Fenomena Gerhana Matahari dan Asteroid, Ini Kata Peneliti LAPAN

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah orang menguji kacamata surya khusus mereka sebelum gerhana matahari total di La Silla European Southern Observatory (ESO) di Coquimbo, Cile, Selasa, 2 Juli 2019. Gerhana matahari total hanya dapat diamati di Cile dan Argentina. REUTERS/Rodrigo Garrido

    Sejumlah orang menguji kacamata surya khusus mereka sebelum gerhana matahari total di La Silla European Southern Observatory (ESO) di Coquimbo, Cile, Selasa, 2 Juli 2019. Gerhana matahari total hanya dapat diamati di Cile dan Argentina. REUTERS/Rodrigo Garrido

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua fenomena astronomi terjadi hari ini, Kamis, 26 Desember 2019 yaitu sebuah asteroid raksasa yang meluncur mendekati Bumi dan Gerhana Matahari Cincin. Menurut Peneliti Pusat Ilmu Antariksa LAPAN Rhorom Priyatikanto, keduanya tidak saling berkaitan.

    “Kedua peristiwa tidak saling berkaitan. Hanya kebetulan saja ada asteroid yang lewat dekat Bumi pada tanggal tersebut,” ujar Rhorom kepada Tempo melalui pesan pendek, hari ini.

    Sebuah asteroid raksasa akan mendekati Bumi pada 26 Desember 2019, sehari setelah Natal. Pelacak asteroid NASA di Center for Near Earth Object Studies (CNEOS) memperkirakan ukuran batuan angkasa itu antara 280 meter hingga 620 meter.

    Asteroid yang dijuluki CH59 itu meluncur ke arah Bumi dengan kecepatan lebih dari 44 ribu kilometer per jam. Dengan kecepatan tinggi, asteroid itu akan mendekati Bumi pada pagi 26 Desember. Jika dilihat dari ukurannya, CH59 sebanding dengan Menara Canton Cina dan Menara Sears di Chicago, Amerika Serikat. Bandingkan dengan Monas yang setinggi 132 meter.

    Namun jarak terdekat lintasan asteroid ini ke Bumi sebenarnya tidak bisa dikatakan dekat juga. Menurut NASA, titik terdekat Asteroid CH59 dengan Bumi sekitar 0,04874 unit astronomi (au). Satu unit astronomi adalah jarak dari planet kita ke Matahari atau sekitar 149,6 juta km. Artinya Asteroid CH59 akan melintas dalam jarak 7,29 juta km dari Bumi.

    “Orbit asteroid atau komet memang terpengaruh oleh gravitasi planet, terutama planet besar seperti Jupiter dan Saturnus. Gravitasi Bumi dan Bulan juga perlu diperhitungkan dalam simulasi dan prediksi orbit asteroid atau komet yang mendekat,” tutur Rhorom.

    Sementara Gerhana Matahari Cincin juga terjadi pada 26 Desember 2019. Namun fenomena langit yang spesial itu tidak bisa disaksikan dari semua wilayah di Indonesia.

    Sisa piringan matahari yang berpendar kemudian seolah membentuk cincin di langit. Kota-kota yang akan dilintasi gerhana matahari cincin itu adalah Siak, Sibolga, Padang Sidempuan, Duri, Tanjung Balai Karimun, Batam, Tanjung Pinang. Kemudian Singkawang, Pemangkat, Sambas, Entikong, Tanjung Selor, dan Derawan.

    “(Tapi) kalau ada planet Besar yang lewat dekat Bumi, bisa saja akan mengubah orbit Bulan dan mengacaukan pola gerhana yang akan datang,” kata Rhorom. “Kalau yang melintas hanya asteroid, tidak ada dampaknya pada durasi atau pola gerhana yang terjadi atau yang akan terjadi.”

    Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan mengamati bersama publik di empat lokasi jalur Gerhana Matahari Cincin yang terjadi hari ini, Kamis, 26 Desember 2019. Tempatnya di Lottu dan Pandan (Sumatera Utara), Batam (Kepulauan Riau) dan Singkawang (Kalimantan Barat).

    Gerhana Matahari Cincin akan berlangsung di sebagian Sumatera dan Kalimantan. Waktu puncak Gerhana Matahari Cincin paling awal di Sabang, Aceh pukul 11.55 WIB dan berakhir di Tanjung Redeb, Kalimantan Timur pukul 14.10 WITA,” demikian keterangan Kedeputian Bidang Geofisika BMKG, Rabu, 25 Desember 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.