluruhan hanya sekitar 5 persen, yang menurut dia "tepat pada tingkat yang Anda harapkan dari efek plasebo."

    Penelitian ini perlu ditingkatkan menjadi "percobaan yang lebih definitif dengan pembanding kelompok plasebo," kata Cummings kepada Live Science.

    Scott Cunneen, direktur Bedah Bariatrik di Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles, mengatakan metode itu tampak menjanjikan, "tetapi Anda membutuhkan lebih banyak orang (dalam sebuah penelitian) sebelum Anda benar-benar tahu bahwa itu aman."

    Satu masalah keamanan yang potensial adalah bahwa metode ini mengurangi aliran darah terlalu banyak, yang dapat menyebabkan perforasi dan bocornya perut, kata Cunneen, meskipun ini tidak dilaporkan dalam penelitian saat ini.

    Penting untuk dicatat bahwa embolisasi bariatrik tidak menyebabkan penurunan berat badan sebanyak operasi bariatrik, yang terkait dengan penurunan berat badan lebih dari 30 persen.

    Tetapi penurunan berat badan yang terlihat dalam penelitian ini "dalam kisaran yang orang umumnya dapat capai dengan obat," kata Cunneen.

    Para peneliti menekankan bahwa embolisasi bariatrik tidak dimaksudkan untuk menggantikan operasi bariatrik. Sebaliknya, itu dapat digunakan sebagai suplemen untuk perubahan pola makan dan gaya hidup guna membantu mengobati obesitas, kata mereka.

    Cummings menambahkan bahwa akan menarik untuk melihat apakah prosedur ini mengurangi kadar ghrelin, hormon yang merangsang nafsu makan, dan jika demikian, berapa lama efeknya berlangsung.

    Tingkat ghrelin turun secara signifikan setelah operasi bariatrik. Para peneliti berencana untuk melaporkan perubahan hormonal akibat diet dengan metode ini dalam studi terpisah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?