Hutan Amazon Terbakar, Hasilkan Emisi Gas Seperti Bom Waktu

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pandangan udara dari kebakaran hutan Amazon di wilayah adat negara bagian Mato Grosso, di Brasil, 23 Agustus 2019. Kebakaran hutan Amazon pada 2019 telah menyentuh rekor tertinggi sejak 2013 dan meningkat 83 persen dibanding tahun lalu. Marizilda Cruppe/Amnesty International/Handout via REUTERS

    Pandangan udara dari kebakaran hutan Amazon di wilayah adat negara bagian Mato Grosso, di Brasil, 23 Agustus 2019. Kebakaran hutan Amazon pada 2019 telah menyentuh rekor tertinggi sejak 2013 dan meningkat 83 persen dibanding tahun lalu. Marizilda Cruppe/Amnesty International/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Para ilmuwan memperingatkan tentang runtuhnya sistem kaskade, di mana hutan hujan Amazon mulai sepenuhnya hancur. 

    Kebakaran hebat yang melanda Amazon membuat kawasan ini melepaskan jumlah karbon yang bisa menghancurkan Bumi seperti bom waktu.

    Selama 50 tahun terakhir, sekitar 20 persen hutan hujan Amazon telah dibakar atau ditebang, menurut The Intercept. Ketika api berkobar dan eksploitasi dilanjutkan, 20 persen lainnya, yaitu 776 ribu km persegi bisa segera hilang.

    Kebakaran di hutan hujan Amazon ini terus terjadi sebagai akibat dari praktik deforestasi tebang dan bakar, yang mendekati titik tidak bisa kembali. Hutan hujan Amazon dulunya merupakan penyerap karbon utama, artinya tempat menyimpan karbon yang sangat besar agar tidak memasuki dan memanaskan atmosfer.

    Namun, The Intercept melaporkan bahwa hutan hujan telah dihancurkan deforestasi ke titik di mana hutan yang tersisa tidak cukup lagi untuk menahan jumlah karbon minimal.

    Jika lebih banyak dipotong atau dibakar, emisi gas rumah kaca yang dihasilkan akan setara dengan bom hari kiamat. Akibatnya, tidak hanya akan menyebabkan hancurnya sisa hutan, tapi berpotensi juga terhadap lingkungan di seluruh planet ini.

    "Proyeknya untuk Amazon adalah agribisnis," ujar Francisco Umanari, seorang kepala suku asli Apura kepada The Intercept tentang kebijakan berbahaya Presiden Brasil, Bolsonoro. "Kecuali dia dihentikan, dia akan melindas hak-hak kita dan membiarkan invasi raksasa di hutan. Perampasan tanah bukanlah hal baru, tapi itu menjadi pertanyaan hidup dan mati."

    THE INTERCEPT | FUTURISM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.