UU Sisnas Iptek, AIPI Sayangkan Ketentuan Pidana Peneliti Asing

Reporter

Editor

Erwin Prima

Seorang peneliti melakukan penelitian Poly Chlorinated Biphenyls (PCB) yang merupakan bahan kimia yang sangat berbahaya bagi tubuh dari sebuah tumbuhan di Laboratorium PCB pertama di Indonesia milik BPPT yang baru diresmikan di PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Kamis 10 Januari 2019. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu isu krusial Undang-Undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU Sisnas Iptek) yang telah disetujui pada Selasa, 16 Juli 2019, adalah tentang adanya sanksi administratif atau ketentuan pidana bagi peneliti, termasuk peneliti asing. Isu ini menjadi pro dan kontra di masyarakat, terutama bagi peneliti.

Menurut UU itu, setiap orang asing yang melakukan penelitian tanpa izin yang sah dapat menghadapi denda Rp 4 miliar dan dilarang mengajukan permohonan izin selama lima tahun.

Jika peneliti menyebabkan kerusakan pada benda-benda yang tidak ternilai atau membahayakan atau menyebabkan kematian orang-orang yang terlibat dalam penelitian, mereka akan dikenakan dakwaan pidana dengan hukuman penjara antara dua dan tujuh tahun dan denda antara Rp 3 miliar hingga Rp 7 miliar.

Undang-undang itu juga menyatakan bahwa siapa pun yang melakukan penelitian berisiko tinggi atau berbahaya harus mendapatkan izin dari pemerintah atau mereka bisa dikenai hukuman penjara satu tahun dan denda Rp 2 miliar.

Undang-undang juga membebankan tuntutan pidana kepada peneliti asing yang mencuri sampel keanekaragaman hayati dengan hukuman penjara dua tahun dan denda Rp 2 miliar.

Chairil Abdini, Sekjen Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), menyayangkan sanksi pidana tersebut. “Ketentuan pidana yang dimuat dalam RUU Sisnas Iptek sangat disayangkan di tengah upaya Indonesia yang saat ini baru mulai membuka ristekdikti bagi talenta/peneliti, dosen maupun mahasiswa asing untuk berkolaborasi dengan peneliti Indonesia,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 17 Juli 2019.

Menurutnya, pendidikan tinggi dan riset di Indonesia dibanding negara tetangga Singapura dan Malaysia relatif tertutup. Pendidikan tinggi dan riset di Singapura dan Malaysia membuka kesempatan bagi talenta dari berbagai negara untuk mengajar, belajar dan melakukan riset di kedua negara tersebut termasuk bagi dosen, mahasiswa dan peneliti dari Indonesia.

“Sedikitnya ketentuan pidana ini melemahkan peneliti asing untuk melakukan riset di Indonesia atau menimbulkan kesan Indonesia menutup diri bagi peneliti asing dan juga terkesan membatasi kebebasan akademis,” ujarnya.

Selain itu, kata Chairil, ketentuan pidana yang dimuat di dalam UU Sisnas Iptek tersebut pada dasarnya tidak diperlukan karena sudah diatur di berbagai peraturan perundang-undangan lainnya, seperti KUHP dan Undang Undang tentang Keanekaragaman Hayati, Undang-Undang Keimigrasian, sehingga itu merupakan perulangan.

“Bisa dibayangkan jika UU Penanaman Modal juga memuat ketentuan pidana. Hampir dipastikan investor asing akan pilih negara lain untuk berinvestasi. Begitu pula UU Sisnas Iptek ini kita berharap peneliti asing datang dan berkolaborasi dengan peneliti kita, tapi dibayang-bayangi ancaman pidana,” ujarnya.






Peneliti Pertanian Muda dari BRIN Dapat Penghargaan di Jepang

4 hari lalu

Peneliti Pertanian Muda dari BRIN Dapat Penghargaan di Jepang

Selain Amanda, dua peneliti muda dari Madagaskar dan Meksiko juga mendapat penghargaan yang sama. Terima hadiah uang tunai sebesar US$5.000.


Kerja Sama dengan Kampus Rusia, Peneliti BRIN Bisa Studi S-3 Nuklir Berbasis Riset

5 hari lalu

Kerja Sama dengan Kampus Rusia, Peneliti BRIN Bisa Studi S-3 Nuklir Berbasis Riset

Untuk tahun ini, sebanyak enam peneliti BRIN terpilih sebagai mahasiswa kampus Tomsk Polytechnic University (TPU) Rusia.


Teliti Daging Buatan dari Limbah Kedelai, Dosen UGM Raih Penghargaan Young Scientist Award

12 hari lalu

Teliti Daging Buatan dari Limbah Kedelai, Dosen UGM Raih Penghargaan Young Scientist Award

Penghargaan kepada dosen UGM ini diberikan pada 21th World Congress of Food Science and Technology 2022 di Singapura.


Peneliti: Hujan Deras Dampak Siklon Tropis 94S Mengarah ke Jawa

12 hari lalu

Peneliti: Hujan Deras Dampak Siklon Tropis 94S Mengarah ke Jawa

Bibit siklon 94S ini juga membangkitkan pembentukan hujan dalam formasi memanjang atau disebut badai squall line, baik di laut maupun di darat.


Peneliti Ungkap Terlalu Banyak Olahraga Memperpendek Usia

14 hari lalu

Peneliti Ungkap Terlalu Banyak Olahraga Memperpendek Usia

Demi mendapatkan bentuk tubuh ideal seseorang sering kali rela melakukan olahraga dengan porsi ekstrim. Padahal menurut penelitian, terlalu banyak olahraga berisiko memperpendek usia.


Peneliti UGM Diganjar Habibie Prize Berkat Teliti Bone Graft

17 hari lalu

Peneliti UGM Diganjar Habibie Prize Berkat Teliti Bone Graft

Ika dari UGM menerima Habibie Prize bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi. Karyanya yaitu CHA Bone Graft dan CHA-based Hemostatic Sponge.


Peneliti Ungkap Aktivitas Menonton Video Kucing Bisa Tingkatkan Energi Positif

26 hari lalu

Peneliti Ungkap Aktivitas Menonton Video Kucing Bisa Tingkatkan Energi Positif

Kebiasaan menonton video kucing secara online ternyata bisa memberikan rasa kepuasan tersendiri. Berikut ini penjelasan lengkapnya.


12 Dosen dan Peneliti UI Masuk Daftar Top 2 % Ilmuwan Terbaik di Dunia

27 hari lalu

12 Dosen dan Peneliti UI Masuk Daftar Top 2 % Ilmuwan Terbaik di Dunia

Sebanyak 12 dosen dan peneliti dari Universitas Indonesia (UI) masuk dalam World's Top 2% Scientists 2022


Dari Nganjuk ke Texas, Kiprah Zainal Jadi Dosen dan Peneliti di Amerika

32 hari lalu

Dari Nganjuk ke Texas, Kiprah Zainal Jadi Dosen dan Peneliti di Amerika

Zainal, jebolan ITB kini berkiprah di Amerika dan menjadi salah satu pengajar di University of Texas, di San Antonio, Amerika Serikat.


BRIN Kukuhkan Empat Peneliti Sebagai Profesor Riset

32 hari lalu

BRIN Kukuhkan Empat Peneliti Sebagai Profesor Riset

Pengukuhan itu menjadi momentum penting sebagai wujud peran aktif BRIN di bidang riset dan inovasi.