Hutan Amazon Terbakar, Ini 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor ular berjalan di hutan Amazon yang terbakar, di Porto Velho, Brasil, 24 Agustus 2019. Laporan Badan Luar Angkasa Brasil, INPE mencatat tahun ini menjadi rekor kebakaran terparah dengan 72.843 titik api. REUTERS/Ueslei Marcelino

    Seekor ular berjalan di hutan Amazon yang terbakar, di Porto Velho, Brasil, 24 Agustus 2019. Laporan Badan Luar Angkasa Brasil, INPE mencatat tahun ini menjadi rekor kebakaran terparah dengan 72.843 titik api. REUTERS/Ueslei Marcelino

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebakaran di hutan hujan Amazon, Brasil, telah mencatat rekor terbaru, dengan lebih dari 2.500 kasus kebakaran terjadi. Kebakaran itu secara kolektif memancarkan sejumlah besar karbon dengan kepulan asap terlihat ribuan kilometer jauhnya.

    Kebakaran tersebut meningkat 85 persen pada 2019, dengan lebih dari setengahnya di wilayah Amazon, menurut badan antariksa Brasil, sebagaimana dikutip laman The Conversation, akhir pekan lalu.

    Peningkatan ini kemungkinan disebabkan degradasi lahan: pembukaan lahan dan pertanian mengurangi ketersediaan air, menghangatkan tanah dan meningkatkan kekeringan, sehingga membuat api muncul dan ganas.

    Namun, ada beberapa hal yang perlu diketahui atas kebakaran besar itu, berikut detailnya:

    1. Mengapa Amazon terbakar

    Meningkatnya jumlah kasus kebakaran adalah hasil dari pembukaan hutan ilegal untuk menciptakan lahan pertanian. Kebakaran dilakukan dengan sengaja dan menyebar dengan mudah di musim kemarau, demikian dilansir laman Phys.

    Keinginan untuk lahan baru untuk peternakan sapi telah menjadi pendorong utama deforestasi di Amazon Brasil sejak 1970-an. Ironisnya, petani mungkin tidak perlu membuka lahan baru untuk menggembalakan ternak.

    Penelitian telah menemukan sejumlah besar padang rumput yang saat ini mengalami degradasi dan tidak produktif yang dapat menawarkan peluang baru bagi ternak. Perkembangan teknis baru juga menawarkan kemungkinan mengubah peternakan sapi menjadi peternakan yang lebih kompak dan produktif, menawarkan hasil dengan mengonsumsi lebih sedikit sumber daya alam.

    2. Mengapa dunia harus peduli


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.