Dua Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer UI Dikukuhkan

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prof. Dr. Achmad Nizar Hidayanto, S.Kom, M.Kom dan Prof. Yudho Giri Sucahyo, M.Kom, Ph.D, dikukuhkan menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer di Balai Sidang UI, Kampus Depok, Rabu 20 November 2019. TEMPO/Ade Ridwan

    Prof. Dr. Achmad Nizar Hidayanto, S.Kom, M.Kom dan Prof. Yudho Giri Sucahyo, M.Kom, Ph.D, dikukuhkan menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer di Balai Sidang UI, Kampus Depok, Rabu 20 November 2019. TEMPO/Ade Ridwan

    TEMPO.CO, Depok – Prof. Dr. Achmad Nizar Hidayanto, S.Kom, M.Kom dan Prof. Yudho Giri Sucahyo, M.Kom, Ph.D, resmi dilantik menjadi guru besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Rabu, 20 November 2019.

    Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Achmad menyampaikan pidato berjudul “Peran User Research dalam Pengembangan Perangkat Lunak untuk Kesuksesan Perusahaan Rintisan (Startup) Digital” yang berfokus pada perspektif konsumen/pengguna perusahaan rintisan.

    “Sebuah perangkat lunak pada akhirnya akan dipakai oleh pengguna, sehingga pemenuhan terhadap kebutuhan pengguna menjadi hal penting yang harus diperhatikan,” kata Achamd dalam pidatonya, di Balai Sidang UI Kampus Depok, Rabu 20 November 2019

    Untuk itu, lanjut Achmad, sebelum perusahaan-perusahaan rintisan digital mengembangkan produknya, ada baiknya mereka melakukan user research terlebih dahulu, sehingga kebutuhan, lingkungan sosial dan budaya, serta faktor psikologi dari para penggunanya bisa dianalisis dengan baik.

    “Dengan menjalankan user research, perusahaan dapat mengembangkan desain yang relevan untuk user, mudah digunakan dan menyenangkan penggunanya, serta memahami potensi Return on Investment (ROI),” kata Achmad.

    Achmad mengatakan, saat ini banyak perusahaan rintisan digital di Indonesia yang tidak menggunakan user research dalam pengembangan produk mereka. “Padahal peran user research ini memiliki peran yang sangat penting,” kata Achmad.

    Dia juga merekomendasikan bagi perusahaan rintisan digital perlu menginvestasikan timnya terkait user experience (UX) sebelum produk digitalnya diluncurkan kepada para konsumen.

    “UX yang baik dari produk digital tersebut diharapkan bisa memberikan pengalaman pertama yang positif kepada para konsumen, sehingga mereka mau mengadopsi dan loyal terhadap produk digital dari perusahaan rintisan digital tersebut,” kata Achmad.

    Achmad juga menyampaikan bahwa profesi user researchers dan UX researchers merupakan profesi masa depan, mengingat kebutuhan yang semakin besar. “Hasil survei dari LinkedIn (sosial media khusus profesional) juga menempatkan human-centered design sebagai top three skills yang dibutuhkan di Asia Pacific,” kata Achmad.

    Sementara itu, Prof. Yudho menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Refleksi Dua Windu Pengembangan e-Government di Indonesia” yang menekankan pada sejumlah catatan penting di dalam penerapan e-Government di Indonesia.

    Hal itu di antaranya implementasi Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government; Pembentukan Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi di Tahun 2001; Pembentukan Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional yang menetapkan tujuh program unggulan TIK (flagship program) yaitu National Single Window (NSW), e-Pendidikan, Palapa Ring, Software Legal, e-Procurement, e-Anggaran, dan Nomor Identitas Nasional.

    “Program flagship telah dikembangkan dan dimanfaatkan dengan baik dalam melayani masyarakat namun pada kenyataannya belum tercipta integrasi informasi menuju sinergi pemanfaatan e-government,” kata Yudho.

    Akibatnya, kata Yudho, keputusan pembangunan yang diambil dapat menjadi tidak tepat sasaran karena informasi yang tidak tepat waktu atau tidak akurat. “Disintegrasi informasi juga menyebabkan duplikasi pekerjaan, duplikasi data, dan duplikasi sistem yang mengakibatkan inefisiensi sumber daya TI,” kata Yudho.

    ADE RIDWAN YANDWIPUTRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.