BMKG: Gempa Pacitan Kamis Malam Bukti Sesar Grindulu Masih Aktif

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pola kelurusan struktur sesar di Kabupaten Pacitan berdasarkan Kajian Tektonik Aktif Pada Patahan Grindulu untuk Mendukung Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Gerakan Tanah di Wilayah Pacitan. (LIPI)

    Pola kelurusan struktur sesar di Kabupaten Pacitan berdasarkan Kajian Tektonik Aktif Pada Patahan Grindulu untuk Mendukung Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Gerakan Tanah di Wilayah Pacitan. (LIPI)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Gempa magnitudo 3,1 di Kabupaten Pacitan dan sekitarnya Kamis malam, 7 November 2019, membuktikan bahwa Sesar Grindulu masih aktif.

    "Melihat lokasi episenternya diduga kuat bahwa pembangkit gempa ini adalah Sesar Grindulu. Sesar ini terbentuk pada zaman kwarter yang berorientasi timur laut-barat daya," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat.

    Mekanisme sumber gempa ini adalah sesar geser (strike slip) dengan arah timur laut-barat daya. Ini sesuai dengan karakteristik Sesar Grindulu yang memang merupakan sesar geser.

    Dalam beberapa literatur hasil kajian, jalur Sesar Grindulu melintasi lima kecamatan, yakni Kecamatan Bandar, Nawangan, Unung, Arjosari, serta Donorojo.

    Sesar mayor sendiri memiliki sesar-sesar minor yang tersebar di beberapa Kecamatan di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Beberapa ahli menduga Sesar Grindulu yang membelah Kabupaten Pacitan ini strukturnya mencapai lereng Gunung Wilis di Kabupaten Ponorogo.

    Hasil monitoring BMKG hingga Jumat (8/11) pukul 08.00 WIB belum ada aktivitas gempa susulan. Selain itu belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa tersebut.

    Meskipun gempa tidak terlalu berdampak, tetapi gempa dengan pusat di daratan Pacitan menjadi bukti penanda bahwa struktur Sesar Grindulu masih aktif sehingga patut untuk diwaspadai.

    "Sayangnya, seluruh jalur sesar ini belum dipetakan secara rinci, sehingga dengan kejadian gempa tadi malam tampaknya  penting menjadi momen untuk melakukan identifikasi Sesar Grindulu secara lebih komprehensif," katanya.

    Jika perlu ada kajian sejarah kegempaan purba (paleoseismologi) yang terekam dalam lapisan batuan yang berusia ribuan tahun sepanjang Sungai Grindulu yang dapat membantu memberikan petunjuk mengungkap periodisitas gempa kuat yang pernah terjadi dipicu struktur sesar ini pada masa lalu.

    Kajian perlu dilakukan agar tidak terjadi lagi seperti Sesar Opak di Yogyakarta yang ternyata aktif kembali memicu peristiwa gempa besar pada 27 Mei 2006.

    Wilayah Kabupaten Pacitan memang termasuk salah satu kawasan paling rawan gempa tektonik di Jawa Timur. Pacitan masuk kategori risiko tinggi karena berhadapan dengan zona Megathrust selatan Jawa dan juga terletak di jalur Sesar Grindulu. "Sehingga penting dilakukan kajian bahaya dan risiko gempa di wilayah tersebut, ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.