Batan dan Lapan Tunggu Putusan Pindah ke Ibu Kota Baru

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial kawasan Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu, 28 Agustus 2019. Sepaku dan Samboja, Kutai Kartanegara akan menjadi lokasi ibu kota negara baru Indonesia. ANTARA

    Foto aerial kawasan Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu, 28 Agustus 2019. Sepaku dan Samboja, Kutai Kartanegara akan menjadi lokasi ibu kota negara baru Indonesia. ANTARA

    TEMPO.CO, Musi Rawas -Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akan mengikuti keputusan pemerintah jika harus pindah ke ibu kota baru di Kalimantan Timur.

    "Batan ya nunggu kalau disuruh pemerintah (pindah), pindah aja kita," kata Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan kepada wartawan usai panen raya padi varietas kahayan dan tropiko ciptaan Batan di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Rabu, 4 September 2019.

    Anhar menuturkan hingga saat ini Batan belum diberikan arahan untuk pindah ke ibu kota baru. Batan akan menunggu instruksi dari pemerintah.

    Menurut Anhar, jika memang diperlukan untuk pindah maka Batan harus pindah ke ibu kota baru.

    Demikian pula, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin menuturkan akan mengikuti keputusan pemerintah jika Lapan diminta pindah ke ibu kota baru.

    "Lapan akan mengikuti keputusan Pemerintah yang saat ini belum ditentukan aturannya," ujar Thomas saat dihubungi ANTARA.

    Namun, hingga saat ini Thomas mengaku belum ada arahan untuk Lapan pindah ke ibu kota baru.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah resmi memilih Provinsi Kalimantan Timur sebagai ibu kota baru negara Indonesia, yang meliputi sebagian daerah di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.

    Pemerintah punya beberapa alasan dalam rencana pemindahan, antara lain karena krisis ketersediaan air di Pulau Jawa dan konversi lahan terbesar juga terjadi di sana.

    Selain itu, tingginya urbanisasi terkonsentrasi di Jakarta dan Jabodetabek, kemacetan dan kualitas udara tidak sehat serta rawan banjir tahunan hingga turunnya tanah dan muka air laut naik, juga menjadi salah satu pertimbangan pindah ke ibu kota baru.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.